<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lab. Menulis Mailindra &#187; tips menulis</title>
	<atom:link href="http://mailindra.cerbung.com/tag/tips-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mailindra.cerbung.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Nov 2009 05:29:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Writer&#8217;s Block: Kunci Kontak</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 12:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[writer's block]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[<p>Writer&#8217;s Block atau kebuntuan saat menulis merupakan salah satu penyakit yang ditakuti oleh penulis.
Akibat dari sindrom ini jelas: Tidak ada hal yang bisa ditulis.
Kalo dibiarkan lama, minat bahkan kemampuan menulis bisa menurun bahkan hilang.</p>
<p></p>
<p>Seingatku aku pernah ngalamain sindrom ini selama dua bulan, dan selama itu, tidak ada yang aku tulis. Kemudian ada lomba kecil-kecilan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Writer&#8217;s Block atau kebuntuan saat menulis merupakan salah satu penyakit yang ditakuti oleh penulis.<br />
Akibat dari sindrom ini jelas: Tidak ada hal yang bisa ditulis.<br />
Kalo dibiarkan lama, minat bahkan kemampuan menulis bisa menurun bahkan hilang.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Seingatku aku pernah ngalamain sindrom ini selama dua bulan, dan selama itu, tidak ada yang aku tulis. Kemudian ada lomba kecil-kecilan yang diadakan temen dan aku pengen ikutan. Saat mencoba menulis aku terkejut tidak ada ide yang bisa keluar dan kalo dipaksain, kata-kata yang keluar jadi aneh dan tersendat-sendat. Akhirnya aku nyerah dan tidak ikutan lomba itu. Sedih? iya, tapi yang lebih menakutkan lagi, aku menyadari bakal kehilangan minat dan kemampuan menulisku.</p>
<p>Kalo dicari di internet, ada banyak tips untuk keluar dari penyakit ini, mulai dari istrahat, tidur, mandi, kerjakan aktivitas lain, dan lain sebagainya.<br />
Tapi ada juga yang menyarankan, meski terkena sindrom ini, disarankan untuk tetap menulis. Biasanya tips ini langsung diserbu sanggahan, wong ngga tau apa yang mau ditulis, eh malah disuruh nulis. Tips yang aneh <img src='http://mailindra.cerbung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .<br />
Tapi tips ini bener, biar dilanda Writer&#8217;s Block, tetep harus nulis. Masalahnya bagaimana dan apa yang mau ditulis kalo lagi buntu.</p>
<p>Aku menemukan tips yang kudapat dari mentorku di bengkel penulisan DKJ ditambah beberapa dari internet.</p>
<p>Tips-tips ini berguna kalo kita pengen membuat cerita tapi tidak tahu mau menulis tentang apa.<br />
1. Ambil tiga kata secara acak. Bisa yang kamu ingat, atau kebetulan lihat, lalu buat cerita yang MENGANDUNG ketiga kata itu. Tips ini dicobain di kelas, dan hasilnya bener-bener di luar dugaan.<br />
Kami disodorkan tiga kata: Peri, Cinta, Merah Jambu dan diberikan waktu sekitar lima menit untuk membuat cerita yang mengandung tiga kata itu. Meski tidak banyak yang kutulis dalam lima menit, aku bisa membuat adegan awal yang mengandung tiga kata itu. Lalu di rumah diminta untuk mengembangkannya menjadi satu cerita. Aku ikuti. Dalam waktu kurang dari satu jam aku bisa tuliskan cerita ini :</p>
<blockquote><p>
                                           <strong>Peri Cinta</strong><br />
Peri cinta, dengan wajah tertunduk, membuat langkah­langkah panjang menyusuri lorong<br />
Istana Langit. Ia melangkah begitu cepat hingga mengabaikan hormat yang diberikan oleh<br />
para penjaga. Saat telah mencapai gerbang singgasana, ia berhenti sesaat untuk menarik<br />
nafas.<br />
                “Hadapkan aku kepada Kaisar,” ucapnya kepada kepala penjaga.<br />
Kepala penjaga melemparkan tatapan aneh kepadanya. Saat ia membuka mulutnya, peri<br />
cinta mengangkat tangan kanannya, “ Lakukan saja, segera! Ini darurat.”<br />
Kepala penjaga menutup kembali mulutnya—mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia sadar<br />
sesuatu yang sangat penting pasti telah terjadi karena tidak setiap hari peri cinta<br />
menunjukkan wajah pucat dan ketakutan. Peri cinta biasanya selalu tersenyum hangat,<br />
menyebarkan perasaan damai dan bahagia kepada yang melihatnya. Namun hal itu tidak<br />
terjadi hari ini.<br />
                “Tunggu sebentar,” kata kepala penjaga yang lalu masuk ke ruang singgasana.<br />
Ketika kembali, ia mempersilahkan sang peri untuk langsung menghadap kaisar.<br />
                “Kau tampak tak biasa hari ini, ada apa?” tanya kaisar saat sang peri selesai<br />
                memberi hormat.<br />
                “Gawat Paduka, telur cinta &#8230; ,” katanya.<br />
Ia berhenti sesaat dan terlihat ragu menyelesaikan kalimatnya. Jeda itu memang hanya<br />
sekejap, namun dalam waktu yang sangat singkat itu kegundahan sang peri menyebar dan<br />
menyengat begitu kuat.<br />
Kaisar menatap tajam. Ia menahan diri—memberi kesempatan kepada peri cinta untuk<br />
menyelesaikan kalimatnya. Namun, tanpa bisa ditahannya, kegundahan sang peri perlahan<br />
menyengatnya.<br />
                “&#8230;Telur cinta Paduka,” ulang sang peri, ”Telur cinta telah berubah menjadi<br />
                hitam.”<br />
Deg!<br />
Mata kaisar sedikit membesar dan tubuhnya menegang. Ia tahu ini pertanda buruk. Telur<br />
cinta seharusnya berwarna merah jambu dan telah berabad­abad lamanya telur itu selalu<br />
berwarna merah jambu—menandakan cinta dan kebencian berada dalam keseimbangan.<br />
Hitam seperti halnya putih adalah dua kutub ekstrim yang hampir mustahil untuk tercapai.<br />
Saat telur cinta berwarna putih, telur itu memberi tahu bahwa seluruh manusia sedang diliputi<br />
cinta dan kasih sayang. Tiada lagi rasa benci di hati mereka. Sebaliknya hitam, memberi tahu<br />
para penghuni langit bahwa kebencian sedang merajai manusia.<br />
Mungkinkah telur itu salah? Pikir kaisar. Tapi selama berabad­abad telur itu tidak pernah<br />
salah?<br />
Ada setitik keraguan di ujung pikiran kaisar tentang keakuratan telur cinta, karena sebenarnya<br />
telur itu hanya memantau satu miliar sampel di dunia. Namun selama berabad­abad telur itu<br />
tidak pernah salah. Hanya kaisar dan peri cinta yang tahu manusia­manusia yang menjadi<br />
sampel, jadi mustahil dalam waktu yang bersamaan seluruh sampel dihinggapi kebencian.<br />
                “Apakah telah hitam sempurna,” akhirnya kaisar bersuara setelah lama diam.<br />
                “Belum Paduka. Namun perkiraanku hanya tinggal beberapa ribu sampel saja<br />
                yang belum tertulari rasa benci.”<br />
                Gawat, pikir kaisar. Saat dunia tidak dalam keseimbangan maka kehidupan di<br />
                langit juga akan demikian. Ia harus segera bertindak.<br />
­o0o­<br />
Dalam murung, peri cinta berjalan perlahan menyusuri lorong istananya. Setelah berbelok ke<br />
kiri, ia akhirnya sampai di ruang kerjanya. Peri cinta berhenti dan menatap sosok berjubah<br />
gelap yang berdiri lima meter di depannya. Sosok itu berwajah keras dengan jubah hitam<br />
terbuat dari logam metrinol. Pedang panjang terselip di pinggang kirinya, memperkuat citra<br />
gagahnya. Seharusnya sosok itu tidak disini. Istana ini bukan tempatnya.<br />
                “Ares,” katanya.<br />
Ares, sang dewa kebencian melangkah mantap ke arahnya. Matanya menatap lurus ke arah<br />
peri cinta dengan ekspresi sedingin malam.<br />
              “Apakah dia telah mengetahuinya?” tanya Ares tanpa melepaskan<br />
              pandangannya.<br />
Sang peri mengangguk lemah, menunduk, mencoba menghindar dari tatapan Ares. Guratan<br />
kesedihan tergambar jelas di wajah peri cantik itu. Bagaimana tidak, selama berabad­abad<br />
dia berhasil menebarkan cinta ke penjuru dunia, hingga pengaruhnya dan pengaruh<br />
kebencian selalu berada dalam keseimbangan. Namun kini keadaan telah berubah. Sang peri<br />
tak yakin bagaimana harus bersikap.<br />
Ares semakin mendekat.<br />
Peri cinta mengangkat wajahnya dan matanya yang bulat dan indah menatap lekat Ares. Ia<br />
adalah peri yang selalu menebarkan cinta dan kebahagian ke penjuru dunia. Dihadapannya<br />
berdiri dewa kebencian yang menjadi sisi lain dari keseimbangan dunia. Mereka berada pada<br />
dua sisi yang berseberangan. Mereka seharusnya tidak berada disini, di tempat yang sama.<br />
Ares akhirnya berada tepat dihadapan peri cantik itu.<br />
Tatapannya menghujam langsung ke dalam mata sang peri. Mata mereka beradu. Tak ada<br />
kata yang terucap saat itu, namun mereka bisa saling mendengar perdebatan sengit batin<br />
mereka. Saat Ares mengangkat kedua tangannya, peri cinta telah memeluknya. Perlahan<br />
rasa gundah menguap dan digantikan oleh kehangatan cinta. Dalam sekejap aura cinta<br />
kembali menyelimutinya.<br />
Tanpa perlu bertanya, Ares tahu kegundahan itu. Ia balas mendekap erat sang peri.<br />
              “Kita saling membutuhkan kekasihku,” kata Ares, “Segera setelah kurebut tahta<br />
              langit, berdua kita akan memimpin kerajaan ini.”<br />
Peri cinta hanya diam dalam pelukan Ares. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala<br />
pertentangan yang ada. Saat­saat seperti ini sangat sukar didapat. Karenanya ia tidak ingin<br />
menyia­nyiakannya.<br />
Cinta selalu butuh pengorbanan dan dalam cinta segala rahasia harus dibuka, pikir sang peri.<br />
Namun, ketika ia kembali teringat akan kaisar, perasaan bersalah kembali mengental dalam<br />
hatinya. Tidak diragukan, ia telah menghianati kaisar langit dengan memberitahu Ares<br />
segalanya. Ia tahu, Ares pasti menggunakan informasi itu untuk meraih ambisinya. Namun,<br />
jika ingin bersatu dengan kekasihnya, ia harus berjuang menyingkirkan perasaan itu.<br />
Cinta selalu butuh perjuangan.<br />
Ares mempererat dekapannya, seolah ingin mengungkapkan terima kasih atas segala<br />
pengorbanan sang kekasih. Hanya karena bantuan peri cinta, ia bisa menjalankan<br />
rencananya. Berbulan­bulan ia telah menyebarkan kebencian kepada para manusia yang<br />
diamati oleh telur cinta. Namun, betapa keras pun Ares berusaha, tetap ada puluhan ribu<br />
manusia yang tidak dapat dipengaruhinya. Mereka adalah manusia­manusia kuat yang selalu<br />
menjaga hatinya, menyingkirkan kebencian dari diri mereka. Manusia­manusia itu sanggup<br />
menggunakan kekuatannya tanpa rasa benci sebagai motivasinya. Hal itu membuat Ares<br />
tidak mampu untuk membuat telur cinta berwarna hitam sempurna. Dan jika belum hitam<br />
sempurna, kekuatan kaisar langit masih belum bisa dikalahkannya.<br />
               “Apakah dia akan bertindak?” tanya Ares.<br />
               Peri cinta melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Ares.<br />
               “Aku tak tahu.”<br />
               “Aku harus pergi,” kata Ares yang lalu berbalik meninggalkan peri cinta menuju<br />
               pintu rahasia istana cinta.<br />
­o0o­<br />
Peri cinta termangu menatap pemandangan kerajaan langit dari balik jendela ruang kerjanya.<br />
Semuanya tampak tenang dan damai. Namun ia sadar, sebentar lagi kekacauan akan<br />
bergulung menghantam.<br />
Demi cintanya, ia telah mengatakan rahasia telur cinta kepada Ares. Kekacauan mungkin<br />
akan terjadi di dunia, tapi tak pernah terlintas dalam pikirannya kekacauan akan merambah<br />
ke kerajaan langit. Ia yakin sekali, telur cinta tak akan pernah hitam sempurna. Dan sebelum<br />
hitam sempurna, Ares tak akan punya nyali untuk menyerang kaisar.<br />
Kini, tampaknya ia harus mengakui kesalahannya. Ares memang ahli strategi ulung. Ia pasti<br />
telah memperhitungkannya. Segera setelah kaisar mengetahui ketidakseimbangan kekuatan<br />
di dunia, ia akan membagi­bagikan kekuatannya kepada pasukan langit untuk<br />
menyeimbangkan dunia. Dan saat para pasukan telah dikirim ke dunia&#8230;<br />
“Ah,” sang peri berdesah gundah, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi saat Ares<br />
dan pasukannya menyerbu istana langit.<br />
Semua ini salahnya. Semua ini salah cinta. Cinta yang membuat kekacauan ini terjadi.<br />
[]<br />
Ronny Mailindra<br />
Jakarta, 5 Oktober 2009
</p></blockquote>
<p>Dengan modal tiga kata, aku bisa tuliskan seribu kata dalam waktu satu jam, kalo dua jam berarti dua ribu kata dan kalau sebulan melakukan itu selama duapuluh hari berarti 40.000 kata. Itu jumlah yang cukup untuk satu novel!</p>
<p>2. Ada yang menyarankan mengambil secara acak 3 buah lagi MP3 di komputer, lalu mendengarnya. Setelah ini tulis cerita berdasarkan tiga lagu itu. Aku belum coba ini, tapi sepertnya menarik.</p>
<p>3. Ambil sebuah gambar, entah gambar apa saja, lalu coba ceritakan apa yang dilihat pada gambar.</p>
<p>Aku yakin masih banyak tips lain yang bisa memecah kebuntuan menulis. Daripada menunggu dewi inspirasi yang tak kunjung datang, mending mulai menulis dan yakinlah sang dewi akan datang begitu kita telah mulai menulis.</p>
<p>Tips-tips di atas hanyalah kunci kontak agar kita mulai menulis dan memancing pikiran serta inspirasi untuk muncul.<br />
Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
