Padepokan Bercerita

Obsesi Kembaranku – Bagian 3

Posted by in Cerpen

Rey melongo saat melihatku. Bergantian ia pandangi Wini dan aku. Wini berjalan mendekatiku. “Kayanya pacarmu belum betul-betul kenal kamu, Na. Dia menciumku!” kata Wini sambil mengedipkan mata lalu menyerahkan mawar merah di tangannya. Reynaldi tersipu. Kulihat wajahnya memerah. “Sorry, Na. Kok kamu ngga bilang punya saudara kembar?” Aku tersenyum kecut. Aku maafkan kau, Rey. Papa saja suka salah membedakan aku dan Wini. ***

Obsesi Kembaranku – Bagian 2

Posted by in Cerpen

Wini membuat hidupku bagai di neraka. Keinginannya—yang mungkin sudah menjadi kegilaan—untuk selalu mengambil pacar-pacarku, membuatku ikut-ikutan gila. Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Kini aku hanya bisa duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil menatap televisi di depanku. Entah apa acaranya. Meski mataku menatap kotak bergambar itu, tapi pikiranku mengembara. Suara sepatu mendekat. Aku menoleh ke arah tangga. Kulihat Wini telah selesai berdandan dan melangkah ke arahku. Tank top dan celana jin ketat membalut tubuhnya. Ia terlihat cantik dan sangat seksi. Jelas saja Johan—pacar kedua—runtuh imannya. “Pergi dulu ya, Kakak,” kata Wini sambil tersenyum dan…read more

Obsesi Kembaranku – Bagian 1

Posted by in Cerpen

Mungkin lupa, mungkin sengaja, aku tak tahu. Yang kutahu pintu BMW hitam itu tidak terkunci. Aku dengan mudah membukanya. Saat pintu terbuka, dua setan yang sedang bercinta di dalamnya refleks melihatku, tapi hanya satu yang terperangah. Reynaldi, Si Terperangah itu ada di bawah. Celana jinnya melorot hingga lutut. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat bagian telanjang tubuh Reynaldi menempel di kulit Si Betina—kulit mulus Wini, saudari kembarku. Rey ketakutan. Kupikir sudah seharusnya ia ketakutan melihatku memegang pistol yang siap menyalak. “Wina… please,” kata Rey dengan suara memelas, “maafkan aku.” Aku menggeleng. Kutarik napas. Beribu kenangan…read more

Cerpen Thriller: Pemberi Peringatan

Posted by in Cerpen

Ia memandangku sendu. “Papa mama ngga mau dengerin,” ucapnya. Aku mengangguk. Telah kulihat sendiri usahanya: mulai meminta, merengek, sampai mogok bicara. Namun orangtuanya tak bergeming. Mereka selalu membujuk, “Jangan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.” Mungkin mereka mengira Wulan kangen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beberapa minggu pindah ke sini. “Nanti malam purnama,” peringatku. “Tak ada yang percaya.” Aku mendesah. Wulan benar, tidak ada yang mempercayai kami—anak-anak. Orang dewasa pasti menyangka ini khayalan. Tengah malamnya kudengar gemerisik. Tiga orang pria memasuki rumah ini. Lalu, kudengar teriakan dan rintihan. Darah mengalir…read more