Padepokan Bercerita

Cerpen Fantasi: Salju Terakhir

Posted by in Cerpen

Salju Terakhir adalah cerpen fantasi yang terpilih untuk tampil di buku kumpulan fiksi fantasi 2012. Khusus pengunjung blog ini, kupersembahkan cerpen ini untuk bisa dinikmati di sini. Jika punya komentar ataupun saran silakan tulis di kolom komentar. Jika tertarik untuk membeli buku ini, kalian bisa mendapatkannya di nulisbuku.com. Selamat membaca. Salju Terakhir Oleh: R.Mailindra Lengah pangkal celaka. Nasehat itu tak mungkin kuabaikan. Mendengar namanya saja segera membuat kantukku menguap, dan begitu kulihat tampangnya, kuyakin akan celaka berlipat jika sampai lengah. “Kau mampu menghianati Tuanmu, apa jaminanmu tak membokongku?” Lelaki lusuh…read more

Cerpen Suspense: Si Gendut Yang Licin

Posted by in Cerpen

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kirinya. Sambil terus tersenyum, sang resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang. Saat kembali, ia membawa sebuah amplop.

Merzen

Posted by in Cerpen

Ketika bangun pada pukul tujuh pagi, hal pertama yang Tommy lakukan adalah memeriksa bokongnya. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Ia seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk itu serta merasakan sebuah … ekor. Ekor? Tommy segera terduduk di tempat tidurnya. Mata terbuka penuh. Refleks ia melihat ke belakang saat merasakan kejanggalan. Tangannya kanannya seperti sedang memegang seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter di balik celana dalamnya. Di mimpinya semalam, ia mempunyai ekor yang panjang—sampai kira-kira sepanjang kaki—tapi sekarang, setelah bangun, mengapa ia masih mempunyainya? Dan mengapa pula hanya dua jengkal?…read more

Cerpen Thriller: Pemberi Peringatan

Posted by in Cerpen

Ia memandangku sendu. “Papa mama ngga mau dengerin,” ucapnya. Aku mengangguk. Telah kulihat sendiri usahanya: mulai meminta, merengek, sampai mogok bicara. Namun orangtuanya tak bergeming. Mereka selalu membujuk, “Jangan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.” Mungkin mereka mengira Wulan kangen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beberapa minggu pindah ke sini. “Nanti malam purnama,” peringatku. “Tak ada yang percaya.” Aku mendesah. Wulan benar, tidak ada yang mempercayai kami—anak-anak. Orang dewasa pasti menyangka ini khayalan. Tengah malamnya kudengar gemerisik. Tiga orang pria memasuki rumah ini. Lalu, kudengar teriakan dan rintihan. Darah mengalir…read more