Padepokan Bercerita

Cerpen Fantasi : Boxinite

Posted by in Cerpen

Oleh: R.Mailindra Meski waktu melaju, ego dan nafsu menaklukkan tak lekang dimakan zaman. Malah cenderung mengental dan membesar. Ketika dikemas dalam bungkus olahraga hiburan, maka bisnis besarlah yang muncul. Di Bumi ada tinju, Planet X31 di Galaksi Andromeda punya boxinite, Turbosolerum di Centaurus-A punya xiatermid. Galaksi boleh terpisah, ras boleh beda, tapi semuanya punya kesamaan. Menaklukan lawan di atas ring. Namaku Trey. Tahun 2498 M, di usiaku kedelapan belas, aku petinju amatir di Indonesia. Sayang, karirku tidak pernah gemilang. Lima tahun setelah mencoba peruntungan, aku pun menggantungkan sarung tinju. Aku…read more

Cerpen Fantasi: Salju Terakhir

Posted by in Cerpen

Salju Terakhir adalah cerpen fantasi yang terpilih untuk tampil di buku kumpulan fiksi fantasi 2012. Khusus pengunjung blog ini, kupersembahkan cerpen ini untuk bisa dinikmati di sini. Jika punya komentar ataupun saran silakan tulis di kolom komentar. Jika tertarik untuk membeli buku ini, kalian bisa mendapatkannya di nulisbuku.com. Selamat membaca. Salju Terakhir Oleh: R.Mailindra Lengah pangkal celaka. Nasehat itu tak mungkin kuabaikan. Mendengar namanya saja segera membuat kantukku menguap, dan begitu kulihat tampangnya, kuyakin akan celaka berlipat jika sampai lengah. “Kau mampu menghianati Tuanmu, apa jaminanmu tak membokongku?” Lelaki lusuh…read more

Sang Kritikus: Sangkuriang (Bagian 2)

Posted by in Cerpen

[BAGIAN 1 BISA DIBACA DI SINI >>>] Sesaat kemudian kulihat batu itu pecah berkeping. Pecahan batu beterbangan menutupi pandanganku. Ketika debu-debu telah hilang, tampaklah sesosok pemuda. Ia berdiri dengan kujang di tangan kanannya. Tubuhnya tegap dan di kepalanya melilit kain. Wajahnya mirip bintang sinetron Korea. Sungguh tidak cocok muka seapik itu dengan tubuhnya yang demikian kekar. Ampun, menggelikan sekali.

Sang Kritikus: Sangkuriang (Bagian 1)

Posted by in Cerpen

Oleh: R. Mailindra (twitter: @mailindra ) Gambar: sumber wikipedia Kabut putih di depanku kian menipis. Guncangan-guncangan juga semakin mereda. Tapi kekesalanku belum juga sirna. Ampun, susahnya. Kekesalanku semakin menebal saat tawa dan ejekan kembali berputar di kepalaku. Klise, tuan, hanya tukang foto keliling yang pakai. “Sontoloyo!” Dimaki begitu dia malah tergelak. Dan, spesies mereka juga hampir punah. Ia tertawa lebih keras lagi.

Merzen

Posted by in Cerpen

Ketika bangun pada pukul tujuh pagi, hal pertama yang Tommy lakukan adalah memeriksa bokongnya. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Ia seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk itu serta merasakan sebuah … ekor. Ekor? Tommy segera terduduk di tempat tidurnya. Mata terbuka penuh. Refleks ia melihat ke belakang saat merasakan kejanggalan. Tangannya kanannya seperti sedang memegang seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter di balik celana dalamnya. Di mimpinya semalam, ia mempunyai ekor yang panjang—sampai kira-kira sepanjang kaki—tapi sekarang, setelah bangun, mengapa ia masih mempunyainya? Dan mengapa pula hanya dua jengkal?…read more

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Salju Terakhir

Posted by in Cerpen

Maaf kawan, cerita ini telah dihapus karena akan diterbitkan bersama cerpen peserta lomba fiksi fantasi 2012 lainnya yang terpilih. Jika tertarik untuk memilikinya, kumpulan cerpen ini bisa didapatkan di nulisbuku.com. Terima kasih. [UPDATE 15 OKTOBER 2013: Cerpen Salju Terakhir bisa dibaca di sini]

Cerpen Thriller: Pemberi Peringatan

Posted by in Cerpen

Ia memandangku sendu. “Papa mama ngga mau dengerin,” ucapnya. Aku mengangguk. Telah kulihat sendiri usahanya: mulai meminta, merengek, sampai mogok bicara. Namun orangtuanya tak bergeming. Mereka selalu membujuk, “Jangan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.” Mungkin mereka mengira Wulan kangen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beberapa minggu pindah ke sini. “Nanti malam purnama,” peringatku. “Tak ada yang percaya.” Aku mendesah. Wulan benar, tidak ada yang mempercayai kami—anak-anak. Orang dewasa pasti menyangka ini khayalan. Tengah malamnya kudengar gemerisik. Tiga orang pria memasuki rumah ini. Lalu, kudengar teriakan dan rintihan. Darah mengalir…read more