<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lab. Menulis Mailindra &#187; Tentang Menulis</title>
	<atom:link href="http://mailindra.cerbung.com/category/tentang-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mailindra.cerbung.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Oct 2011 08:51:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Memanfaatkan Kesalahpahaman</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2011/10/memanfaatkan-kesalahpahaman/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2011/10/memanfaatkan-kesalahpahaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kelucuan bisa datang dari kesalahpahaman. Jika beruntung kita bisa tertawa karena kesalahpahaman, entah tersebab salah dengar atau salah mengerti. Karena dia akrab dan sepertinya pernah dirasakan semua orang, kesalahpahaman bisa dijadikan salah satu teknik dalam cerita untuk mengocok perut pembaca atau penonton.</p>
<p>Saya mengamati salah satu pola menarik dari teknik ini adalah memanfaatkan kesalahpahaman tokoh atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelucuan bisa datang dari kesalahpahaman. Jika beruntung kita bisa tertawa karena kesalahpahaman, entah tersebab salah dengar atau salah mengerti. Karena dia akrab dan sepertinya pernah dirasakan semua orang, kesalahpahaman bisa dijadikan salah satu teknik dalam cerita untuk mengocok perut pembaca atau penonton.</p>
<p>Saya mengamati salah satu pola menarik dari teknik ini adalah memanfaatkan kesalahpahaman tokoh atau karakter dalam cerita. Idenya sederhana saja: kalau tokoh dalam cerita bisa terkecoh, maka besar kemungkinan pemirsa pun akan mengalami hal yang sama. Dengan ‘gocekan’ yang lihai –tentu saja dengan tidak meremehkan kemampuan logika pembaca atau penonton—disusul ‘tendangan’ pada posisi dan waktu yang tepat, teknik ini bisa menggetarkan syaraf tertawa.</p>
<p>Berikut ini cerita yang saya ingat berhasil mengecohku:<br />
<span id="more-87"></span></p>
<blockquote><p>
<strong>Jin dan Aktivis</strong></p>
<p>“Kuberi kau satu permintaan,” kata jin setelah ia berhasil terbebas dari lampu ajaib.</p>
<p>Dengan girang aktivis perdamaian yang berhasil mengeluarkan sang jin pun berseru, ”Aku mau Timur Tengah damai!”</p>
<p>“Hei,” protes sang jin, “ilmuku juga ada batasnya. Minta yang lain saja, yang masuk akal!”</p>
<p>Setelah diam sejenak, sang aktivis yang berasal dari Indonesia itu pun berkata, “Jin yang baik, tolong sadarkan anggota DPR negriku. Buat mereka tidak korupsi lagi dan berbakti untuk negrinya.”</p>
<p>Kali ini sang jin yang terdiam. Setelah merenung beberapa saat ia pun dengan takzim berkata,”Baiklah kalau kau memang memaksa. Bisa kau ulangi lagi permintaan pertama tadi?”
</p></blockquote>
<p>Jika ada yang punya cerita lain, silakan dibagi di sini.</p>
<p>Salam,</p>
<p>R. Mailindra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2011/10/memanfaatkan-kesalahpahaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haru Berbuah Buku</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2011/07/haru-berbuah-novel/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2011/07/haru-berbuah-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 09:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jadi, haru juga bisa menelurkan novel. Inilah yang terjadi dengan buku keduaku, novel Lenka, yang kutulis dengan penuh haru (ini maksa, biar gaya) bersama teman-teman Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta angkatan 2008 dan 2009. Versi pengalamanku mungkin akan kutilis kapan-kapan, namun untuk saat ini bolehlah kawan sekalian membaca catatan di bawah ini. Catatan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2011/07/coverlenka2.jpg"><img src="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2011/07/coverlenka2-200x300.jpg" alt="Novel Lenka" title="Novel Lenka" width="200" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-76" /></a>Jadi, haru juga bisa menelurkan novel. Inilah yang terjadi dengan buku keduaku, novel Lenka, yang kutulis dengan penuh haru (ini maksa, biar gaya) bersama teman-teman Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta angkatan 2008 dan 2009. Versi pengalamanku mungkin akan kutilis kapan-kapan, namun untuk saat ini bolehlah kawan sekalian membaca catatan di bawah ini. Catatan ini dibuat oleh Yusi A Pareanom&#8211;guruku sekaligus editor novel Lenka.<br />
<span id="more-73"></span></p>
<blockquote><p>
<strong>Catatan Proyek Lenka &#8211; Yusi Avianto Pareanom</strong></p>
<p>Proyek Lenka</p>
<p>Sebuah buku bisa lahir karena rasa haru. Lenka adalah salah satunya. Tapi, sebelum sampai ke sana, izinkan saya melantur dulu.</p>
<p>Bagi saya, Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta yang digelar pada 2008 dan 2009 adalah berkah karena kegiatan ini mempertemukan orang-orang yang beruntung. Dua pengajarnya, A.S. Laksana (Sulak) dan saya, sangat gemar membual. Kami sudah terjangkit bakat ini saat pertama kali bertemu pada 1981 di kota kelahiran kami, Semarang. Saat itu kami masih duduk di bangku SMP. Kebiasaan ini kami lanjutkan di SMA ketika kami juga belajar di sekolah yang sama. Seperti lazimnya orang Semarang yang lain, kami tumbuh atau tepatnya dikutuk menjadi tukang cela, tukang ngeyel, dan tukang keluh profesional (kuliah di Jogjakarta sedikit melunakkan bakat-bakat kami itu). Dengan portofolio semacam ini, jelas kami merasa beruntung saat Zen Hae, Nukila Amal, dan Ayu Utami dari Komite Sastra DKJ menawari kami mengasuh Bengkel. Sungguh menggiurkan, diberi kesempatan menipu orang-orang baru selama tiga bulan. Dasar jodoh, murid-murid yang kami dapatkan selama dua periode ternyata sangat senang kami gurui dan cela karyanya.</p>
<p>Ada dua belas kali pertemuan untuk setiap periode Bengkel yang digelar di MP Book Point di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Induk semang pertemuan adalah Rosdianah Angka. Setiap Sabtu, kelas dimulai pukul dua siang dan berakhir pukul empat sore. Itu jadwal resminya. Setiap selesai kelas, pertemuan selalu berlanjut sampai petang bahkan malam hari, biasanya di teras belakang MP Book Point dengan ngopi dan menggasak camilan-camilan yang bentuk, tekstur, dan rasanya ajaib—utamanya pada 2009, kadang kami pindah ke kafe lain. Jelas, pengajarnya belum puas berkicau sementara muridnya kecanduan dikibuli.</p>
<p>Ketika kelas 2009 berakhir pada Desember tahun itu, beberapa peserta secara terbuka menyatakan kesedihan mereka. Mungkin mereka kebanyakan nonton fim India atau telenovela. Sialnya, kami berdua ketularan. Agar ada alasan pertemuan terus berlanjut, saya menawarkan kepada angkatan 2009 untuk membuat karya bersama. Ini murni kecelakaan dan awal kepuyengan saya—saya akan menjelaskan lebih lanjut di bawah. Semestinya, saya meniru saja orang-orang desa Asterix yang tak memerlukan alasan saat ingin menggelar kenduri.</p>
<p>Apa pun, tawaran sudah kadung digulirkan. Apalagi saya punya janji kepada Komite Sastra, bahwa penerbitan saya, Banana, akan menerbitkan karya terbaik peserta pelatihan. Bila kemudian tawaran berubah menjadi penerbitan karya bersama, itu karena semua peserta setara kecakapannya. Sekalipun awalnya tawaran ini disodorkan di milis Bengkel 2009, saya dan Sulak juga mengajak anak-anak angkatan 2008 ikut bergabung dalam proyek kegembiraan bersama ini.</p>
<p>Di milis Bengkel, pada 27 Desember 2009, terilhami oleh beberapa peristiwa bunuh diri di mal-mal Jakarta, saya menulis begini: Pada sebuah acara penggalangan dana yang meriah, seorang perempuan muda bergaun biru wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?</p>
<p>Saya masih menulis beberapa kalimat pancingan lagi yang intinya meminta para montir—demikian para peserta menyebut diri mereka, saya dan Sulak tak pernah menyapa mereka seperti itu, kami memanggil mereka Sarekat Penulis Kuping Hitam, lebih lanjut soal ini di bawah—merumuskan sendiri siapa Lenka dan mengapa peristiwa naas itu bisa terjadi. Saya mempersilakan mereka mengajukan ide yang ingin mereka tulis. Boleh mengikuti pancingan, boleh juga bikin lakon carangan sepanjang ada benang merahnya.</p>
<p>Apakah ide awal tersebut akan menjadi kumpulan cerpen atau novel, saya menyerahkannya kepada peserta Bengkel. Apakah nantinya akan plek seperti pancingan atau menyimpang seliar mungkin, saya tak punya bayangan pada waktu itu. Saya mengambil sikap meniru sebuah bait puisi petuah dari seorang perempuan yang pernah saya taksir semasa SMA—ia sering sekali menulis puisi semacam itu di milis alumni SMA kami: biarkanlah semuanya mengalir. Tapi, saya dan Sulak yakin proses dan hasilnya bakal seru. Yang kami minta adalah anak-anak Bengkel menghadirkan kejutan dan berani meninggalkan zona nyaman mereka.</p>
<p>Tawaran itu langsung disambar. Pertama-tama soal keikutsertaan. Sekalipun saya memberi tenggat pendaftaran, yang telat tahu kabar ini juga ingin ikut. Lalu Sulak mengompori soal honor. Nyaris semuanya langsung mempraktekkan jurus sapi bersimpuh dan bilang bahwa diajak menulis bersama saja sudah senang. Dalam hati saya merutuk, sialan, mereka pintar memancing haru, dan itu alamat bandar bakal rugi.</p>
<p>Tepat pada 1 Januari 2010, Yuki Anggia Putri Ritonga menjadi orang pertama yang menggelindingkan bola. Ia menulis kehidupan kuliah Lenka dan pertemuannya dengan seorang fotografer—Andina menyambarnya dengan menyebut-nyebut soal aliran fotografi pembebasan. Lalu Miftah Rahman menulis tentang perjanjian dengan setan yang dilakukan ayah Lenka, seorang konduktor orkestra. Apendi, sesuai petingkahnya yang serba misterius dan konspiratif, bahkan sampai saat ini, menyodorkan keterlibatan organisasi rahasia yang berada di balik kematian Lenka. Wahyu Heriyadi, jauh-jauh dari Palu, menyumbang cerita mistis tentang gedung yang menjadi lokasi kematian Lenka. Sementara itu, Nia Nurdiansyah memberi tinjauan psikologi panjang lebar tentang orang-orang yang bunuh diri.</p>
<p>Bagaikan gerombolan piranha mendapatkan tetelan babi, anggota Bengkel yang lain menyambar dan memberi kritik. Saling kritik—atau saling bantai—memang menjadi asupan harian kami. Dilarang sakit hati adalah pelajaran hari pertama di Bengkel. Dengan kritik, ide kurang bagus bisa terasah, dan ide yang sudah bagus akan tambah mengkilap. Usulan-usulan baru pun meluncur deras. Sulak menyebut mereka kaum yang kesurupan Lenka.</p>
<p>Setelah beberapa bola menggelinding dan ditendang beramai-ramai, saya mengulang lagi pertanyaan apakah Proyek Lenka, demikian kegembiraan dan eksperimen bersama ini disebut, akan digarap bersama-sama sebagai sebuah novel atau setiap yang terlibat ingin membuat tafsir sendiri-sendiri atas ide awal. Semuanya sepakat memilih yang pertama.</p>
<p>Saya mengajak mereka berkumpul lagi untuk membahas outline dan karakter-karakter yang ingin dimunculkan. Kami bertemu pada awal Januari 2010, dan tempat pertemuan yang dipilih anak-anak Bengkel sungguh tak imajinatif. Dari 1.234 kafe di Jakarta, mereka memilih MP Book Point. Alasannya, takut kesasar kalau ke tempat lain. Saya mengancam tak akan meneruskan Proyek Lenka bila tempat pertemuan berikutnya tak berubah.</p>
<p>Pertemuan hari itu juga menandai perjumpaan pertama anak-anak angkatan 2008 dan 2009. Perbedaan yang mencolok antara dua angkatan ini adalah anak-anak 2008, tepatnya Wiwin Erikawati, membawa sekardus kue yang enak-enak sementara anak-anak 2009 datang dengan tangan kosong. Mungkin angkatan 2009 kangen dengan camilan MP Book Point seperti combro yang harus dicelupkan ke kopi panas karena saking kerasnya atau bolu yang seukuran telapak tangan orang dewasa yang baru saja tersengat lebah—besar sekali.</p>
<p>Pertemuan itu menyepakati banyak hal. Utamanya tentang apa dan siapa Lenka—usianya terpangkas menjadi 19 tahun dalam rapat ini, misalnya—motif tindakan-tindakannya, karakter-karakter pendukung, serta yang tak kalah penting adalah nada penulisan. Setiap orang boleh bereksperimen dan membawa gaya mereka masing-masing, tapi nada mesti selaras. Untuk mendapatkan keselarasan itu, saya meminta mereka membaca buku, menonton film, dan mendengarkan lagu yang saya pikir bisa membantu. Dalam waktu singkat, usulan daftar lagu dan film bertambah sementara daftar bacaan tidak.</p>
<p>Berdasarkan hasil rapat, saya kemudian membuat outline dan kemudian membagi bola, siapa menggarap bab berapa. Pembagian ini selain mengacu kepada minat dan usulan para penulis juga semacam tantangan kepada mereka. Jadi, sedikit banyak agak sepihak, untungnya pengambilan keputusan ala demokrasi terpimpin ini diamini anak-anak Bengkel. Sebetulnya, rencana awalnya saya dan Sulak akan ikut menulis satu bab. Tapi, akhirnya kami sepakat semuanya digarap Barisan Penulis Kuping Hitam.</p>
<p>Saya lalu mendorong yang terlibat dalam Proyek Lenka bereksperimen lebih lanjut. Saya meminta mereka membuat akun Facebook atas nama tokoh-tokoh dalam Lenka dan menjalankan peran itu secara bersungguh-sungguh. Hitung-hitung latihan method writing. Beberapa menjalankan dengan takzim, beberapa tak sanggup menahan geli. Yang paling parah untuk yang terakhir ini adalah Laire Siwi Mentari.</p>
<p>Lalu, mulailah proses yang paling menarik. Satu demi satu pengeroyok Lenka memacak bab yang mereka tulis di milis. R. Mailindra menyebut Bengkel adalah padepokan silat sehingga jika dapat sedikit tendangan atau pukulan itu wajar belaka. Artinya, kritik pedas, dan mungkin bertubi-tubi, itu mesti diterima kalau mau tambah ilmu. Ia benar, karena jika ada yang mengirimkan naskah tapi sepi tanggapan yang bersangkutan justru merasa nelangsa. Yuki yang paling rajin berperan sebagai polisi bahasa. Saya dan Sulak biasanya memberi tanggapan atas tanggapan, utamanya yang luput ditanggapi para penanggap (saya meminjam gaya bahasa Wahyu di sini).</p>
<p>Sulak menyebut aksinya mengkritik sebagai mengamuk. Dan, ia mengamuk dengan brutal. Yang paling sering ia lakukan adalah meminta anak-anak Bengkel memperagakan kalimat-kalimat janggal yang mereka buat. Beberapa anak Bengkel tergerak meniru, dan komentar yang muncul atas kiriman naskah semakin tajam. Kadang ada yang sedemikian tajam sehingga yang kena kritik tergores hati dan harga dirinya, lalu menyerang balik dan mempertanyakan kualitas si pengkritik. Andina menyebut gesekan semacam ini percikan bunga api. Mendengar kata bunga api itu Sulak buru-buru membawa jeriken bensin oplosan dan saya menyusul di belakangnya dengan kipas besar. Ganjilnya, hasutan kami agar perang makin ramai justru membuat anak-anak Bengkel yang bertikai saling meminta dan memberi maaf, seperti Lebaran saja.</p>
<p>Sebetulnya, saya dan Sulak bisa saja memainkan peran juru damai seperti Ketua RT di sinetron-sinetron Indonesia atau Babinsa di kampung-kampung. Tapi, alangkah membosankannya. Dinamika dalam sebuah grup biasanya menjadikan karya yang muncul dari kelompok itu ciamik. The Beatles jelang bubarnya menghasilkan karya-karya terbaik justru ketika ketegangan menjelujur di antara keempat anggotanya. Sebaliknya, karya Queen jelang Freddie Mercury meninggal—ketika semua anggotanya rukun—jauh di bawah album-album mereka sebelumnya. Saya sama sekali tak ingin menyamakan Sarekat Penulis Kuping Hitam dengan dua grup musik hebat itu, tapi saya ingin bilang ke mereka bahwa rivalitas itu penting karena semuanya ingin membuktikan diri sebagai yang terbaik. Rivalitas tak perlu ditakuti karena ia bukan permusuhan.</p>
<p>Setelah hampir semua bab ditulis, kami berkumpul lagi membahas penulisan bersama ini. Kali ini dalam jumlah besar. Pengeroyok Lenka dari dua angkatan yang sebelumnya hanya bercakap-cakap melalui milis bisa berkenalan langsung, dan makan-makan tentunya. Kali ini, mungkin malu saya sindiri terus, angkatan 2009 ikut membawa kue-kue, dan selanjutnya saling tukar hadiah atau buah tangan menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Pertemuan semacam ini terjadi beberapa kali. Katamsi Ginano, kawan Sulak dan saya, ikut meramaikan beberapa pertemuan dan melontarkan hasutan di sana-sini agar tulisan anak-anak Bengkel makin sedap. Setiap setelah pertemuan, saya dan Sulak meminta anak-anak Bengkel merevisi tulisan mereka.</p>
<p>Pada Juni 2010, draf pertama Lenka rampung. Saya dan Sulak bersepakat bahwa saya akan menjadi penyunting pertama dan baru kemudian ia merapikan lebih lanjut. Lagi-lagi, ini keputusan yang keliru. Mestinya saya mengumpankan Sulak lebih dahulu. Draf pertama, sekalipun tulisan per babnya sudah lebih baik ketimbang setoran-setoran awal, bercerita tentang Lenka yang berbeda-beda. Kadang, kepribadiannya sangat bertolak belakang dari satu bab ke bab lainnya. Untuk sebuah omnibus, hal ini tak menjadi masalah. Untuk sebuah novel yang tujuh belas penulisnya bertindak sebagai satu orang, ini persoalan. Persoalan saya, tepatnya.</p>
<p>Untuk naskah-naskah yang kembangannya terlalu jauh dari outline, saya meminta para penulisnya menulis ulang. Tapi, persoalan tak berhenti sampai di sini. Nada penulisan yang sejak awal disepakati ternyata dilanggar beramai-ramai. Penyelarasan bab-bab yang bercerita tentang Lenka inilah yang membuat penyuntingan tahap pertama memakan waktu—untuk bab-bab yang bercerita tentang karakter pendukung penyuntingannya lebih enteng. Sialnya, anak-anak Bengkel dengan semena-semena mendakwa saya mengidap fobia menyunting Lenka. Sapi betul.</p>
<p>Saat menyunting, saya mengubah pembukaan beberapa bab, menambahkan kalimat-kalimat penyambung, dan juga memangkas bagian-bagian yang membikin pembacaan seret atau tak sesuai dengan nada penulisan. Ketika saya pacak icip-icip penyuntingan tahap pertama di milis, anak-anak Bengkel bereaksi. Salah seorang penulis yang naskahnya saya permak langsung protes. “Kok metafora yang saya pakai hilang semua?” Saya menjawab bahwa metaforanya lemah, dan masih untung titik dan komanya tetap saya pakai. Ia nangis bombay, tapi kemudian hari mengaku bahwa penyuntingan menjadikan naskahnya lebih bagus. Tentu saja.</p>
<p>Ketika naskah sudah disetor semua pertemuan bulanan tidak berhenti, menjadi-jadi malah. Kami bertemu untuk berbual-bual sembari makan dan ngopi bareng. Pada kesempatan-kesempatan semacam ini, biasanya mereka tak lupa mendesak saya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang sekian lama mengganggu mereka: kepanjangan A.S. pada nama Sulak. Awalnya saya menjawab Ahmad Sulaiman, dan mereka percaya. Lain kali saya bilang Alexie Sherman. Anak-anak Bengkel yang makin penasaran akhirnya mengajukan kombinasi mereka sendiri: Antonio Severus, Ajengan Sayid, Amadeus Salieri dan apa saja yang cocok dengan inisial A.S. Yuki pernah suatu kali datang dengan muka serius dan bilang kepada semua orang bahwa ia akhirnya tahu kepanjangan A.S. yang sebenarnya: Alit Seto, dua nama tokoh yang sering Sulak pakai untuk cerpen-cerpennya. Saya ketawa, tidak membenarkan atau menyalahkan, hanya berpikir yang seperti itu saja kok jadi obsesi berat. Si sasaran, Sulak, ketawa-ketawa senang.</p>
<p>Namun, tidak semua pertemuan diisi kuis remeh-temeh semacam itu. Sesekali, kami mengisinya dengan acara yang lebih serius seperti pengenalan Jurnalisme Sastrawi yang dilakukan kawan saya, Janet Steele dari George Washington University, atau diskusi penulisan yang lain.</p>
<p>Setelah penyuntingan tahap pertama selesai, saya mengopernya ke Sulak. Dengan alasan tak mau mengganggu penyuntingan yang sudah saya lakukan, ia menyunting dengan cara yang orisinil sekaligus ruwet. Ia menyunting dari belakang. Saya tak tahu apakah metodanya ini bisa dipraktekkan orang lain. Pastinya, penyuntingan gaya atret ini memakan waktu lama sehingga anak-anak Bengkel berteriak lagi dan berencana membuat gerakan FB agar Sulak segera menyelesaikan penyuntingannya. Mungkin, karena khawatir bakal tambah populer, ia akhirnya beralih ke penyuntingan yang lumrah-lumrah saja. Dalam penyuntingan tahap kedua ini, Sulak juga mengubah beberapa pembukaan dan memperketat bagian-bagian longgar yang luput dari penyuntingan tahap pertama karena saya kadung kenyang mengunyah Lenka.</p>
<p>Setelah Sulak selesai, saya memeriksanya sekali lagi, dan hasilnya adalah buku yang sekarang ada di tangan pembaca. Kalau ada yang menghibur dari Lenka, itu adalah hasil kerja bersama, utamanya 17 orang yang bersedia memberi ruang kepada gagasan teman-temannya agar tulisan mereka semakin kaya. Setiap bab dalam Lenka digarap oleh seorang atau dua orang penulis, tapi gagasan yang ada di dalamnya adalah sumbangan semua yang terlibat. Adapun, kalau Lenka tak berhasil mencapai kualitas yang diharapkan, atau malah membuat pembaca gusar, itu benar-benar karena keteledoran saya dan Sulak sebagai penyunting.</p>
<p>Senyampang Lenka disunting, beberapa anak Bengkel sudah berhasil menerbitkan karya mereka, baik berupa cerpen maupun novel. Di luar penulisan, ada yang berhasil lulus kuliah, ada yang memutuskan berhenti kuliah, ada yang pindah pekerjaan, ada yang menikah, ada yang punya bayi lagi, dan ada pula yang kehilangan anggota keluarga. Perjalanan panjang Lenka sarat dengan cerita sampingan yang kelak mungkin menarik untuk ditulis tersendiri.</p>
<p>Tentang nama Sarekat Penulis Kuping Hitam, ada sedikit cerita. Sekian puluh tahun yang lalu ada Barisan Pelawak Kuping Hitam yang anggotanya antara lain Basiyo, Jony Gudel, dan Atmonadi. Mereka lucu dan pintar sekali. Kami berdua sangat kagum kepada mereka. Kami menganggap anak-anak Bengkel pintar dan lucu sehingga pengadopsian nama itu kok rasanya enak. Kuping juga mengisyaratkan tindakan menyimak sementara warna hitam adalah lambang kesaktian. Tentu saja, penamaan ini semena-mena. Tapi, apa boleh buat, ini konsekuensi tak terhindarkan belajar kepada sepasang pendusta seperti kami. Lagi pula, kapan pun mereka bisa menyempal dari barisan dan mendirikan panji mereka sendiri. Dan, itu akan menjadi hari yang membahagiakan bagi kami berdua.</p>
<p>Yusi Avianto Pareanom
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2011/07/haru-berbuah-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Itu Gampang?</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2011/02/menulis-itu-gampang/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2011/02/menulis-itu-gampang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 08:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[<p>
Menulis itu gampang!
Setiap kali aku membaca tulisan di facebook ataupun blog yang menjanjikan bahwa menulis itu gampang selalu saja jadi tak tahan untuk komentar, bohong!
Bohong itu kalau ada yang bilang menulis itu gampang. Menulis yang aku maksud tentu saja membuat cerita fiksi, entah itu cerpen ataupun novel.</p>
<p>Jadi, apakah menurutku menulis fiksi itu sulit?
Memikirkan pertanyaan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2011/02/susah_nulis.jpg"><img src="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2011/02/susah_nulis-300x288.jpg" alt="" title="susah_nulis" width="300" height="288" class="alignleft size-medium wp-image-63" /></a><br />
Menulis itu gampang!<br />
Setiap kali aku membaca tulisan di facebook ataupun blog yang menjanjikan bahwa menulis itu gampang selalu saja jadi tak tahan untuk komentar, bohong!<br />
Bohong itu kalau ada yang bilang menulis itu gampang. Menulis yang aku maksud tentu saja membuat cerita fiksi, entah itu cerpen ataupun novel.</p>
<p>Jadi, apakah menurutku menulis fiksi itu sulit?<br />
Memikirkan pertanyaan itu ternyata lebih mencerahkan daripada memikirkan jawabannya.<br />
Itu terjadi karena kejadian seminggu ini. Seminggu ini aku belajar tentang investasi saham dan juga bermain rubik. Untuk investasi tentu saja targetku berani berinvestasi dan untung. Untuk rubik aku ingin bisa memecahkan persoalan <a href="http://virkill.wordpress.com/2008/10/15/step-by-step-menyelesaikan-rubiks-cube-dibawah-20-detik/" target="_blank">rubik hingga 20 detik</a>.<br />
Segera saja aku dibanjiri dengan segala teori. Dan setelah seminggu, baru rubik yang aku bisa. Itupun dengan catatan waktu yang cukup lama&#8211;lima menit ke atas.</p>
<p>Aku ingat-ingat lagi tentang segala pengetahuan yang pernah aku pelajari. Belajar naik sepeda, renang, membuat program komputer, belajar bahasa Jerman. Ternyata semuanya tidak gampang. Apakah sulit? Ya, pada saat belajar tentu saja aku akan mengatakan hal itu sulit. Susah, puyeng, tapi juga mengasikkan. Hanya karena keinginan besarlah aku terus bertahan dan menolak menyerah sampai mereka bisa aku kuasai. Kupikir hal ini juga terjadi pada orang lain.</p>
<p>Kesimpulannya, belajar menulis itu tidak lebih sulit dari mempelajari skill lain. Tentu saja pada saat mempelajarinya kadang tergoda untuk menyerah. Seperti saat mempelajari sebuah bahasa. Semuanya tergantung seberapa besar niat untuk menaklukkan tantangan itu.</p>
<p>Menulis pun seperti ini. Tergantung seberapa besar tekad untuk menaklukkan. Jadi, apakah menulis sebuah novel pantas untuk ditaklukkan?</p>
<p>Note: image diambil dari http://yourenglishlessons.files.wordpress.com/2009/12/essay-writing.jpg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2011/02/menulis-itu-gampang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nulis di mana pun</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2010/11/nulis-di-mana-pun/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2010/11/nulis-di-mana-pun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 16:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara dan Lomba Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[<p>Canggih! Begitu komentarku pertama kali mencobanya. Masih belum begitu nyaman sih. keyboard virtual ini masih buat aku kagok. tapi ntar juga terbiasa. </p>
<p>WordPress for android senjata baruku. Harusnya sekarang ngga ada alasan lagi buat ngga ngeblog. Yah semoga aja.</p>
<p>Oh ya, 2 hari lalu dapat info ada lomba nulis flash fiction dari komunitas blogfam. Maksimal 126 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Canggih! Begitu komentarku pertama kali mencobanya. Masih belum begitu nyaman sih. keyboard virtual ini masih buat aku kagok. tapi ntar juga terbiasa. </p>
<p>WordPress for android senjata baruku. Harusnya sekarang ngga ada alasan lagi buat ngga ngeblog. Yah semoga aja.</p>
<p>Oh ya, 2 hari lalu dapat info ada lomba nulis flash fiction dari komunitas blogfam. Maksimal 126 kata dan temanya horor atau misteri. Rencananya pengen ikutan. Idenya udah ada tapi baru bisa dipajang ntar tanggal 5 Desember 2010. <br />
So, stay tune di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2010/11/nulis-di-mana-pun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Lebih Seru</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/bersama-lebih-seru/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/bersama-lebih-seru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 16:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger 2010]]></category>
		<category><![CDATA[writing contest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[<p>Judul tulisan ini terdengar seperti iklan, ya.
Tapi swer, ini bukan iklan. Tidak juga suatu bujukan apalagi hasutan. Kalau ngga percaya sih, ngga apa-apa. Aku ngga maksa. Kau bisa membantahnya nanti, setelah membaca keseluruhan tulisan ini. Sumpah, aku tak keberatan.</p>
<p>Entahlah denganmu, tapi aku memang merasa kalau mengerjakan sesuatu beramai-ramai terasa lebih seru. Ya, aku tahu, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tulisan ini terdengar seperti iklan, ya.<br />
Tapi <em>swer</em>, ini bukan iklan. Tidak juga suatu bujukan apalagi hasutan. Kalau ngga percaya sih, ngga apa-apa. Aku ngga maksa. Kau bisa membantahnya nanti, setelah membaca keseluruhan tulisan ini. Sumpah, aku tak keberatan.</p>
<p>Entahlah denganmu, tapi aku memang merasa kalau mengerjakan sesuatu beramai-ramai terasa lebih seru. Ya, aku tahu, tak semua hal bisa dikerjakan bersama-sama. Seperti buang air besar. Sebaiknya tak kau lakukan bersama konco-koncomu. Eh, tapi kalau dicoba mungkin seru juga.</p>
<p>Menulis, maksudku menulis sebuah buku, normalnya dikerjakan sendiri. Penulis akan menyendiri, merenung, bermimpi dan menuangkannya dalam tulisan. Setelah jadi, barulah karya tersebut dipamerkan ke beberapa orang untuk dimintai pendapatnya. Setelah puas, si penulis tadi akan kembali menyendiri dan memoles karyanya.</p>
<p>Beberapa waktu lalu aku dapat kesempatan untuk menggarap novel bareng beberapa teman. Plot ceritanya sudah ada. Masing-masing penulis sudah dapat bagian bab yang harus digarap. Berhubung ini karya kolaborasi maka ada beberapa karakter yang harus ditulis oleh beberapa orang. Dan, berhubung kami punya latar belakang yang berbeda, pekerjaan sehari-hari yang berbeda, juga gaya menulis yang berbeda, maka terjadilah hal yang ajaib. Karakter/tokoh dalam cerita jadi tidak konsisten kepribadiannya. Kadang terlihat bodoh, tapi di bagian lain tokoh tersebut tampak bijaksana. Kadang terlihat anggun namun oleh penulis lain digambarkan centil. Dan seterusnya. Ketika saling mengoreksi, kau bisa tebak yang terjadi. Perdebatan seru!</p>
<p>Untunglah semuanya berakhir baik karena kami punya orang  yang dituakan. Guru yang pengetahuannya melebihi yang lain. Singkat kata, untung saja kami diberi kebebasan terpimpin. Bebas, tapi kalau sudah mentok harus ada yang ketok palu biar semua nurut. Kalau masih belum nurut sepertinya harus ketok kepala.</p>
<p>Setelah melewati semua itu, dengan segala perbedaan, kami jadi lebih saling menghargai. Aku misalnya, suka menulis dengan gaya bahasa yang lugas. Tapi sekarang jadi ingin juga belajar gaya menulis yang berbunga-bunga&#8211;puitis.<br />
<strong>Bersama, beragam, emang lebih seru! </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/bersama-lebih-seru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Komunitas</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/kekuatan-komunitas/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/kekuatan-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 00:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[<p>
Penulis manapun pasti ingin karyanya dibaca banyak orang. Aku yakin seyakin yakinnya, sebagian besar malah ngebet agar karyanya bisa dibukukan. Namun jalan ke sana tidaklah gampang. </p>
<p>Sampai sekarang, belum satu pun novelku yang berhasil diterbitkan. Penolakan sudah banyak, tapi belum sampai sepuluh kali (katanya sih harus coba paling tidak sampai ditolak 150 kali, duhhh).</p>
<p>Mengikuti polaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2010/10/komunitas-150x150.jpg" alt="komunitas" title="komunitas" width="150" height="150" class="alignright size-thumbnail wp-image-33" /><br />
Penulis manapun pasti ingin karyanya dibaca banyak orang. Aku yakin seyakin yakinnya, sebagian besar malah ngebet agar karyanya bisa dibukukan. Namun jalan ke sana tidaklah gampang. </p>
<p>Sampai sekarang, belum satu pun novelku yang berhasil diterbitkan. Penolakan sudah banyak, tapi belum sampai sepuluh kali (katanya sih harus coba paling tidak sampai ditolak 150 kali, duhhh).</p>
<p>Mengikuti polaku berkarir sebagai software developer, aku pun bergabung di beberapa komunitas. Jangan tanya komunitas apa, tentu saja menulis. Harus pasang kuping dan sigap mengambil kesempatan yang mungkin muncul. Dan benar, alhamdulillah, insyaAllah tahun ini 2 karyaku akan diterbitkan.</p>
<p>Yang pertama, sebuah novel kolaborasi dengan teman-teman dari Bengkel Novel DKJ. Ngga tanggung-tanggung novel ini digarap belasan orang. Aku dapat bagian menggarap 4 bab. Ceritanya sangat seru dan proses menggarapkan tak kalah serunya.<br />
Kedua, kumpulan cerpen fantasi hasil lomba Fantasi Fiesta 2010. Ada 20 cerpen karya 20 penulis di sana. Cerpenku ikutan nyelip di antologi tersebut.</p>
<p>Ternyata slogan &#8216;bersama kita pasti bisa&#8217; manjur untukku. Komunitas menulis jadi pintu buat karyaku diterima penerbit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2010/10/kekuatan-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Latihan: Menulis Karakter</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2009/11/latihan-menulis-karakter/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2009/11/latihan-menulis-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:02:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dua minggu yang lalu kebagian tugas untuk menulis karakter. Tugas ini adalah bentuk latihan untuk menggambarkan sebuah tokoh. Aku dapat jatah untuk menggambarkan nasib tragis seorang pengrajin perak. Susah juga ternyata. Berikut hasil yang berhasil aku buat.
</p>
<p>Sang Pencungkil

I Wayan Candra membuka matanya lebih lebar, menatap batang-batang besi lurus yang berjejer satu setengah meter di depannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua minggu yang lalu kebagian tugas untuk menulis karakter. Tugas ini adalah bentuk latihan untuk menggambarkan sebuah tokoh. Aku dapat jatah untuk menggambarkan nasib tragis seorang pengrajin perak. Susah juga ternyata. Berikut hasil yang berhasil aku buat.<br />
<span id="more-20"></span></p>
<blockquote><p><strong>Sang Pencungkil<br />
</strong><br />
I Wayan Candra membuka matanya lebih lebar, menatap batang-batang besi lurus yang berjejer satu setengah meter di depannya. Tidak ada motif yang muncul. Seandainya batang-batang itu terbuat dari perak, mungkin akan lain ceritanya, mungkin ia bisa melihatnya.</p>
<p>Tapi sebenarnya, mulanya ia juga tidak bisa melihatnya. Ia ingat saat berumur sembilan tahun bape (bapak) mengatakan akan menunjukkan sesuatu kepadanya.</p>
<p>&#8220;Liat cincin ini,&#8221; kata bapaknya sambil mengangkat cincin perak polos di tangan kanannya. &#8220;Cincin ini sama persis dengan yang ini,&#8221; lanjut bape sambil mengangkat cincin perak berukir di tangan kirinya.</p>
<p>Wayan memperhatikan kedua cincin tersebut. Ia berpikir apa bape sudah rabun? Jelas kedua cincin itu berbeda. Ya, memang keduanya berbentuk cincin dan sama-sama terbuat dari perak. Tapi, cincin di tangan kanan bape masih polos, tidak ada ukiran sama sekali, sedang di tangan yang satu lagi sudah penuh ukiran bunga.</p>
<p>Namun Wayan tidak membantah, ia diam saja mendengarkan bape mengoceh. Bape menjelaskan tentang lapisan bening yang menutupi cincin polos itu. Hari itu bape menjelaskan sangat detail apa yang dia lihat pada cincin itu, hingga Wayan sampai pada kesimpulan: kalau bape tidak benar-benar bisa melihat ukiran pada cincin polos itu, pastilah bape tukang tipu yang paling ulung seantero Bali.</p>
<p>&#8220;Yang harus kau lakukan hanyalah membuang dan mencongkel lapisan yang menutupi ukiran aslinya?&#8221;</p>
<p>Heh? Wayan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lama ia mencoba melihat ukiran pada cincin polos itu. Membolak-baliknya, melihat dari dekat dan dari jauh, melihat sambil berjongkok, sambil berdiri bahkan sambil nungging. Dia mencoba melihat cincin itu dari segala macam posisi. Hasilnya sama saja.Dalam penglihatannya cincin itu polos—tak berukir sama sekali.</p>
<p>&#8220;Nah sekarang coba kau congkel lapisan bening itu,&#8221; perintah bapaknya sejam kemudian.</p>
<p>Sudah setahun ia membantu di studio bape, namun sampai saat itu, yang ia kerjakan hanyalah pekerjaan sepele, seperti: mengambil perak, membereskan peralatan atau bersih-bersih. Sesekali ia diberi kesempatan untuk memukul-mukul perak yang telah dipanaskan. Baru kali ini ia diperintahkan untuk mengukir.</p>
<p>Meski tidak bisa melihat ukiran apa pun yang ada pada cincin polos itu, ia tetap mematuhi perintah bape. Tentu saja ia harus berulang kali melihat contoh cincin berukir yang telah selesai.</p>
<p>Ia lakukan pekerjaan seperti itu berbulan-bulan, lalu bulan berganti tahun. Ia terus berpura-pura seolah bisa melihat ukiran pada cincin, gelang atau kalung perak polos yang diperintahkan untuk diukir. Namun setiap hari Wayan masih saja penasaran untuk bisa melihat ukiran pada cincin, gelang atau kalung tersebut. Kadang ia mencoba melihat benda itu dari balik gelas, lain waktu dari tempe goreng yang bolongi. Pernah juga ia mencoba melihatnya sehabis mandi, sehabis tidur semalaman di beranda rumah, atau melihat melalui lubang pada bunga kamboja. Hasilnya duruk, nihil?ia  tidak bisa melihat ukiran apa pun. Dengan semua tingkahnya itu, rasanya mustahil bape tidak mengetahui kepura-puraannya. Tapi selama bape juga pura-pura tidak tahu, selama itu pula ia akan terus berpura-pura bisa melihat ukiran.</p>
<p>Tahun demi tahun Wayan dengan tekun membuat ukiran seperti contoh yang diberikan. Lambat laun, jemarinya mulai lihai mengunakan peralatan untuk mengukir. Tangannya juga terampil mengukur keras atau pelannya alunan palu untuk mendapatkan hasil semirip mungkin dengan contoh-contoh yang diberikan. Akhirnya, setelah lima tahun berpura-pura, ia terkejut karena pada suatu pagi matanya benar-benar bisa melihatnya. Ia bisa melihat gelang polos di tangannya benar-benar telah terukir dengan lapisan bening membungkusnya. Ia mengerjapkan matanya, gelang itu berubah lagi ke bentuk asalnya, polos—tak berukir. Lalu perlahan ukiran-ukiran itu muncul kembali. Ukiran yang dilihatnya itu adalah motif baru, semacam gabungan motif naga dan mawar, karenanya motif itu ia namakan naga mawar. Mawar dan naga sudah sering dia ukir, tapi yang ini adalah gabungan indah dari keduanya. Naga melingkar-lingkar dengan mulutnya yang terbuka membentuk pola seperti mawar merekah.</p>
<p>Cepat ia mengambil peralatannya, mencungkil dan membuang lapisan yang menyembunyikan ukiran naga mawar pada gelang itu. Saat ia telah berhasil membuang semua lapisan yang menutupi naga mawar itu, ia langsung menunjukkannya kepada bape. Ia ingat betul mata serta seluruh mimik bape saat melihat gelang itu. Mata itu bersinar lebih terang dari bintang utara dan tawanya juga sangat keras, lebih keras daripada tawa saat mendengarkan guyanan bli(paman). Setelah itu, bape tersenyum dan bernyanyi sepanjang hari. Saat Wayan bertanya kenapa bapaknya terus menerus bersenandung, bape dengan enteng menjawab, karena itulah yang dilakukan oleh bapaknya dulu dan kini ia tahu rasanya. Wayan mencatat itu dalam hati. Ia butuh gambaran itu untuk dilakukannya kelak saat putranya juga berhasil melakukan seperti yang ia lakukan hari itu.</p>
<p>Saat berumur duapuluh tahun, Wayan memutuskan untuk membuka studio ukir sendiri. Wayan masih sering mendapat penglihatan motif-motif ukir baru. Dan saat ia berhasil mengeluarkan lapisan yang menutupi motif itu, ia akan menunjukkannya kepada bapaknya, juga kepada Ketut Sudarya, temannya yang juga memiliki studio ukir. Ia tidak pelit membaginya kepada teman, bahkan orang-orang dari kampung lain yang tertarik untuk meniru motif yang dibuatnya. Menurutnya motif itu bukan ia yang menciptakannya. Toh motif itu memang sudah ada. Yang ia lakukan cuma mencungkil dan membuang lapisan yang menutupinya. Lagi pula, ukiran adalah kerajinan tangan. Ia hanya mampu membuat sepuluh, paling banyak duapuluh buah cincin, gelang atau kalung dari motif yang sama. Barang yang dibuatnya tidak bisa banyak, kalau mau banyak cetak saja pakai mesin. Dijamin namanya akan berubah menjadi kerajinan mesin.</p>
<p>Ia juga tidak susah mencari pelanggan. Beberapa bulan setelah membuka studio, seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat, Mister Richgood, bertandang ke studionya dan tertarik untuk membeli beberapa cincin, gelang serta kalung perak buatannya. Mister itu pun menawarkan kerjasama jangka panjang. Ia berjanji akan menyalurkan produk-produk buatan Wayan untuk dijual di Amerika dan Eropa. Wayan senang saja dibantu begitu. Setelah itu usahanya maju pesat. Kini ia telah mempunyai empat orang pegawai.</p>
<p>Namun hidup tidak hanya dibuat dari kisah-kisah indah. Yang buruk juga ada. Contohnya sepuluh bulan yang lalu dua orang lelaki yang katanya wakil dari PT Karya Teramat Indah, sebuah perusahaan pembuat perhiasan perak yang dimiliki warga negara Amerika Serikat, mengunjungi studionya. Orang itu memintanya untuk tidak lagi membuat motif naga mawar serta batu pusaka karena kedua motif tersebut telah dipatenkan di departemen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) oleh perusahaan itu. Wayan tidak ambil pusing dengan peringatan orang itu, motif itu ia yang temukan dan telah lama pula ia buat, kenapa mesti dilarang segala. Bukan cuma dia, tapi ada beberapa belas pengrajin yang sering membuat motif itu.</p>
<p>Dua bulan kemudian, Ketut menemuinya, mengatakan tidak akan membuat lagi motif naga mawar dan batu pusaka karena takut masuk penjara. Ketut bilang, perusahaan itu dimiliki Robert Neddis, orang Amerika yang sudah lama tinggal di Bali dan punya banyak uang dan dekat dengan aparat dan pejabat.</p>
<p>Chi cing!( Anjing!) orang itu mungkin bisa menakut-nakuti Ketut, tapi ia tidak takut.<br />
Tiga bulan berselang, seluruh pemasok perak di Bali, menolak menjual peraknya kepada Wayan. Alasannya macam-macam, mulai dari kehabisan stok sampai yang terang-terangan bilang takut menjual kepada Wayan karena adanya ancaman.</p>
<p>Mendapat kesulitan seperti itu, Wayan bukannya mundur, ia malah tambah kekeh untuk membuat motif naga mawar dan batu pusaka. Delapanpuluh persen kemampuan produksi studio digunakannya untuk membuat motif naga mawar dan batu pusaka. Soal bahan baku, karena ia tidak dapat membelinya di Bali, ia mencarinya di Jawa dan Lombok. Ia juga bertekad untuk tidak menyerah kepada Amerika keparat itu. Kalau orang-orang Jawa dan Lombok tidak mau lagi menjual perak kepadanya, ia akan cari bahan itu di Kalimantan kalau perlu sampai Sumatra.</p>
<p>Sialnya, bedebah Amerika itu juga tidak menyerah. Empat bulan kemudian, lima belas orang berpakaian preman menyatroni studio dan rumahnya pada suatu sore. Mereka menggeledahnya. Ia berusaha mencegah mereka, namun orang-orang itu galak sekali. Mereka mengancam akan memenjaranya dengan tuduhan telah menghalangi aparat. Wayan tidak berani menggunakan kekerasan. Ia mempunyai tinggi sekitar seratus enampuluh delapan sentimeter dan badannya tergolong besar di kampungnya. Tapi orang-orang yang datang itu lebih besar lagi. Kulit mereka juga lebih gelap dari kulitnya. Mempertimbangkan jumlah mereka yang banyak dan keadaan Ida, istrinya, Wayan memilih diam sambil memeluk Ida yang sedang mengandung tujuh bulan.</p>
<p>Wayan melaporkan kejadian itu kepada polisi keesokan harinya. Hasilnya, dua hari kemudian ia menerima surat dari polisi, mengatakan bahwa mereka menggeledah rumah dan studionya karena ia diduga telah melakukan pelanggaran hak cipta.<br />
Aneh sekali, digeledah dulu baru ada surat perintah penggeledahan. Keanehan tidak berhenti sampai di situ, seminggu kemudian tiga orang polisi serta dua orang berpakaian preman mendatangi studionya dan memintanya untuk mengikuti mereka ke kantor polisi. Ia mencoba untuk bertanya alasannya, namun mereka mengatakan akan menjelaskannya di kantor. Jadilah ia di sini sekarang, di dalam ruangan berjeruji besi.</p>
<p>Wayan masih memandangi jeruji besi di depannya. Jeruji itu masih belum menampilkan motif apa pun. Mungkin jeruji itu seperti juga perak, butuh lima tahun sebelum menampilkan motif pertamanya. Wayan mendesah. Ia capek. Ia sudah tigapuluh hari di ruangan dingin dan berbau busuk ini. Minggu kemarin Ketut mengunjunginya dan bilang, setelah teman-teman yang lain tahu apa yang menimpanya, mereka berdemonstrasi di DPRD Bali?meminta bantuan anggota dewan untuk membebaskannya. Namun ketika ia bertanya apa reaksi anggota dewan, Ketut bilang dewan tidak bisa mengintervensi proses hukum.</p>
<p>Kleng ci nok!Babi! Proses hukum apa? Jelas-jelas dia telah dihukum bahkan sebelum mengatakan apa pun di depan sidang. Ia juga harus mengeluarkan uang untuk membayar pengacara. Kata pengacaranya, sidangnya sendiri mungkin baru di mulai tiga bulan lagi.</p>
<p>Dua hari yang lalu, istrinya mengatakan Mister Richgood membatalkan pesanan dan mungkin tidak akan memesan apa pun lagi karena mereka mendapatkan ancaman pelanggaran hak cipta di Amerika sana. Kali ini Wayan sudah tidak mampu lagi memaki. Sebenarnya ia ingin sekali saat itu juga pergi ke tempat Amerika biadab itu, lalu mencincangnya. Makhluk itu  harus dicincang sampai benar-benar halus dan dagingnya diberikan kepada grogo, anjing kurap yang suka nongkrong di kebun belakang rumahnya. Tapi ia harus pastikan daging cincang bule itu benar-benar halus supaya gusi grogo tidak terluka saat mengunyahnya.</p>
<p>Namun Wayan tidak memaki, ia malah diam. Ia tahu marah tiada gunanya. Bule dedemit itu telah melumatkannya dari segala penjuru. Tidak ada yang bisa ia lakukan, jadi ia hanya memeluk Ida yang sedang mengandung anak pertamanya lalu membelai-belai punggung Ida hingga bisa merasakan tetesan hangat di dadanya?tempat Ida menyandarkan kepalanya sambil terisak.</p>
<p>Wayan termenung sambil memandangi jeruji besi yang masih saja polos. Tapi mungkin itu bagus juga karena bisa jadi setelah keluar dari tempat keparat ini ia tidak bisa lagi melihat motif apa pun pada cincin, gelang atau kalung perak polos. Namun, jika pun masih bisa, ia ragu, apa masih berani untuk mencungkil dan membuang lapisan-lapisan yang menutupinya.<br />
[]</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2009/11/latihan-menulis-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Latihan: From Abstract To Concrete 1</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/latihan-from-abstract-to-concrete-1/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/latihan-from-abstract-to-concrete-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 02:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[<p>Belajar menulis fiksi, seperti halnya mempelajari skill yang lain, seharusnya memerlukan latihan rutin.
Hasil yang bagus didapat dari latihan yang keras. Semakin bagus hasilnya, pasti semakin keras latihan yang telah dilakukan pemiliknya.
Tidak percaya? lihat saja latihan para atlet.</p>
<p>Dalam mengasah kemampuannya, para atlit melakukan sejumlah latihan dasar bertahap.
Misalnya beladiri: ada latihan pukulan, tendangan dan seterusnya.
Lalu tenis lapangan: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2009/10/brucelee-150x150.jpg" alt="brucelee" title="brucelee" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-35" />Belajar menulis fiksi, seperti halnya mempelajari skill yang lain, seharusnya memerlukan latihan rutin.<br />
Hasil yang bagus didapat dari latihan yang keras. Semakin bagus hasilnya, pasti semakin keras latihan yang telah dilakukan pemiliknya.<br />
Tidak percaya? lihat saja latihan para atlet.</p>
<p>Dalam mengasah kemampuannya, para atlit melakukan sejumlah latihan dasar bertahap.<br />
Misalnya beladiri: ada latihan pukulan, tendangan dan seterusnya.<br />
Lalu tenis lapangan: ada latihan forehand, backhand, poly, service, dan seterusnya.<br />
Mereka lakukan itu semuanya sebelum masuk ke tahap latihan tanding.</p>
<p>Belajar menulis seharusnya juga demikian, ada dasar-dasar yang harus dilatih.<br />
Dalam satu sesi pelajaran di<a href="http://www.dkj.or.id/?opt=pages&#038;cidsub=8&#038;pages_id=496"> Bengkel Penulisan DKJ 2009</a>, mentor kami memperkenalkan kami dengan latihan mengkonkretkan konsep abstrak.<br />
Menurutnya, konsep abstrak seperti cinta, benci, dendam, marah, iri, dengki, jika dimasukkan dalam deskripsi cerita akan membuat cerita menjadi samar dan menjemukan. Lebih jauh, penulis yang membuatnya bisa di golongkan penulis yang malas.<br />
Fiksi, menurutnya adalah bersifat konkret. Fiksi tidak menceritakan tentang cinta, tapi menceritakan tentang tindakan-tindakan orang jatuh cinta, putus cinta, dan lain-lainnya.</p>
<p><span id="more-13"></span><br />
Nah, latihan mengkongkretkan konsep abstrak ini seperti bermain-main tebakan. Kita menuliskan suatu konsep tanpa memasukkan kata tersebut atau kata yang bersinonim dengan kata tersebut lalu lihat apakah pembaca bisa menangkap konsep tersebut.</p>
<p>Berikut latihan yang saya lakukan.<br />
<strong><br />
1. Mendamba/Sangat menginginkan sesuatu</strong><br />
Ide: Seorang yang mendamba akan terus menerus mengingat hal atau barang yang dia inginkan. Jika itu sebuah barang, maka ia akan secara rutin mendatangi barang tersebut meski hanya untuk melihatnya saja.</p>
<p>Berikut pengembangan dari ide tersebut:</p>
<blockquote><p>Lelaki itu berjalan lagi ke bagian belakang sambil membelainya—mengikuti lekuk-lekuk itu.<br />
<em>Busyet dah, mulus banget</em>, pikirnya. </p>
<p>Perempuan cantik itu tersenyum.</p>
<p>Ia mundur dua langkah lalu memandangi keindahan di depannya—dari atas ke bawah, lalu depan ke belakang—sambil menggelengkan kepala.</p>
<p><em>Kalo tidak ada orang lain di sini, pasti aku akan memelukmu dan menciummu sepuas-puasnya. Lalu aku akan mendudukimu dan membelai-belai interiormu. Tahu kah kau, berbulan-bulan aku memikirkanmu. Menempelkan gambarmu di dinding kamarku juga menjadikan fotomu sebagai wallpaper notebookku. </em></p>
<p>
	“Gimana mas?” tanya suara merdu perempuan itu.<br />
Lelaki itu tersenyum.<br />
	“Mumpung Porsche baru masuk ke sini, jadi kita punya harga khusus,” kata perempuan itu sambil menyodorkan selembar kertas.</p>
<p>Pria itu mengambilnya, melihat angka-angka yang tertera di kertas itu lalu menelan ludah—persis seperti yang dia lakukan dua minggu sebelumnya, dan dua minggu bulan sebelumnya dan sebelum-sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Dengki<br />
</strong><br />
Ide: Seorang yang dengki, tidak senang melihat tetangganya atau orang lain mendapatkan sesuatu. Ia ingin hal yang didapat orang lain itu hilang dan kalau mungkin berpindah ke tangannya.</p>
<p>Berikut pengembangannya:</p>
<blockquote><p>Bu Marbun melihat lagi dari jendela kamarnya. Ini sudah ketiga belas kalinya dalam satu jam terakhir ia melihat melalui jendela itu sebuah mobil berwarna hitam mengkilap parkir di halaman rumah bu Arsya—tetangganya. Setiap kali selesai melihat, ia memonyongkan mulutnya lalu menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.<br />
<em>Belagu, sok pamer. Alah pasti mobil kreditan atau mungkin suaminya baru korupsi lagi? Mudah-mudahan besok tuh mobil nabrak, trus jatuh ke kali dan langsung meledak.<br />
</em><br />
Sesekali ia memukulkan kepalan kanannya ke tangan kirinya, lalu berjalan menjauhi jendela hanya untuk kembali lagi dan mengulangi hal tersebut beberapa menit kemudian.</p>
<p>Pembantunya yang melihat ulah majikannya itu jadi menggeleng-gelengkan kepala—meski sembunyi-sembunyi, karena kalo ketahuan pasti &#8216;disemprot&#8217; dan kalo lagi apes bisa dipotong gajinya. Seingatnya sudah dua hari ini majikannya itu <em>ngedumel</em> tak karuan dan terus menerus melihat ke jendela, memandang mobil baru milik bu Arsya, tetangga paling kaya di komplek.<br />
<em>Majikan yang aneh, padahal baru empat bulan yang lalu ia membeli mobil, masa sih pengen beli lagi?<br />
</em>
</p></blockquote>
<p><strong>3. Cantik<br />
</strong><br />
Ide: Lelaki yang melihat perempuan cantik akan terpesona.</p>
<p>Berikut pengembangannya:</p>
<blockquote><p>Saat gadis berleher jenjang, berambut hitam sebahu, bermata bulat sebening kristal dan hidung berlekuk indah, itu keluar dari pintu cafe, dua pemuda yang duduk di bawah tenda—dua meter dari pintu cafe—bersamaan menatapnya. </p>
<p>Gadis itu melenggok, seperti peragawati Paris memamerkan pakaian musim panas di atas <em>catwalk</em>, melewati mereka. Wangi mawar menyebar. Lalu angin nakal menyenggol dan menyibak rambutnya hingga sang gadis terlihat seperti sedang berakting di dalam film-film Hollywood.</p>
<p>Semua itu tak lepas dari pandangan kedua pemuda itu. Mereka menatapnya lekat seolah takut gadis itu akan lenyap ditelan bumi jika mereka berkedip.Mulut keduanya juga tampak terbuka. Kalau saja saat itu ada gerombolan lalat yang mencari sarang, mungkin mereka akan sudi mampir ke dalam mulut keduanya. Jakun pemuda yang duduk di sebelah kiri naik turun seperti tak henti-hentinya menelan makanan. </p>
<p>
Saat perempuan itu telah berbelok dan menghilang di tikungan, pemuda yang duduk di pojok kiri menatap temannya,<br />
	“Apa di surga ngga ada cafe sampe bidadari harus dateng ke sini?”<br />
Mendengar itu, temannya balas memandang,<br />
	“Gue tadi sampe ngebungkuk, ngeliat ke bawah.”<br />
	“Ngapain? Mau ngintip?”<br />
	“Bukan, pengen mastiin dia nginjek tanah!”
</p>
</blockquote>
<p>Yah, masih jauh dari bagus. Masih butuh banyak latihan. Bukankah <strong>practise make perfect? But I know, I&#8217;ll never perfect, never!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/latihan-from-abstract-to-concrete-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Writer&#8217;s Block: Kunci Kontak</title>
		<link>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/</link>
		<comments>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 12:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mailindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[writer's block]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mailindra.cerbung.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[<p>Writer&#8217;s Block atau kebuntuan saat menulis merupakan salah satu penyakit yang ditakuti oleh penulis.
Akibat dari sindrom ini jelas: Tidak ada hal yang bisa ditulis.
Kalo dibiarkan lama, minat bahkan kemampuan menulis bisa menurun bahkan hilang.</p>
<p></p>
<p>Seingatku aku pernah ngalamain sindrom ini selama dua bulan, dan selama itu, tidak ada yang aku tulis. Kemudian ada lomba kecil-kecilan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://mailindra.cerbung.com/wp-content/uploads/2009/10/writerblock-150x150.jpg" alt="writerblock" title="writerblock" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-37" />Writer&#8217;s Block atau kebuntuan saat menulis merupakan salah satu penyakit yang ditakuti oleh penulis.<br />
Akibat dari sindrom ini jelas: Tidak ada hal yang bisa ditulis.<br />
Kalo dibiarkan lama, minat bahkan kemampuan menulis bisa menurun bahkan hilang.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Seingatku aku pernah ngalamain sindrom ini selama dua bulan, dan selama itu, tidak ada yang aku tulis. Kemudian ada lomba kecil-kecilan yang diadakan temen dan aku pengen ikutan. Saat mencoba menulis aku terkejut tidak ada ide yang bisa keluar dan kalo dipaksain, kata-kata yang keluar jadi aneh dan tersendat-sendat. Akhirnya aku nyerah dan tidak ikutan lomba itu. Sedih? iya, tapi yang lebih menakutkan lagi, aku menyadari bakal kehilangan minat dan kemampuan menulisku.</p>
<p>Kalo dicari di internet, ada banyak tips untuk keluar dari penyakit ini, mulai dari istrahat, tidur, mandi, kerjakan aktivitas lain, dan lain sebagainya.<br />
Tapi ada juga yang menyarankan, meski terkena sindrom ini, disarankan untuk tetap menulis. Biasanya tips ini langsung diserbu sanggahan, wong ngga tau apa yang mau ditulis, eh malah disuruh nulis. Tips yang aneh <img src='http://mailindra.cerbung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .<br />
Tapi tips ini bener, biar dilanda Writer&#8217;s Block, tetep harus nulis. Masalahnya bagaimana dan apa yang mau ditulis kalo lagi buntu.</p>
<p>Aku menemukan tips yang kudapat dari mentorku di bengkel penulisan DKJ ditambah beberapa dari internet.</p>
<p>Tips-tips ini berguna kalo kita pengen membuat cerita tapi tidak tahu mau menulis tentang apa.<br />
1. Ambil tiga kata secara acak. Bisa yang kamu ingat, atau kebetulan lihat, lalu buat cerita yang MENGANDUNG ketiga kata itu. Tips ini dicobain di kelas, dan hasilnya bener-bener di luar dugaan.<br />
Kami disodorkan tiga kata: Peri, Cinta, Merah Jambu dan diberikan waktu sekitar lima menit untuk membuat cerita yang mengandung tiga kata itu. Meski tidak banyak yang kutulis dalam lima menit, aku bisa membuat adegan awal yang mengandung tiga kata itu. Lalu di rumah diminta untuk mengembangkannya menjadi satu cerita. Aku ikuti. Dalam waktu kurang dari satu jam aku bisa tuliskan cerita ini :</p>
<blockquote><p>
                                           <strong>Peri Cinta</strong><br />
Peri cinta, dengan wajah tertunduk, membuat langkah­langkah panjang menyusuri lorong<br />
Istana Langit. Ia melangkah begitu cepat hingga mengabaikan hormat yang diberikan oleh<br />
para penjaga. Saat telah mencapai gerbang singgasana, ia berhenti sesaat untuk menarik<br />
nafas.<br />
                “Hadapkan aku kepada Kaisar,” ucapnya kepada kepala penjaga.<br />
Kepala penjaga melemparkan tatapan aneh kepadanya. Saat ia membuka mulutnya, peri<br />
cinta mengangkat tangan kanannya, “ Lakukan saja, segera! Ini darurat.”<br />
Kepala penjaga menutup kembali mulutnya—mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia sadar<br />
sesuatu yang sangat penting pasti telah terjadi karena tidak setiap hari peri cinta<br />
menunjukkan wajah pucat dan ketakutan. Peri cinta biasanya selalu tersenyum hangat,<br />
menyebarkan perasaan damai dan bahagia kepada yang melihatnya. Namun hal itu tidak<br />
terjadi hari ini.<br />
                “Tunggu sebentar,” kata kepala penjaga yang lalu masuk ke ruang singgasana.<br />
Ketika kembali, ia mempersilahkan sang peri untuk langsung menghadap kaisar.<br />
                “Kau tampak tak biasa hari ini, ada apa?” tanya kaisar saat sang peri selesai<br />
                memberi hormat.<br />
                “Gawat Paduka, telur cinta &#8230; ,” katanya.<br />
Ia berhenti sesaat dan terlihat ragu menyelesaikan kalimatnya. Jeda itu memang hanya<br />
sekejap, namun dalam waktu yang sangat singkat itu kegundahan sang peri menyebar dan<br />
menyengat begitu kuat.<br />
Kaisar menatap tajam. Ia menahan diri—memberi kesempatan kepada peri cinta untuk<br />
menyelesaikan kalimatnya. Namun, tanpa bisa ditahannya, kegundahan sang peri perlahan<br />
menyengatnya.<br />
                “&#8230;Telur cinta Paduka,” ulang sang peri, ”Telur cinta telah berubah menjadi<br />
                hitam.”<br />
Deg!<br />
Mata kaisar sedikit membesar dan tubuhnya menegang. Ia tahu ini pertanda buruk. Telur<br />
cinta seharusnya berwarna merah jambu dan telah berabad­abad lamanya telur itu selalu<br />
berwarna merah jambu—menandakan cinta dan kebencian berada dalam keseimbangan.<br />
Hitam seperti halnya putih adalah dua kutub ekstrim yang hampir mustahil untuk tercapai.<br />
Saat telur cinta berwarna putih, telur itu memberi tahu bahwa seluruh manusia sedang diliputi<br />
cinta dan kasih sayang. Tiada lagi rasa benci di hati mereka. Sebaliknya hitam, memberi tahu<br />
para penghuni langit bahwa kebencian sedang merajai manusia.<br />
Mungkinkah telur itu salah? Pikir kaisar. Tapi selama berabad­abad telur itu tidak pernah<br />
salah?<br />
Ada setitik keraguan di ujung pikiran kaisar tentang keakuratan telur cinta, karena sebenarnya<br />
telur itu hanya memantau satu miliar sampel di dunia. Namun selama berabad­abad telur itu<br />
tidak pernah salah. Hanya kaisar dan peri cinta yang tahu manusia­manusia yang menjadi<br />
sampel, jadi mustahil dalam waktu yang bersamaan seluruh sampel dihinggapi kebencian.<br />
                “Apakah telah hitam sempurna,” akhirnya kaisar bersuara setelah lama diam.<br />
                “Belum Paduka. Namun perkiraanku hanya tinggal beberapa ribu sampel saja<br />
                yang belum tertulari rasa benci.”<br />
                Gawat, pikir kaisar. Saat dunia tidak dalam keseimbangan maka kehidupan di<br />
                langit juga akan demikian. Ia harus segera bertindak.<br />
­o0o­<br />
Dalam murung, peri cinta berjalan perlahan menyusuri lorong istananya. Setelah berbelok ke<br />
kiri, ia akhirnya sampai di ruang kerjanya. Peri cinta berhenti dan menatap sosok berjubah<br />
gelap yang berdiri lima meter di depannya. Sosok itu berwajah keras dengan jubah hitam<br />
terbuat dari logam metrinol. Pedang panjang terselip di pinggang kirinya, memperkuat citra<br />
gagahnya. Seharusnya sosok itu tidak disini. Istana ini bukan tempatnya.<br />
                “Ares,” katanya.<br />
Ares, sang dewa kebencian melangkah mantap ke arahnya. Matanya menatap lurus ke arah<br />
peri cinta dengan ekspresi sedingin malam.<br />
              “Apakah dia telah mengetahuinya?” tanya Ares tanpa melepaskan<br />
              pandangannya.<br />
Sang peri mengangguk lemah, menunduk, mencoba menghindar dari tatapan Ares. Guratan<br />
kesedihan tergambar jelas di wajah peri cantik itu. Bagaimana tidak, selama berabad­abad<br />
dia berhasil menebarkan cinta ke penjuru dunia, hingga pengaruhnya dan pengaruh<br />
kebencian selalu berada dalam keseimbangan. Namun kini keadaan telah berubah. Sang peri<br />
tak yakin bagaimana harus bersikap.<br />
Ares semakin mendekat.<br />
Peri cinta mengangkat wajahnya dan matanya yang bulat dan indah menatap lekat Ares. Ia<br />
adalah peri yang selalu menebarkan cinta dan kebahagian ke penjuru dunia. Dihadapannya<br />
berdiri dewa kebencian yang menjadi sisi lain dari keseimbangan dunia. Mereka berada pada<br />
dua sisi yang berseberangan. Mereka seharusnya tidak berada disini, di tempat yang sama.<br />
Ares akhirnya berada tepat dihadapan peri cantik itu.<br />
Tatapannya menghujam langsung ke dalam mata sang peri. Mata mereka beradu. Tak ada<br />
kata yang terucap saat itu, namun mereka bisa saling mendengar perdebatan sengit batin<br />
mereka. Saat Ares mengangkat kedua tangannya, peri cinta telah memeluknya. Perlahan<br />
rasa gundah menguap dan digantikan oleh kehangatan cinta. Dalam sekejap aura cinta<br />
kembali menyelimutinya.<br />
Tanpa perlu bertanya, Ares tahu kegundahan itu. Ia balas mendekap erat sang peri.<br />
              “Kita saling membutuhkan kekasihku,” kata Ares, “Segera setelah kurebut tahta<br />
              langit, berdua kita akan memimpin kerajaan ini.”<br />
Peri cinta hanya diam dalam pelukan Ares. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala<br />
pertentangan yang ada. Saat­saat seperti ini sangat sukar didapat. Karenanya ia tidak ingin<br />
menyia­nyiakannya.<br />
Cinta selalu butuh pengorbanan dan dalam cinta segala rahasia harus dibuka, pikir sang peri.<br />
Namun, ketika ia kembali teringat akan kaisar, perasaan bersalah kembali mengental dalam<br />
hatinya. Tidak diragukan, ia telah menghianati kaisar langit dengan memberitahu Ares<br />
segalanya. Ia tahu, Ares pasti menggunakan informasi itu untuk meraih ambisinya. Namun,<br />
jika ingin bersatu dengan kekasihnya, ia harus berjuang menyingkirkan perasaan itu.<br />
Cinta selalu butuh perjuangan.<br />
Ares mempererat dekapannya, seolah ingin mengungkapkan terima kasih atas segala<br />
pengorbanan sang kekasih. Hanya karena bantuan peri cinta, ia bisa menjalankan<br />
rencananya. Berbulan­bulan ia telah menyebarkan kebencian kepada para manusia yang<br />
diamati oleh telur cinta. Namun, betapa keras pun Ares berusaha, tetap ada puluhan ribu<br />
manusia yang tidak dapat dipengaruhinya. Mereka adalah manusia­manusia kuat yang selalu<br />
menjaga hatinya, menyingkirkan kebencian dari diri mereka. Manusia­manusia itu sanggup<br />
menggunakan kekuatannya tanpa rasa benci sebagai motivasinya. Hal itu membuat Ares<br />
tidak mampu untuk membuat telur cinta berwarna hitam sempurna. Dan jika belum hitam<br />
sempurna, kekuatan kaisar langit masih belum bisa dikalahkannya.<br />
               “Apakah dia akan bertindak?” tanya Ares.<br />
               Peri cinta melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Ares.<br />
               “Aku tak tahu.”<br />
               “Aku harus pergi,” kata Ares yang lalu berbalik meninggalkan peri cinta menuju<br />
               pintu rahasia istana cinta.<br />
­o0o­<br />
Peri cinta termangu menatap pemandangan kerajaan langit dari balik jendela ruang kerjanya.<br />
Semuanya tampak tenang dan damai. Namun ia sadar, sebentar lagi kekacauan akan<br />
bergulung menghantam.<br />
Demi cintanya, ia telah mengatakan rahasia telur cinta kepada Ares. Kekacauan mungkin<br />
akan terjadi di dunia, tapi tak pernah terlintas dalam pikirannya kekacauan akan merambah<br />
ke kerajaan langit. Ia yakin sekali, telur cinta tak akan pernah hitam sempurna. Dan sebelum<br />
hitam sempurna, Ares tak akan punya nyali untuk menyerang kaisar.<br />
Kini, tampaknya ia harus mengakui kesalahannya. Ares memang ahli strategi ulung. Ia pasti<br />
telah memperhitungkannya. Segera setelah kaisar mengetahui ketidakseimbangan kekuatan<br />
di dunia, ia akan membagi­bagikan kekuatannya kepada pasukan langit untuk<br />
menyeimbangkan dunia. Dan saat para pasukan telah dikirim ke dunia&#8230;<br />
“Ah,” sang peri berdesah gundah, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi saat Ares<br />
dan pasukannya menyerbu istana langit.<br />
Semua ini salahnya. Semua ini salah cinta. Cinta yang membuat kekacauan ini terjadi.<br />
[]<br />
Ronny Mailindra<br />
Jakarta, 5 Oktober 2009
</p></blockquote>
<p>Dengan modal tiga kata, aku bisa tuliskan seribu kata dalam waktu satu jam, kalo dua jam berarti dua ribu kata dan kalau sebulan melakukan itu selama duapuluh hari berarti 40.000 kata. Itu jumlah yang cukup untuk satu novel!</p>
<p>2. Ada yang menyarankan mengambil secara acak 3 buah lagi MP3 di komputer, lalu mendengarnya. Setelah ini tulis cerita berdasarkan tiga lagu itu. Aku belum coba ini, tapi sepertnya menarik.</p>
<p>3. Ambil sebuah gambar, entah gambar apa saja, lalu coba ceritakan apa yang dilihat pada gambar.</p>
<p>Aku yakin masih banyak tips lain yang bisa memecah kebuntuan menulis. Daripada menunggu dewi inspirasi yang tak kunjung datang, mending mulai menulis dan yakinlah sang dewi akan datang begitu kita telah mulai menulis.</p>
<p>Tips-tips di atas hanyalah kunci kontak agar kita mulai menulis dan memancing pikiran serta inspirasi untuk muncul.<br />
Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mailindra.cerbung.com/2009/10/writers-block-kunci-kontak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

