Padepokan Bercerita

Cerpen Fantasi : Boxinite

Posted by in Cerpen

Oleh: R.Mailindra Meski waktu melaju, ego dan nafsu menaklukkan tak lekang dimakan zaman. Malah cenderung mengental dan membesar. Ketika dikemas dalam bungkus olahraga hiburan, maka bisnis besarlah yang muncul. Di Bumi ada tinju, Planet X31 di Galaksi Andromeda punya boxinite, Turbosolerum di Centaurus-A punya xiatermid. Galaksi boleh terpisah, ras boleh beda, tapi semuanya punya kesamaan. Menaklukan lawan di atas ring. Namaku Trey. Tahun 2498 M, di usiaku kedelapan belas, aku petinju amatir di Indonesia. Sayang, karirku tidak pernah gemilang. Lima tahun setelah mencoba peruntungan, aku pun menggantungkan sarung tinju. Aku…read more

Obsesi Kembaranku – Bagian 3

Posted by in Cerpen

Rey melongo saat melihatku. Bergantian ia pandangi Wini dan aku. Wini berjalan mendekatiku. “Kayanya pacarmu belum betul-betul kenal kamu, Na. Dia menciumku!” kata Wini sambil mengedipkan mata lalu menyerahkan mawar merah di tangannya. Reynaldi tersipu. Kulihat wajahnya memerah. “Sorry, Na. Kok kamu ngga bilang punya saudara kembar?” Aku tersenyum kecut. Aku maafkan kau, Rey. Papa saja suka salah membedakan aku dan Wini. ***

Obsesi Kembaranku – Bagian 2

Posted by in Cerpen

Wini membuat hidupku bagai di neraka. Keinginannya—yang mungkin sudah menjadi kegilaan—untuk selalu mengambil pacar-pacarku, membuatku ikut-ikutan gila. Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Kini aku hanya bisa duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil menatap televisi di depanku. Entah apa acaranya. Meski mataku menatap kotak bergambar itu, tapi pikiranku mengembara. Suara sepatu mendekat. Aku menoleh ke arah tangga. Kulihat Wini telah selesai berdandan dan melangkah ke arahku. Tank top dan celana jin ketat membalut tubuhnya. Ia terlihat cantik dan sangat seksi. Jelas saja Johan—pacar kedua—runtuh imannya. “Pergi dulu ya, Kakak,” kata Wini sambil tersenyum dan…read more

Obsesi Kembaranku – Bagian 1

Posted by in Cerpen

Mungkin lupa, mungkin sengaja, aku tak tahu. Yang kutahu pintu BMW hitam itu tidak terkunci. Aku dengan mudah membukanya. Saat pintu terbuka, dua setan yang sedang bercinta di dalamnya refleks melihatku, tapi hanya satu yang terperangah. Reynaldi, Si Terperangah itu ada di bawah. Celana jinnya melorot hingga lutut. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat bagian telanjang tubuh Reynaldi menempel di kulit Si Betina—kulit mulus Wini, saudari kembarku. Rey ketakutan. Kupikir sudah seharusnya ia ketakutan melihatku memegang pistol yang siap menyalak. “Wina… please,” kata Rey dengan suara memelas, “maafkan aku.” Aku menggeleng. Kutarik napas. Beribu kenangan…read more

Untung Untung Sejati –Cerpen di Pikiran Rakyat 4 Mei 2014

Posted by in Cerpen

Cerpen Ronny Mailindra Untung Sejati. Mungkin, saat aku lahir, Bapak berdoa agar nasibku akan sebagus namaku itu, tanpa sadar sudah menjerumuskanku. Barangkali Bapak habis membaca cerita tentang Untung Surapati, seorang bocah beruntung—yang dikemudian hari menjadi pembesar dan beberapa ratus tahun kemudian diangkat sebagai pahlawan—tanpa sadar nama itu sebenarnya sebuah gelar. Harusnya Bapak tahu bahwa aku tidak ditakdirkan untuk mendapat anugerah sebagus itu dan pastinya tak bakal menjadi pahlawan. Memikirkan soal namaku, dan hal yang terjadi seminggu ini, dan bagaimana pagi ini dimulai, serta deretan mobil di depan, kupikir namaku seharusnya…read more

Cerpen Fantasi: Salju Terakhir

Posted by in Cerpen

Salju Terakhir adalah cerpen fantasi yang terpilih untuk tampil di buku kumpulan fiksi fantasi 2012. Khusus pengunjung blog ini, kupersembahkan cerpen ini untuk bisa dinikmati di sini. Jika punya komentar ataupun saran silakan tulis di kolom komentar. Jika tertarik untuk membeli buku ini, kalian bisa mendapatkannya di nulisbuku.com. Selamat membaca. Salju Terakhir Oleh: R.Mailindra Lengah pangkal celaka. Nasehat itu tak mungkin kuabaikan. Mendengar namanya saja segera membuat kantukku menguap, dan begitu kulihat tampangnya, kuyakin akan celaka berlipat jika sampai lengah. “Kau mampu menghianati Tuanmu, apa jaminanmu tak membokongku?” Lelaki lusuh…read more

Cerpen Suspense: Si Gendut Yang Licin

Posted by in Cerpen

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kirinya. Sambil terus tersenyum, sang resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang. Saat kembali, ia membawa sebuah amplop.

Sang Kritikus: Sangkuriang (Bagian 2)

Posted by in Cerpen

[BAGIAN 1 BISA DIBACA DI SINI >>>] Sesaat kemudian kulihat batu itu pecah berkeping. Pecahan batu beterbangan menutupi pandanganku. Ketika debu-debu telah hilang, tampaklah sesosok pemuda. Ia berdiri dengan kujang di tangan kanannya. Tubuhnya tegap dan di kepalanya melilit kain. Wajahnya mirip bintang sinetron Korea. Sungguh tidak cocok muka seapik itu dengan tubuhnya yang demikian kekar. Ampun, menggelikan sekali.

Sang Kritikus: Sangkuriang (Bagian 1)

Posted by in Cerpen

Oleh: R. Mailindra (twitter: @mailindra ) Gambar: sumber wikipedia Kabut putih di depanku kian menipis. Guncangan-guncangan juga semakin mereda. Tapi kekesalanku belum juga sirna. Ampun, susahnya. Kekesalanku semakin menebal saat tawa dan ejekan kembali berputar di kepalaku. Klise, tuan, hanya tukang foto keliling yang pakai. “Sontoloyo!” Dimaki begitu dia malah tergelak. Dan, spesies mereka juga hampir punah. Ia tertawa lebih keras lagi.

Merzen

Posted by in Cerpen

Ketika bangun pada pukul tujuh pagi, hal pertama yang Tommy lakukan adalah memeriksa bokongnya. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Ia seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk itu serta merasakan sebuah … ekor. Ekor? Tommy segera terduduk di tempat tidurnya. Mata terbuka penuh. Refleks ia melihat ke belakang saat merasakan kejanggalan. Tangannya kanannya seperti sedang memegang seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter di balik celana dalamnya. Di mimpinya semalam, ia mempunyai ekor yang panjang—sampai kira-kira sepanjang kaki—tapi sekarang, setelah bangun, mengapa ia masih mempunyainya? Dan mengapa pula hanya dua jengkal?…read more