About Me

R.Mailindra

Mei 2008 adalah saat bersejarah dalam hidupku. Itulah bulan saat aku tiba-tiba ingin menulis sebuah novel. Keinginan itu datang tiba-tiba saja seperti sebuah wahyu. Padahal sampai saat itu aku cuma seorang penikmat novel. Tidak terlalu maniak. Bacaanku lebih banyak tentang petualangan.

Aku suka cerita detektif dan misteri. Saat itu aku baru selesai membaca buku-buku spionase karya Robert Ludlum, sang pencipta JASON BOURNE. Entah mengapa sebuah pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Mengapa di Indonesia jarang sekali pengarang yang menerbitkan buku seperti ini? Lalu, seperti petir yang menyambar kilang minyak, pertanyaan di kepalaku berkobar membesar. Berapa banyak cerita aksi seseru ini ditulis pengarang Indonesia? Silakan adakan riset ke toko buku. Mungkin hasil yang kaudapat tak jauh dari hasil risetku. NYARIS TIDAK ADA.

Selain novel suspense dan thriller, aku juga menyukai film yang menampilkan kecanggihan teknologi. Keseukaanku adalah film The Matrix. Dua hal itu, yang sama-sama menampilkan aksi seru– rupanya menyatu di kepalaku. Pertanyaan di kepalaku mengganas tak terhentikan. Berapa banyak novel bertema suspense teknologi yang dibuat penulis Indonesia? Yah, kau bisa tebak sendiri hasilnya.

Seorang penulis pernah berkata, jika ada novel yang ingin kau baca namun tidak kau temukan, maka tugasmu lah untuk menuliskannya. Mungkin itulah yang terjadi padaku saat itu. Sebuah ide novel suspense teknologi tiba-tiba muncul di kepala. Aku menuliskannya dan draft pertama novel itu selesai setahun kemudian.

Para montir Bengkel Novel DKJ 2009

Bersama Peserta Bengkel Novel DKJ 2009 dan Para Guru

Sayangnya, seperti kebanyakan tulisan pemula, aku merasa tak puas dengan karyaku. Aku merasa banyak yang kurang. Namun aku juga tidak tahu letak kekurangannya. Setelah bergaul di sekian banyak forum menulis, seperti  di situs www.kemudian.com, suatu hari aku menemukan pengumuman tentang kursus menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Aku mendaftar dan diterima. Di sana aku berkenalan dengan teman-teman yang kelak menjadi sahabatku di Sarekat Penulis Kuping Hitam. Pengalamanku di grup menulis itu aku tulis di halaman ini.

Setelah Bengkel Novel DKJ berakhir, ternyata pertemananku dengan para peserta yang lain, juga dengan guru menulisku, tidak ikut selesai. Kami malah menggarap karya yang terbilang sulit, yaitu sebuah novel kolaborasi. Buatku itu sebuah pengalaman yang tak terlupakan, baik sebagai pengalaman hidup maupun sebagai pelajaran menulis. Guruku, serta editor karya itu menuliskan proses kreatifnya di sini.

Karya tersebut akhirnya terbit di awal tahun 2011, sebuah novel bersampul kuning terang dengan judul Lenka.

Novel Lenka for sale

Novel Lenka di rak buku Gramedia Bandung

Ketika novel Lenka terbit, sebuah pengalaman yang jauh lebih seru terjadi. Mas Yusi A. Pareanom, guruku, editor Lenka merangkap petinggi penerbit membuatkan acara peluncuran. Novel Lenka diluncurkan bertepatan dengan Biennale Sastra yang diadakah di Salihara, Jakarta. Diundang pada acara diskusi dua orang pembicara terkenal. Yang pertama novelis Ayu Utami dan yang kedua adalah kritikus sastra Profesor Manneke Budiman.

Bersama para penulis dan editor novel Lenka

Bersama para penulis dan editor novel Lenka

Salah satu reportase acara tersebut bisa dibaca di VHR Media.

 

Alhamdulilah, meski termasuk karya kontemporer yang tak biasa, novel tersebut cukup disukai. Kau bisa melihat beberapa reviewnya di goodreads.com.

Berhubung sudah beberapa tahun novel itu beredar, mungkin sudah agak susah untuk menemukannya di toko buku. Namun jika kau berminat untuk membelinya, kau bisa menghubungiku.

Agak mundur sedikit, setelah menuntaskan kursus itu pada tahun 2009, aku masih terus memoles draft novel yang kuimpikan untuk terbit. Di samping itu aku mulai mengikuti lomba-lomba menulis. Pada tahun 2010, salah satu cerpenku yang berjudul ‘Boxinite‘ terpilih untuk ikut diterbitkan dalam kumpulan cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang diselenggarakan oleh Kastil Fantasi.

Buku pertamaku, Fantasy Fiesta 2010 terpajang di rak buku Gramedia Grand Indonesia

Buku pertamaku, Fantasy Fiesta 2010 terpajang di rak buku Gramedia Grand Indonesia

Sebenarnya kumpulan cerpen Fantasy Fiesta 2010 itu adalah buku pertamaku. Ia terbit sebelum novel Lenka. Kau tahu, ternyata cukup mengharukan melihat karyamu dipajang di toko buku. Mungkin semua penulis terharu melihat buku pertamanya tampil di rak toko buku, seperti melihat bayi yang baru lahir. Dan itu pastilah hal yang ‘penulisawi’.

Berhubung fantasi fiesta adalah pestanya para penulis fantasi Indonesia, aku jadi berkenalan dengan para penghuni kastil fantasi. Gambar berikut diambil saat kami talk-show di radio DFM Jakarta. Lihatlah, orang-orang asik semua di sana.

Siaran di DFM Jakarta

Siaran di DFM Jakarta

Bersama Penghuni Kastil Fantasi di DFM Jakarta

Bersama Penghuni Kastil Fantasi di DFM Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekarang, di tahun 2013 , novel yang kuimpikan untuk terbit belum kunjung muncul di toko buku. Untungnya kabar gembira kudapatkan di pertengahan tahun ini. Sebuah penerbit besar tertarik untuk menerbitkannya. Namun tentu masih butuh kerja keras untuk membuat karya tersebut layak dijual.

[Update: Novel Spammer akan terbit di pertengahan tahun 2015]

Begitulah sekilas, yang ternyata panjang juga–tentangku. Sebelum kututup tulisan ini, ijinkan aku menyemangati kawan-kawan senasibku. Kalau kau seorang penulis pemula, saranku jangan cepat menyerah. Teruslah menulis, dan bergabunglah dengan komunitas menulis. Mungkin mereka tak bisa mendongkrak kemampuan menulismu, tapi percaya padaku, kau akan merasa gembira mengetahui bahwa kau bukanlah spesies terakhir dari jenismu.

Salam,

Ronny Mailindra