Cara Menulis Deskripsi Novel dan Cerita Pendek (Cerpen)

Posted by in Tips Menulis Cerpen dan Novel

Setelah membaca Tips Membangun Dunia Cerita yang Meyakinkan, seorang pembaca memberikan pertanyaan ini:

setelah membaca tips kak roni di atas aku jadi mendapatkan pencerahan, tapi aku punya masalah aku sedikit sulit mendeskripsikan sesuatu yg aku ingin pakai di ceritaku kak. Aku suka susah menjelaskan dengan kata2 apa yg ingin aku ceritakan seperti bagaimana settingannya, sosok tokohnya, atau benda2 yg ada disekitar tokoh. Suka bingung sendiri gimana ngegambarin lewat kata2nya

Pertanyaan bagus. Inti pertanyaan ini adalah: bagaimana cara menulis deskripsi pada novel dan cerpen? Click To Tweet

Deskripsi adalah salah satu komponen dasar dari cerita. Jadi, kalau ingin membuat cerpen atau novel, kau harus bisa menjelaskan hal-hal tersebut lewat kata-kata.

Memang ada sedikit penulis yang dikaruniai bakat dan naluri untuk membuat deskripsi tanpa mereka perlu bersusah payah mempelajarinya, namun sebagian besar harus berjuang untuk mempelajarinya. Dengan latihan, kau akan mampu membuat deskripsi yang bagus.

Sayangnya, akku tidak cukup beruntung untuk mendapatkan talenta alami untuk menuliskan deskripsi. Mungkin sesaat sebelum rohku ditiupkan ke tubuhku, aku lupa meminta talenta ini kepada Tuhan, namun untunglah latar belakangku sebagai programmer, membuatku terbiasa mencari langkah-langkah praktis untuk menguasai suatu keahlian. Dan aku telah menemukannya. Sekarang aku akan membagikan rahasianya kepadamu.

Sebelum Menulis Deskripsi Cerita

Pertama, sebelum membahas langkah-langkah untuk membuat deskripsi, sebaiknya kuberi tahu fungsi dari deskripsi. Deskripsi dalam cerita berfungsi untuk membuat pembaca merasakan dunia di dalam cerita melalui indra mereka. Jadi target menuliskan deskripsi adalah untuk membuat pembaca dapat melihat, mendengar, bahkan merasakan hal-hal yang terjadi di dalam cerita.

Hal selanjutnya yang perlu diketahui sebelum membuat deskripsi adalah scene atau adegan tempat deskripsi digambarkan. Ini penting karena sering penulis lupa bahwa deskripsi yang ia buat seharusnya membuat adegan jadi hidup karena pembaca bisa mengamati dunia tempat adegan berlangsung. Jangan sampai deskripsi yang dibuat malah menimbun pembaca dengan hal-hal yang tidak mendukung cerita. Kalau kau sudah mulai menuliskan deskripsi kau akan sadari, bahwa sangking asiknya kau membuat deskripsi, akan banyak deskripsi yang ingin kau tulis padahal deskripsi itu tidak terlalu penting.

Pesan yang selalu aku ingat dari pelajaran menulisku adalah: “Deskripsi selalu akan membuat cerita berhenti!”.

Ini berbahaya karena jika cerita terlalu lama berhenti, akan membuat pembaca bosan dan akhirnya berhenti membaca.

Langkah-langkah Menulis Deskripsi Cerita

Membuat pembaca mengamati hal-hal yang terjadi di dalam cerita, tak jauh berbeda dari caramu mengamati hal-hal di sekitarmu. Berhentilah membaca lalu coba amati hal yang sekarang sedang terjadi di sekitarmu. Apa kau sedang berada di kamar dan menatap komputer? Apa yang kau lihat? Sepikah kamarmu atau kau sedang mendengaran sebuah lagu cinta? Apakah kamarmu wangi atau berbau apak?

Jika kau menjawab pertanyaanku di atas, maka kau sedang mendeskripsikan suasana kamarmu. Jadi ini rahasia menulis deskripsi. Catat baik-baik.

Rahasianya adalah Panca Indra. Kau bisa menuliskan deskripsi dengan menjelaskan hal-hal yang sedang berlangsung lewat panca indra karakter atau narator.

Agar lebih mudah, berikut ini langkah-langkah untuk menulis deskripsi:

  1. Tentukan adegan yang ingin dilakukan oleh karakter dalam cerita.
  2. Indra penglihatan: apa yang karakter atau narator lihat?
  3. Indra pendengaran: apa yang karakter atau narator dengar?
  4. Indra penciuman: aroma apa yang tercium? Wangi atau bau?
  5. Indra peraba: apakah benda yang disentuh oleh karakter terasa kasar/halus, panas/dingin?
  6. Indra yang lain: apakah ruangnya terasa sumpek atau luas?
  7. Emosi: perasaaan apa yang timbul pada karakter sekarang? Takut, senang, bingung, atau yang lainnya?

Jawablah pertanyaan di atas lalu masukkan dalam cerita. Semakin spesifik jawabanmu, semakin bagus deskripsimu.

Namun, kau tidak perlu menjawab semua pertanyaan di atas. Aturlah sedemikan rupa agar penjelasannya tidak bertele-tele dan mendukung cerita. Di sinilah gunanya banyak membaca. Dengan banyak membaca cerita yang bagus, kau akan tahu berapa banyak deskripsi yang bisa kau masukkan tanpa mengganggu cerita. Sebagai patokan, biasanya indra penglihatan dan pendengaran selalu ada dalam deskripsi.

Latihan Menulis Deskripsi

Tulisan ini rasanya akan menjadi khotbah yang sia-sia jika tidak disertai contoh. Jadi agar menjadi lebih berguna, langkah-langkah di atas akan coba kita latih dengan sebuah contoh.

Sebelumnya, karena ini cuma sebuah latihan, aku sarankan kau mencoba membuat deskripsi dari sebuah gambar atau foto. Dalam novel atau cerpen yang kau garap, dunia di dalam cerita sebaiknya terlebih dahulu jelas tergambar di dalam pikiranmu sebelum kau coba untuk menuangkannya dalam tulisan.

1. Detektif di Sebuah Kafe

Latihan Menulis Deskripsi Novel dan Cerpen menggunakan foto kafe

Latihan Menulis Deskripsi Novel dan Cerpen menggunakan foto kafe

  • Adegan: Seorang detektif sedang menunggu kedatangan seorang informan.
  • Lokasi: Di dalam kafe
  • Penglihatan: Dinding kafe berwarna kuning dan pengunjungnya banyak.
  • Penciuman: Aroma kopi dan donat tercium
  • Pendengaran: Lagu rock terdengar.
  • Peraba: Udara terasa sejuk karena pendingin udara
  • Emosi: karakter merasa was-was.

Setelah informasi tentang adegan, panca indera dan emosi terkumpul, kita bisa mulai menuliskan adegan dan deskripsinya:

Aku melirik arlojiku. Pukul satu lewat tiga puluh menit. Artinya tiga puluh menit telah berlalu. Ini mungkin salahku karena aku datang terlalu cepat ke kafe ini, tapi aku memang tidak ingin terlambat apalagi sampai kehilangan informan ini. Jarang-jarang Kang Juned mau bertemu. Dia adalah informan paling terpercaya di Bandung dan aku harus mengeluarkan banyak uang agar ia mau bertemu dan sedikit “bernyanyi”.

Wangi kopi mengambang di udara. Kulihat cangkir kopi di mejaku tinggal setengah. Aku tidak boleh merokok di ruangan ini. Dan karena aku agak gugup, aku jadi terus-menerus menyesap kopiku.

Kuedarkan pandangan. Kuningnya warna dinding kafe mengingatkanku akan peringatan bahaya. Hampir semua rambu yang menyiratkan untuk berhati-hati selalu berwarna kuning. Ini membuatku semakin was-was. Aku khawatir Kang Juned tidak datang. Dan sialnya, musik rock yang mengalun di dalam kafe membuat adrenalinku mengalir semakin deras.

Ponselku berdering. Terkejut, aku segera mengambil ponselku dari saku jaketku. Kulihat nama Kang Juned tampil di layar. Aku melirik ke arah pintu masuk kafe. Seorang pria jangkung berambut pendek tampak sedang menelepon di luar. Degup jantungku semakin kencang. Kang Juned sudah berada di depan kafe.

2. Detektif Membuntuti Seseorang di Area Parkir

Deskripsi berikut aku ambil dari potongan novelku  yang berjudul Spammer.

  • Adegan: Seorang detektif sedang membuntuti seseorang.
  • Lokasi: Area parkir.
  • Penglihatan: Area parkir penuh dengan mobil-mobil baru. Lampu neon tampak menerangi area parkir.
  • Penciuman: tercium bau asap mobil dan udara pengap.
  • Pendengaran: suara mobil.
  • Peraba: Udara pengap
  • Emosi: geram dan was-was.

Ah, Si Gendut bergerak, pikir detektif itu.
Si Gendut berjalan ke kanan ruangan. Detektif itu segera bangkit lalu mengikuti.

Si Gendut tampak berjalan menuju area parkir di lantai dasar. Napas detektif itu memburu. Ia mempercepat langkah dan bertanya dalam hati, “mau apa Si Gendut di tempat parkir?”

Udara di area parkir terasa pengap; bau asap membekap area itu. Detektif itu melihat banyak mobil yang parkir di sana. Pemandangan itu membuat detektif itu merasa lega, artinya wajar  jika banyak orang berkeliaran di area parkir.

Si Gendut berbelok ke kanan lalu tampak akan mendekati sebuah mobil kijang berwarna hitam.

Detektif itu memperpendek jarak. Si Gendut hanya berjarak tujuh meter di depan. Apa pun yang terjadi, detektif itu tak ingin kehilangan targetnya.
Sambil terus berjalan, detektif itu mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Cahaya lampu neon di langit-langit membuat kijang hitam di depan tampak berkilap. Kini detektif itu yakin kijang hitam itulah yang dituju Si gendut.

Tebakan yang tepat. Di samping pintu depan mobil kijang, Si Gendut berhenti lalu mengeluarkan kunci dari amplop. Tapi, seperti merasakan sesuatu, Si Gendut menoleh ke belakang, menatap Sang Detektif.

Sang Detektif mendengus. Ia sudah memperkirakan hal itu. Memasang tampang dingin, tak mempedulikan tatapan Si Gendut, detektif itu terus melangkah.

Si Gendut berbalik, lalu membuka pintu mobil kijang.

Detektif itu mempercepat langkah, lalu mengambil ponsel dari kantung jaketnya. Saat Si Gendut sedang memasuki mobil, detektif itu melintas di depan mobil kijang Si Gendut. Sang Detektif berhenti, dan menatap lurus ke depan—ponselnya ia dekatkan ke telinga, sedemikian rupa sehingga kamera ponsel mengarah ke mobil Si Gendut—lalu menekan sebuah tombol.

Detektif itu mengoceh tanpa suara, seolah sedang menerima telepon. Ia lalu melanjutkan langkah sambil melihat gambar pada ponsel.

Gerung mobil terdengar—mobil kijang Si Gendut bergerak. Detektif itu menekan beberapa tombol untuk menelepon.
“Bintang, target bergerak. Kijang hitam, pelat B 5-…,” kata detektif itu cepat. “Kau tempel, aku susul.”

 3. Giliranmu

Belajar menulis itu seperti belajar naik sepeda dan berenang. Kau bisa membaca beratus-ratus teori, tapi tanpa latihan, kau tak akan pernah bisa. Nah, sekarang giliranmu untuk mencoba. Pilih sebuah gambar, lalu ikuti langkah di atas. Silakan share di bagian komen, atau kau bisa juga memberitahuku lewat email di ronny at mailindra.com . Aku sangat ingin tahu hasil latihanmu.

Jika kau ingin mendapatkan tips menulis terbaru dariku, kau bisa mendaftar di newletter berikut. Gratis!

Newsletter (Gratis)

* indicates required

Info yang diinginkan

 

Selamat mencoba dan salam menulis.

Ronny Mailindra

PS: Suka tulisan ini? Adakah temanmu yang membutuhkan tips menulis deskripsi ini? Silakan share dengan mereka. Terima kasih.