Obsesi Kembaranku – Bagian 3

Posted by in Cerpen

Rey melongo saat melihatku. Bergantian ia pandangi Wini dan aku.

Wini berjalan mendekatiku.

“Kayanya pacarmu belum betul-betul kenal kamu, Na. Dia menciumku!” kata Wini sambil mengedipkan mata lalu menyerahkan mawar merah di tangannya.

Reynaldi tersipu. Kulihat wajahnya memerah.

“Sorry, Na. Kok kamu ngga bilang punya saudara kembar?”

Aku tersenyum kecut.

Aku maafkan kau, Rey. Papa saja suka salah membedakan aku dan Wini.
***

Wini benar-benar merampok kebahagianku. Kencanku dengan Rey sore ini benar-benar tak karuan. Kini kami duduk di sofa dengan perasaan canggung. Padahal aku belum memperkenalkan dia dengan mama dan papa. Kedua orangtuaku belum pulang.
“Harusnya aku curiga melihat tatapannya, Na,” kata Rey, “meski mirip, adikmu itu seperti belum pernah melihatku. Harusnya aku curiga. Bodohnya aku. Memalukan. Tapi kok dia diam aja waktu kucium?”

Diam? Hari ini mungkin dia diam. Kau tak akan tahu apa yang dilakukannya besok! Pikirku.
“Rey,” kataku.

“Ya, sayang.”

“Maukah kau berjanji?”

“Janji apa, Na?”

“Bahwa kau tidak akan menghianatiku?”

Rey diam lalu memandangiku. Ia seperti mencari sesuatu di dalam mataku.

“Kenapa, Na? Aku kan sudah minta maaf soal mencium adikmu tadi. Apa karena itu kaupikir aku akan menghianatimu?”

Kali ini aku yang diam.

Sebuah panggilan terdengar.

“Na, aku pinjam parfummu, ya?”

Aku menoleh ke pojok atas lantai dua rumahku. Wini berdiri di sana sambil berteriak.

Tubuhnya berbalut handuk putih yang hanya mampu menutupi sebagian dadanya hingga sepertiga pahanya—memamerkan kemulusan paha dan kakinya. Wini mengangkat tangannya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil hingga dapat kulihat dengan jelas ketiak dan lekuk payudaranya.
Murahan! Pikirku.

Aku ingin memaki Wini, tapi tak bisa. Ketakutan tiba-tiba saja menusuk batinku. Wini tak membuang-buang waktu.

Ya, Tuhan, ia sudah memulai perburuannya.

Beberapa menit kemudian, kulihat Wini menuruni tangga. Saat mendekati kami, bisa kucium aroma pekat parfumnya—aroma parfumku. Ia tersenyum kepadaku juga Rey.
“Hi, sorry tadi,” kata Wini kepada Rey sambil mengulurkan tangan. “Aku Wini, adiknya

Wina.”

Rey tersipu, “Ah, aku yang harusnya minta maaf.”

Bunyi logam terbanting terdengar. Kunci mobil Wini tergeletak di lantai. Wini
membungkuk mengambil kunci itu dan seketika aku merasakan tiupan bara di wajahku.

Kemeja yang Wini pakai terlalu longgar dan dia membiarkan dadanya tanpa penutup. Ya Tuhan, bahkan dari sofa ini, aku bisa melihat kulit putih dengan tonjolan merah muda di dadanya.

Kupalingkan wajahku untuk melihat Rey.

Rey tampak seperti sedang menelan sesuatu. Beberapa detik kemudian Rey tersadar lalu memalingkan wajahnya dan melihatku.

Saat Wini telah pergi, aku mengulangi pertanyaanku, “Berjanjilah Rey, kau tak akan menghianatiku.”

Rey tersenyum, lalu membelai pipiku, “Kau cemburu dengan adikmu, Na.”
***

Aku pulang dua hari lebih cepat dari yang kurencanakan. Cuacanya buruk. Hunting fotoku di Sukabumi gagal total.

Melewati tangga aku berpapasan dengan Wini. Ia wangi sekali dengan aroma yang sangat kukenal—parfumku. Raut wajahnya berubah saat melihatku.

Tumben dia kaget? Pikirku.

Tapi, itu hanya sesaat. Sambil tersenyum dan melambaikan tangan Wini berkata, “Pergi dulu, Na.”

Aku diam saja. Malas bersuara. Yang kuinginkan saat ini hanyalah tempat tidurku.

Di kamar aku membuka jendela yang menghadap ke depan. Langit tampak gelap dan angin mulai bertiup kencang. Kulihat Wini berlari ke arah pagar.

Aneh, kok dia ngga bawa mobil?

Di depan pagar, Wini berhenti lalu membuka pintu mobil.
Seseorang menjemputnya? Pacarnya kah?

Tiba-tiba cahaya putih merobek langit. Petir menggelegar. Dan aku terkesima melihat mobil sedan hitam itu. Dadaku terasa sakit, seperti ada pisau yang menusuk.

“Tidak. Jangan, jangan lagi!” teriakku.

Aku tak tahu bagaimana awalnya, tapi kurasakan kakiku bergerak. Aku berlari ke kamar orangtuaku, lalu kubuka brankas papa. Papa tidak sadar bahwa selama ini putrinya telah tahu isi brankasnya.

Aku lalu mengambil benda berwarna hitam dari brankas itu, sebuah pistol revolver.

Aku serasa terbang, berlari keluar menuju mobil. Decitan ban mengawali perjalanan mobilku mengejar Wini.

Melewati tikungan di depan, aku bisa melihat sedan hitam yang membawa Wini. Sebuah BMW hitam. Mobil hitam itu jelas milik Rey. Aku ingat nomor polisinya.
Air hujan menampar-nampar kaca mobilku; kilasan cahaya silih berganti menyorotku.

Mau ke mana mereka? Pikirku saat mobilku mulai memasuki pinggiran Jakarta.

Beberapa menit kemudian, kami memasuki kawasan sepi di daerah menuju Bogor. Aku pikir aku sudah gila. Untuk apa aku membuntuti mereka. Membawa pistol pula. Bagaimana kalau semua hal yang Wini ceritakan cuma karangannya saja. Kalau pun benar, apa yang bisa aku lakukan?

Hujan belum mau berhenti ketika kulihat mobil Rey melambat. Entah di mana kami berada ketika kulihat BMW hitam itu berhenti. Aku menghentikan mobilku sekitar dua puluh meter dari mereka.

Kupikir akhirnya mereka sadar sedang dibuntuti. Ternyata tidak. Tak seorang pun yang turun dari mobil Rey.
Sekarang apa yang harus aku lakukan? Pikirku.

Dua puluh menit berlalu dan mereka masih berhenti di sana. Aku menelan ludah ketika kemungkinan terburuk menguasai pikiranku. Akhirnya kuputuskan untuk mendekati mobil Rey.

Mobil itu bergoyang. Sayup-sayup kudengar suara rintihan dan erangan Wini. Aku merinding lalu mengigil saat kudengar suara teriakan Rey.

Oh, tidak, Pikirku.

Segera kuraih gagang pintu mobil Rey. Pintu itu tak terkunci. Aku dengan mudah membukanya.
Saat pintu terbuka, refleks mereka melihatku. Rey terkejut, dan mungkin memang sudah seharusnya karena aku sedang memegang pistol.

Lalu kudengar suara memelas Rey, “Wina…, please, maafkan aku.”

“Penghianat.”

Menyadari aku yang membuka pintu, Wini tampak semakin bergairah. Lenguhannya semakin keras, gerakannya semakin menggila. Pinggulnya bergerak semakin cepat seiring kerasnya teriakan Rey.

Aku mual melihatnya.

“Hentikan!” teriakku.
Wini seperti tuli. Ia terus bergerak kesetanan, melenguh, dan meliuk bagai ular betina dari neraka.

“Hentikan, Wini. Ya, Tuhan. Hentikan!” teriakku.

Wini mengangkat tangannya. Senyum selicik iblis menghiasi bibirnya. Aku tak tahan lagi.

Ya, Tuhan apa yang harus aku lakukan?

Entah bagaimana, tiba-tiba saja sesuatu seperti meremas jemariku. Pistolku meledak. Aku terdorong, dan terengah-engah, dan tulang belulangku seperti remuk. Kulihat darah mengalir di tubuh Rey.

Dada Rey yang telah tergores pisau Wini kini bersimbah cairan merah kental. Bukan hanya badan Rey, darah menyiprat ke mana-mana—menyembur dari kepala Wini.

Rey menjerit saat kepala Wini yang berlubang terkulai, tetapi dia tidak bisa mendorong tubuh Wini karena tangannya masih terikat di kursi.
Wini benar-benar melakukan semua ritual yang ia ceritakan. Sama seperti yang ia lakukan kepada Rangga dan Johan: Wini merangsang lalu merayu agar membiarkannya mengikat tangan korbannya di kursi.

Yang tidak diketahui para lelaki itu, saat Wini sudah sangat bergairah, Wini
akan mengeluarkan belati lalu mulai mengores-gores dada mereka. Gairah Wini semakin memuncak mendengar jerit kesakitan para lelaki itu.

Akhirnya, saat sudah tidak dapat menahan
ledakan di tubuhnya, Wini akan menancapkan belatinya ke dada para lelaki itu.
Jerit kematian menuntun Wini menggapai puncak fantasinya.

###

Suka dengan cerita ini? Ingin mendapatkan cerita thriller dan suspense terbaru? Masukkan emailmu di bawah. Gratis!

Newsletter (Gratis)

* indicates required

Info yang diinginkan

 

PS: Suka tulisan ini? Silakan share dengan temanmu. Terima kasih.