Obsesi Kembaranku – Bagian 2

Posted by in Cerpen

Wini membuat hidupku bagai di neraka. Keinginannya—yang mungkin sudah menjadi kegilaan—untuk selalu mengambil pacar-pacarku, membuatku ikut-ikutan gila. Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Kini aku hanya bisa duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil menatap televisi di depanku. Entah apa acaranya.

Meski mataku menatap kotak bergambar itu, tapi pikiranku mengembara.

Suara sepatu mendekat.

Aku menoleh ke arah tangga. Kulihat Wini telah selesai berdandan dan melangkah ke arahku. Tank top dan celana jin ketat membalut tubuhnya. Ia terlihat cantik dan sangat seksi. Jelas saja Johan—pacar kedua—runtuh imannya.
“Pergi dulu ya, Kakak,” kata Wini sambil tersenyum dan melenggok keluar.

Senyum itu masih sama. Sangat beracun. Senyum itu merebut Johan dariku dan melumatkan kesetiaannya.

Johan hanyalah penjahat kecil yang tidak bisa menolak untuk menikmati tubuh Wini.

Aku menghela napas. Pandanganku mulai kabur.

Apakah aku berhalusinasi?

Kulihat tayangan di layar televisi berubah. Benda itu mulai menayangkan berita satu tahun lalu. Gambar yang sama, rongsokan mobil yang sama, dan garis kuning polisi yang sama.

Perlahan suara itu bergema di kepalaku,

“Seorang pemuda ditemukan tewas terbakar dalam sebuah mobil sedan. Kondisi korban rusak parah dan mobilnya lumat dilahap si jago merah hingga hanya menyisakan rongsokan ….”

Johan, penghianat! Kau pantas mati, pikirku.

Dua kali sudah. Dua kejadian yang akan menghantuiku seumur hidup. Sampai kapankah mimpi buruk ini akan berlanjut?

Aku gusar memikirkan Reynaldi, pria tampan, pintar, dan
romantis yang kutemukan di kelas fotografiku.

Dua bulan lalu Reynaldi menyatakan cintanya padaku dan aku menerimanya. Meski sudah dua bulan berkencan, tetapi belum sekalipun kuajak Rey ke rumah. Dan itu mungkin membuatnya gusar.

“Kok, aku ngga pernah diajak ke rumah, Na?” tanya Reynaldi dua hari yang lalu. “Jangan takut. Beres semuanya. Aku ngga takut, kok, sama papamu. Atau kau takut mamamu bakal naksir aku?” lanjutnya sambil mengerlingkan mata.

Aku tersenyum kecut, tak tahu cara menjelaskannya.

“Sabtu sore aku ke rumahmu, oke?”

“Tapi Rey—”

“Ah, ngga ada tapi-tapian,” potong Rey. Ia lalu mencium pipiku sebelum berjalan menuju mobil BMW hitamnya.

Rey sangat tampan dan percaya diri. Di dekatnya, aku bisa melihat pandangan iri gadis-gadis di kelasku. Aku bangga juga mendapati senyum genit para model yang kami sewa tak mempan buat Rey. Dengan semua itu, mungkinkah Rey akan berbeda dari Rangga dan Johan?

Tanganku gemetar saat mengingat besok sore Rey akan datang. Besok sore rahasia kecilku akan terbuka. Besok sore Wini akan mengetahui pacar baruku.
***

“Mau ke mana, Na?” tanya Wini ketika masuk ke kamar dan melihatku berdandan.

Mau tahu aja! Ya ampun, kenapa, sih, dia ngga pergi?
Aku tidak menjawab, cuma tersenyum, lalu mengambil pakaianku dan membawanya ke kamar mandi.

Aku lebih tenang di sana, pikirku.
Kudengar suara bel berbunyi saat selesai berdandan.

Pasti Rey, pikirku.

Aku segera menghambur keluar kamar mandi, mempercepat langkah menuruni tangga, mempersiapkan senyum termanisku, namun aku tertegun.

Kulihat di pintu masuk Wini memegang bunga dan Rey mencium pipinya.

[BERSAMBUNG]
Tidak ingin ketinggalan cerita selanjutnya? Ingin mendapatkan cerita thriller dan suspense terbaru? Masukkan emailmu di bawah. Gratis!

Newsletter (Gratis)

* indicates required

Info yang diinginkan

 

PS: Suka tulisan ini? Ada temanmu yang juga menyukainya? Silakan share dengan mereka. Terima kasih.