Obsesi Kembaranku – Bagian 1

Posted by in Cerpen

Mungkin lupa, mungkin sengaja, aku tak tahu. Yang kutahu pintu BMW hitam itu tidak terkunci. Aku dengan mudah membukanya. Saat pintu terbuka, dua setan yang sedang bercinta di dalamnya refleks melihatku, tapi hanya satu yang terperangah.
Reynaldi, Si Terperangah itu ada di bawah. Celana jinnya melorot hingga lutut. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat bagian telanjang tubuh Reynaldi menempel di kulit Si Betina—kulit mulus Wini, saudari kembarku.
Rey ketakutan. Kupikir sudah seharusnya ia ketakutan melihatku memegang pistol yang siap menyalak.

“Wina… please,” kata Rey dengan suara memelas, “maafkan aku.”
Aku menggeleng. Kutarik napas. Beribu kenangan menghantamku. Lalu kurasakan mataku panas dan berair. Saat kubuka mulut, suaraku bergetar.

“Penghianat,” bisikku.
Hujan masih turun dengan deras, mengguyur air dingin ke sekujur tubuhku. Aku menggigil, tanganku bergetar, dan pemandangan di depanku berubah menjadi lebih menjijikkan.

“Hentikan!” teriakku.
Tetapi, ia tak mau berhenti. Adzan magrib sayup-sayup terdengar, suasana semakin temaram, dan kegelapan melingkupiku. Ini mimpi yang sangat buruk. Aku tak kuat lagi. Aku ingin semua ini segera berakhir. Lalu, tiba-tiba pistol di tanganku meledak.
Kulihat cairan merah kental mengaliri tubuh Rey.
***

“Kenapa, Na?” tanya Wini.
Wini menatapku dari balik kaca rias kamar kami setelah setengah jam lebih aku hanya duduk diam di pinggir tempat tidurku sambil terus memandanginya.

Wini selesai dengan lipstiknya, ia lalu memutar tubuhnya dan berbalik menghadapku.

“Kenapa pacar-pacarku?” kataku.

Wini tertawa mengejek lalu berbalik lagi menghadap kaca rias.
“Na … Na, coba lihat cermin ini baik-baik. Lihatlah betapa miripnya kita. Papa saja sering salah membedakan kau dan aku.”

Tak perlu kulihat ke dalam kaca. Aku tahu, mataku, alisku, hidungku semuanya sama seperti milik Wini. Leherku yang jenjang, kulit putihku, bahkan bentuk payudaraku, semuanya sama. Kami kembar identik. Hanya karena aku lahir beberapa menit lebih dahulu, maka aku menjadi
kakak.

“Ngga aneh, kan, kalau selera kita sama?” Lanjut Wini sambil memoles pipinya.

“Jadi aneh kalau kau merebut mereka?”

“Eh, catet ya. Aku ngga pernah merebut mereka. Mereka yang pilih, Na. Laki-laki semua sama,” Wini mengedip-ngedipkan matanya, lalu tertawa.
Wini membuatku mual. Tapi ia benar. Kucing garong, jangankan daging, ikan asin pun pasti mereka sikat. Mana mungkin mereka melewatkan tawaran Wini?

“Na,” kata Wini setelah puas tertawa, “dari dulu, papa dan mama selalu memberi kita barang yang sama. Memotong rambut kita dengan model yang sama. Bahkan sampai sekarang, di usia kita yang sudah dua puluh satu, kita masih tidur di kamar yang sama. Di mana anehnya kalau selera kita—.”

“Kau tak berhak merebut pacar-pacarku!” potongku.

“Ah, kau cuma cemburu, Kakak. Cemburu karena aku bisa ambil apa yang kau tak bisa dapatkan. Ah… andai saja kau bisa merasakannya…,” Wini memejamkan matanya, lalu tangannya mulai mengelus-elus dadanya.

Mualku tak tertahankan. Aku tidak kuat lagi. Tanpa berkata sepatah pun, aku bangkit lalu masuk ke kamar mandi.
***

Kubasuh wajahku di wastafel lalu aku pandangi cermin lekat-lekat. Mataku tampak besar dan bening, bibirku sensual merekah, dan pipiku merona merah meski tanpa make-up. Rangga, pacar pertamaku, selalu memuji rona merah itu. Dan senyumnya semakin lebar saat melihat rona itu semakin memerah karena pujiannya. Semuanya berjalan begitu indah hingga saat Rangga berkunjung ke rumahku. Sampai saat Rangga bertemu Wini. Sampai saat Rangga menghianatiku dan tidur dengan Wini.

Penghianat! Ia memang pantas mati, pikirku.

Perlahan suara-suara mulai bergema di kepalaku. Suara milik pembaca berita yang ditayangkan televisi dua tahun lalu. Suara yang membacakan berita kematian mengenaskan seorang pria muda dalam sebuah mobil yang terbakar. Berita kematian Rangga.
***

[BERSAMBUNG]
Tidak ingin ketinggalan cerita selanjutnya? Ingin mendapatkan cerita thriller dan suspense terbaru? Masukkan emailmu di bawah. Gratis!

Newsletter (Gratis)

* indicates required

Info yang diinginkan

 

PS: Suka tulisan ini? Ada temanmu yang juga menyukainya? Silakan share dengan mereka. Terima kasih.