Cerpen Fantasi : Boxinite

Posted by in Cerpen

Oleh: R.Mailindra

Meski waktu melaju, ego dan nafsu menaklukkan tak lekang dimakan zaman. Malah cenderung mengental dan membesar. Ketika dikemas dalam bungkus olahraga hiburan, maka bisnis besarlah yang muncul. Di Bumi ada tinju, Planet X31 di Galaksi Andromeda punya boxinite, Turbosolerum di Centaurus-A punya xiatermid. Galaksi boleh terpisah, ras boleh beda, tapi semuanya punya kesamaan. Menaklukan lawan di atas ring.

Namaku Trey. Tahun 2498 M, di usiaku kedelapan belas, aku petinju amatir di Indonesia. Sayang, karirku tidak pernah gemilang. Lima tahun setelah mencoba peruntungan, aku pun menggantungkan sarung tinju. Aku banting stir menjadi slackboy pertandingan boxinite.

Entah mengapa boxinite, pertarungan primitif ala Planet X31, diterima semua galaksi. Aturannya memang mirip sekali dengan tinju di Bumi. Boleh memukul dua pertiga tubuh bagian atas; dilarang memukul sepertiga bagian bawah, dan tentu saja diharamkan menendang. Namun, tidak seperti tinju, boxinite membolehkan petarung untuk melompat dan memukul memakai anggota tubuh mana pun, asal bukan kaki atau bagian tubuh untuk berjalan. Harus kukatakan demikian karena tidak semua ras mempunyai dua tangan dan dua kaki seperti manusia. Contohnya para petarung dari X31; mereka punya empat tangan dan dua kaki. Sayang, keempat tangan itu cuma dua pertiga panjang tangan manusia.

Meski primitif, rambu keselamatan boxinite tak kalah ketat. Pun, para dokter yang mengawasi sangat teliti. Ada banyak sebab pertandingan dihentikan. Luka robek di sekitar mata yang beresiko kebutaan bisa langsung membuat wasit menghentikan pertandingan. Namun, luka di wajah saja biasanya tidak otomatis menghentikan pertandingan. Semuanya masih tergantung wasit dan dokter.

Di sinilah peranku sebagai slackboy. Kalau petarungku tak terluka, aku bisa santai-santai menonton. Namun begitu ia „bocor?, terluka, aku harus segera mengeluarkan ramuan preanelin dan mulai menambal. Wasit dan dokter tidak akan menghentikan pertandingan jika pendarahan berhenti. Karenanya aku harus kerja bagus.

Bukan sombong. Kupikir keahlianku menghentikan pendarahan lebih mumpuni daripada kemampuanku bertarung. Jika kuhitung, dua puluh tahun sudah aku menjadi slackboy, meski kini aku bukan boy lagi. Ratusan pertandingan telah aku lalui. Semua petarung yang mempekerjakanku adalah manusia. Kadang ada juga, sih, petarung planet lain yang mengajak, namun selalu aku tolak.

Yah, sekali lagi bukannya sombong, tapi aku tak terlalu kenal struktur biologis mereka. Aku menambal agar para petarungku bisa terus melihat dan memukul.

Ya, akulah sang penyelamat, yang mampu membuat mereka terus bertarung. Kau tahu, sangking mahirnya menambal, bisa kulihat binar-binar cinta di mata mereka saat berhasil menghentikan pendarahan.

Kalau sudah begitu, kupikir, kalau aku mau, pantatku pun rela mereka cium jika kuminta sebagai imbalan.

Seperti kubilang tadi, boxinite bisnis besar. Bayaran besar membungkus laga ini. Kau bisa punya apa saja kalau menang: makanan, energi, dan tentu saja perempuan. Maaf, maksudku betina.

Ya, memang bukan betina ras manusia saja yang menarik. Kau tahu, betina dari Planet Xerra tak kalah yahud. Tapi itu akan kuceritakan lain kali saja.

Aku sangat setia pada petarung yang membayarku. Tak perduli mereka dari mana: Keraton Indonesia, Republik Thailand Raya, Kesultanan Cina-India, Federasi Arab-Rusia, Kerajaan AmerikaAtlantik, Konfederasi Jerman-Belanda, semuanya.

Aku pernah menjadi slackboy berbagai bangsa; menemani mereka melawan berbagai ras. Mungkin itu karena aku selalu memegang prinsipku: tak pernah ikut bertaruh, entah untuk petarungku atau lawannya. Hei, itu membuatku aman. Tak ada yang bakal menyalahkanku semisal petarungku kalah karena lukanya tak bisa kutambal.

Loyalitas. Itulah yang membuat para pelatih selalu menghubungiku. Seperti halnya hari ini; Stephen, pelatih asal Konfederasi Jerman-Belanda menghubungiku.

Aku kenal lama dengannya, sejak ia masih jadi petarung.

“August Schiller akan tanding di Jakarta dua minggu lagi, Trey. Sudah kukatakan bayarannya terlalu kecil. Tapi dia berkeras mengajakmu.”

“Dapat berapa dia?” tanyaku.

“Katanya, sih, lima ribu K-Energi.”

Aku menghitung. Sebagai slackboy aku mendapat 2,5 persen dari bayaran petarung. Itu berarti 125 K-Energi.

“Man, bolak-balik Jakarta Bandung saja butuh paling ngga 50 K-Energi untuk kendaraanku.”

“Yah, terserah saja, Trey. Aku ngga maksa.”

Aku mendehem. Aku tahu Stephen jujur, tak mungkin ngakali aku. Dan, Schiller petarung bagus. Usianya baru dua puluh lima tahun, tapi orangnya licik dan pelit. Schiller, seperti Stephen, dari ras Jerman. Tapi bagiku Schiller terlihat seperti Yahudi, liciknya minta ampun. Dan, siapa yang bisa jamin dia tidak mengakali Stephen.

“Sorry, Man. Aku ngga bisa terima segitu. Kalau pun dia tanding di Bandung, aku juga ngga mau dibayar semurah itu.”

Namun, dua hari kemudian aku terima juga pekerjaan itu setelah Schiller menaikkan bayarannya menjadi 250. Pertandingan di Jakarta itu untuk perbaikan peringkat. Schiller butuh empat kemenangan lagi sebelum berhak menantang sang juara. Kalau ia berhasil, di sanalah bayarannya baru besar. Bisa sampai satu juta K-Energi. Kau kalikan saja dengan dua setengah persen.Yah, hitung-hitung penglaris. Siapa tahu dia akan ajak aku waktu menantang juara nanti. Lagi pula, belum tentu, kan, dia bocor?

Sehari sebelum pertandingan, aku sudah di Jakarta. Namaku sudah terdaftar di Hotel Elliorado— tempat pertandingan akan berlangsung. Di beberapa sudut hotel kulihat layar hologram tiga dimensi memamerkan iklan pertandingan.

Schiller vs Gring-X

Gring-X petarung X31. Usianya enam puluh tahun Matahari X1, setara dengan tiga puluh tahun umur manusia jika dihitung dari perputaran Bumi mengelilingi Matahari Tatasurya. Gring-X penantang kedua. Ia butuh menang dari Schiller sebelum bisa kembali menantang peringkat satu.

Aku menemui Schiller dan Stephen malamnya. Besok malamnya aku sudah duduk di sudut ring biru—sudutnya Schiller.

Ring boxinite berbentuk persegi delapan. Luasnya satu setengah kali ring tinju Bumi. Pinggiran ring dibatasi tali pengaman setinggi lima meter.

Aku memandang sekeliling. Seperti biasanya ruangan gemerlap oleh lampu-lampu gas protine berwarna-warni. Musik berirama cepat menggedor ruangan. Malam ini pertandingan dijadwalkan sepuluh ronde, lima menit standard waktu atom-kronos-3 setiap rondenya. Dan, wasit pertandingan berasal dari Planet Xerra.

Sialan. Meski tidak ada ikatan batin dengan X31, aku tahu wasit ini agak memihak Gring-X. Mudah ditebak karena Bumi pernah berperang melawan mereka. Dan, perasaan benci itu diturunkan dari generasi ke generasi di planet itu. Pintar juga promotor pertandingan ini. Schiller cuma dijadikan bahan untuk menaikkan peringkat Gring-X. Tapi aku yakin, Schiller yang Yahudi-Jerman itu pasti punya akal yang tak kalah bulusnya.

Ronde pertama dimulai. Meski punya empat tangan, tapi jangkauan Gring-X kalah panjang. Schiller langsung memanfaatkannya. Ia berputar-putar mencari celah seperti seekor rubah. Meluncurkan jab kiri dan ketika akan diblok, langsung melontarkan straight kanan. Namun, kelebihan dua tangan membuat Gring-X berhasil mementahkan pukulan Schiller.

Pertandingan berjalan alot. Kalau sudah begini kesabaran dan stamina yang diadu. Tiga ronde berjalan. Benar sangat, staminalah yang diadu. Usianya yang lebih tua membuat Gring-X kedodoran.

Perlahan pukulan-pukulan Schiller berhasil menembus pertahanan Gring-X dan menghajar kepalanya yang bulat dan plontos. Gring-X harus mempertahankan matanya agar tidak babak belur karena ia cuma punya satu mata. Kalau itu sampai bengkak, pandangannya akan terganggu, dan Schiller pasti akan menghajarnya habis-habisan.

Di ronde keempat dan kelima pukulan-pukulan Schiller semakin ganas dan banyak yang mendarat telak. Itu membuat percaya dirinya membesar.

Namun, Gring-X bukanlah petarung kemarin sore. Tak gampang membuatnya keok. Mendekati akhir ronde kelima, sebuah pukulan telak mendarat di mata Gring-X. Gring-X jatuh.

Wasit dari Xerra itu langsung memisahkan. Setelah memeriksa ini dan itu beberapa lama, ia menyatakan pertandingan bisa dilanjutkan.

Gring-X masih terhuyung-huyung sewaktu Schiller dengan keganasan seekor beruang kutub menyerbu. Namun, belum lagi tinjunya meluncur, wasit itu kembali memisahkan, lalu beduk menggema—tanda ronde berakhir.

Schiller memaki.

Aku bisa melihat betapa jengkelnya ia kehilangan kesempatan membuat KO makhluk bertangan empat itu.

Di ronde keenam, entah karena terlalu percaya diri, atau lengah, atau kombinasi bodoh keduanya, sebuah pukulan menghajar pipi Schiller. Belum lagi ia sadar, dua tangan telah menghantam pelipis kanan dan pelipis itu langsung robek.

Man, Schiller betul-betul balon, gampang benar bocor. Darahnya langsung mengalir.

Schiller mundur dan mencoba menyeka darah yang menutupi pandangannya.

Aku langsung bersiap dengan ramuan preanelin-ku. Untunglah tak lama kemudian beduk berbunyi.

Setelah membersihkan luka Schiller, campuran ramuan itu langsung aku oleskan dengan teliti. Aku merapatkan luka itu dengan telunjuk dan jempol lalu menekannya dengan kain kasa.

“Kau jaga jarak. Ronde berikut jangan sampai ini kena.”

Schiller cuma mendengus. Tapi ia tahu, aku serius. Obatku butuh setidaknya satu ronde untuk membekukan lukanya.

[#######]

Tertarik untuk membaca kelanjutan cerita ini ?

Ketik emailmu di bawah dan dapatkan eBook Boxinite sekarang.

Newsletter (Gratis)

* indicates required

Info yang diinginkan