Bagaimana Penulis Tercipta?

Posted by in Random, Seputar Menulis

bagaimana penulis tercipta

 Gambar oleh Viktor Hanacek dari picjumbo.com

Satu tulisan lagi membuatku merenung tentang bagaimana seseorang bisa memutuskan untuk menjadi penulis atau termotivasi untuk menulis buku. Kali ini tulisan dari novelis Karen E. Benders. Dalam esainya, ia mengatakan bahwa ia menjadi penulis karena sebuah batu pernah menghantam kepalanya di sebuah pesta ulang tahun saat ia berumur 6 tahun.

Tapi tentu saja batu atau pesta ulang tahun bukanlah hal yang membuat Karen akhirnya menjadi penulis. Ada hal lain. Pola yang sama yang aku lihat terjadi pada penulis lain. Misalnya cerita tentang J.K Rowling yang tayang di Scotland on Sunday ini,

Rowling sepertinya punya masa kecil yang kurang bahagia. Ingatannya akan masa-masa kelam itu begitu jernih. Potongan kejadian dan tempat yang pernah ia lihat hadir dalam cerita Harry Potter. Lalu, ketika ia benar-benar telah berada di ‘dasar jurang’ kehidupannya, Rowling bisa menyelesaikan novel pertama Harry Potter dan mengguncang dunia.

Nah, apa kau bisa melihat polanya? Mungkin pengamatanmu akan berbeda dariku. Tapi dari dua penulis di atas aku melihat bahwa KESADARAN atau TERSADAR akan keadaan sekelilingmu lah yang menciptakan penulis. Itu seperti terbangun dari tidur lalu kau mulai mengamati keadaan sekelilingmu, mendengarkan suara-suara, dan segala yang terjadi di sekitarmu.

Kebanyakan orang yang kukenal, termasuk diriku sendiri, terlihat seperti robot dan zombie. Kau bangun pagi dan melakukan aktifitas secara otomatis tanpa betul-betul memerhatikan apalagi menyerap dan mencerna keadaan dan kejadian di sekitar. Lalu, misalnya ada sebuah batu atau sebuah kejadian menyakitkan menghantammu hingga kau babak belur, baru kau terbangun dan tersadar. Rasa sakit membuatmu tiba-tiba merasakan dunia yang sebenarnya kau huni. Kau pun lalu berubah menjadi ‘spons hidup’.

Setelah itu, seperti sebuah spons, kau mulai menyerap suara, kejadian, dan terutama emosi yang dipancarkan orang ataupun makhluk lain di sekitarmu. Lalu entah mengapa kau merasakan keadaan di sekitarmu berkonspirasi dan menggelitik rasa penasaranmu untuk mengamatinya. Kemudian, berbagai hal itu bercampur aduk dan membentuk cerita di benakmu. Setelah beberapa saat, kau akan merasa seperti spons yang menggelembung dan merasa harus mengeluarkan segala hal itu dari benakmu agar tidak meledak. Itulah saat kau mulai bercerita dan jika beruntung belajar menulis.

Tentu saja hipotesa yang kutulis di atas adalah sebuah penyederhanaan. Proses seseorang untuk menjadi penulis mungkin lebih kompleks. Tapi setidaknya buatku itu menjelaskan mengapa seorang penulis yang baik akan awas dengan keadaan di sekitarnya dan berbagai tips menulis mengajarkan bahwa untuk menjadi penulis yang baik kau harus awas dengan lingkungan sekitarmu. (Banyak penulis besar bisa mengeluarkan memori masa lalu dan memasukkannya dalam cerita tanpa mereka sadari, tetapi sebenarnya hal itu bisa secara sadar kau latih. Salah satu caranya bisa kau pelajari di SINI).

Bagaimana pendapat kawan sekalian. Ada yang punya pendapat atau bahkan pengalaman yang ingin dibagikan tentang proses seseorang memilih untuk menjadi penulis?
Silakan ditulis pada kolom komentar.

Salam.

Ronny Mailindra