Tahun 2013 dan Hal yang kupelajari dari Menulis Novel

Posted by in Random, Tips Menulis Cerpen dan Novel

Cerita Menarik Bisa dipelajari

Cerita Menarik Bisa dipelajari

Ini mungkin postingan terakhirku di tahun 2013 yang akan segera berlalu.

 

Sejak tahun 2009, setiap awal tahun, aku selalu punya satu resolusi yang sama, yaitu: menerbitkan novel suspense yang aku tulis sendiri. Sayangnya, setiap pergantian tahun, aku harus menerima kenyataan cita-cita itu belum bisa aku wujudkan.

 

Berulang kali aku ingin menyerah pada alasan bahwa Novel Suspense/Thriller punya pangsa pasarnya sangat kecil dan penerbit tidak tertarik untuk menerbitkan novel bergenre semacam itu. Berulang-kali pula aku digoda untuk menerbitkan novel itu secara indie atau self-publishing. Beruntung aku tidak langsung mengambil pilihan itu, tetapi melakukan riset terlebih dahulu. Kesimpulan dari risetku: menerbitkan novel yang tidak diterima oleh penerbit karena ceritanya kurang matang hanya akan memindahkan masalah dari usaha membuat cerita bagus kepada usaha untuk menjual buku. Ujung-ujungnya kau akan memindahkan energi kreatif menulis kepada usaha keras menjadi penjual buku. Tidak, aku tidak mau itu. Aku mau menjadi penulis novel, bukan menjadi penjual buku.

 

Tahun 2013 ini, setelah usaha keras memoles novel dan penantian panjang, akhirnya novel suspense yang aku garap sendiri itu berhasil menarik perhatian penerbit. 13 mungkin angka keberuntunganku. Jika semuanya lancar, awal tahun 2014 novel itu, insyaallah akan muncul di toko buku.

(Hal yang kupelajari dari membuat resolusi tahun baru adalah: konsentrasi kepada hal yang berada di bawah kendalimu, bukan kendali orang lain. Menerbitkan novel atau membuat novel diterima penerbit adalah hal yang berada di bawah kendali orang lain. Harusnya resolusiku berbunyi: menyelesaikan novel bagus. Dengan begitu kekecewaan akan gampang diatasi. Seberapa bagus novel yang bisa kau buat atau seberapa banyak novel yang bisa kau tulis, itu tidak tergantung orang lain. Murni tergantung usahamu sendiri).

 

Kau tahu, ternyata waktu 5 tahun, termasuk durasi normal untuk seorang pemula menerbitkan novel solo perdananya (aku memang sudah menerbitkan 3 buku, 2 buah kumpulan cerpen dan 1 novel kolaborasi. Tetapi menerbitkan novel sendiri, punya tantangan yang sangat berbeda, karena kau harus mengusahakan segalanya sendiri). Waktu selama itu habis karena aku mencoba berbagai hal secara acak dan belum mengerti alat dan jalan terbaik untuk menyelesaikan novel secara cepat. Seandainya saja aku sudah mengerti jalannya, waktu yang kuhabiskan tidak akan sepanjang itu. Akan sangat mungkin untuk menyelesaikan novel dalam hitungan bulan dan akan sangat besar peluangnya untuk menerbitkan 1 novel setahun. Nah, agar pengalamanku ini bisa lebih bermanfaat, aku akan bagikan di sini hal-hal yang harusnya aku lakukan saat menulis novel.

 

  1. Menetapkan ide yang bagus

Menulis novel butuh waktu panjang, kau pasti tahu itu, karenanya sebaiknya kau menetapkan ide yang bagus terlebih dahulu sebelum menghabiskan waktumu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya.

Ide bagus yang kumaksud adalah ide yang menarik dan menantangmu serta punya peluang untuk disukai orang lain.

Banyak penulis yang langsung menggarap idenya, begitu ide itu muncul lalu mendapati dirinya terhalang hambatan yang begitu besar–mereka menyebutnya Writer Block–setelah berbulan-bulan mencoba menyelesaikan novel tersebut. Hasilnya, novel itu pun tidak pernah selesai.

 

Jadi ada baiknya menghabiskan waktu 2 hingga 3 minggu untuk menguji ide tersebut. Kau pasti tahu, bibit yang jelek tak akan pernah menghasilkan pohon yang baik. Jika kau tahu dari awal bibit itu jelek, kau pasti tidak akan menghabiskan waktu percuma untuk mencoba menanamnya, kan?

 

Ide novel yang bagus, seperti film yang bagus, bisa ditulis dalam 1 atau 2 paragraf pendek. Di dunia perfilman mereka menyebutnya Logline. Kalau kau tidak punya gambaran cara membuatnya, coba buka www.imdb.com, pilih film kesukaanmu, lalu baca summary-nya.

 

Contoh:

  • Film Enemy of State:

A lawyer becomes a target by a corrupt politician and his NSA goons when he accidentally receives key evidence to a serious politically motivated crime.

(Seorang pengacara menjadi target pembunuhan politisi korup beserta kelompok NSA karena tanpa sengaja menerima bukti penting pembunuhan politisi).

 

  • Film Finding Nemo:

After his son is captured in the Great Barrier Reef and taken to Sydney, a timid clownfish sets out on a journey to bring him home.

(Setelah anaknya tertangkap dan dibawa ke Sydney, seekor ikan badut penakut melakukan perjalanan dan pencarian untuk membawa kembali anaknya pulang).

 

  • Film (dan juga novel) Hunger Games

Katniss Everdeen voluntarily takes her younger sister’s place in the Hunger Games, a televised fight to the death in which two teenagers from each of the twelve Districts of Panem are chosen at random to compete.

(Katniss Everdeen, suka rela menggantikan adiknya dalam permainan Hunger Games –sebuah acara televisi tentang pertarungan hidup mati 12 pasang remaja dari 12 distrik negeri Panem yang dipilih secara acak).

 

  • Ide novel Spammer-ku sendiri berbunyi begini:

Seorang pemuda penyebar spam, diburu untuk dibunuh oleh hacker dan sekelompok pembunuh atas perintah seorang pengusaha karena tanpa sengaja telah mencuri bukti korupsi.

 

Karena idenya bisa ditulis dalam 1 atau 2 paragraf, kau bisa menuliskannya di kertas kecil lalu menunjukkannya ke orang lain untuk minta pendapat. Kau bisa memperbaiki ide tersebut sampai yakin mau menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mewujudkan cerita tersebut.

 

Meski pendek, logline yang dibuat harus menggambarkan secara garis besar cerita yang ingin kau tulis. Paling tidak ada 3 komponen yang harus ada:

a. Tokoh protagonis. Pada film Hunger Games jelas tertulis protagonisnya Katniss Everdeen). Pada novel Spammer yang aku tulis, protagonisnya adalah seorang pemuda penyebar spam.

b. Tokoh antagonis. Pada film Enemy of State tertulis antagonisnya adalah politisi korup beserta gengnya. Pada novel Spammer yang aku tulis antagonisnya adalah pengusaha korup, hacker, dan kelompok pembunuh.

c. Konflik. Pada film Finding Nemo konfliknya adalah ikan penakut harus melakukan perjalanan demi menemukan anaknya yang ditangkap. Pada novel Spammer, konfliknya adalah, antagonis ingin membunuh karena takut rahasianya terbongkar dan protagonis ingin bertahan hidup.

 

Sebagai catatan untuk konflik, buat konfliknya tentang kebutuhan utama: seperti bertahan hidup, menyelamatkan atau melindungi orang yang kita cintai, membalas dendam, dan emosi-emosi utama lainnya. Hal-hal abstrak, seperti kebebasan berpendapat, menentang ketidakadilan, dan berbagai hal berbau filosofis tingkat tingkat, bisa kau bangun di atas cerita utama.

 

Sebagai contoh, meski dalam film Finding Nemo, cerita utamanya adalah tentang menyelamatkan anak yang dicintai, tetapi di atasnya ada juga pesan moral tentang memberi kebebasan dan mempercayai orang lain.

 

2. Menulis Garis Besar Cerita

Setelah ide dasar didapat, kau bisa memakai teknik apa pun yang kau suka. Kalau kau suka membuat outline, buatlah outline cerita secara detail. Kalau kau suka membuat plot, buatlah plot lengkap dari awal cerita sampai akhir.

Aku lebih suka membuat adegan-adegan penting dari awal hingga akhir.

Inti pada tahap  ini adalah menemukan ceritanya dan menjawab semua pertanyaan yang muncul saat membaca logline. Misalnya, pada cerita spammer, aku harus menjawab:  siapa pemuda itu? Bagaimana dia bisa tanpa sengaja menemukan bukti korupsi? Siapa pengusaha yang memerintahkan pengerjaran? Bukti korupsi seperti apa yang membuat pengusaha itu sangat khawatir sehingga menyewa hacker dan pembunuh? Dan seterusnya.

Pada tahap ini, konsentrasi pada membuat cerita, bukan pada bahasa.

 

Sampai di sini dulu posting akhir tahun 2013. Tahun depan akan aku lanjutkan tulisan ini. Jika penasaran tentang langkah selanjutnya yang harusnya aku lakukan saat menulis novel, berikut aku sampaikan poin-poinnya:

 

3. Menulis Cerita secara cepat

4. Mendiamkan Naskah

5. Merevisi Novel, konsentrasi pada plot cerita dan tokoh

6. Merevisi Novel, konsenstrasi pada emosi dan pesan moral

7. Merevisi Novel, konsentrasi pada tata bahasa dan keindahan kalimat

8. Menunjukkan kepada teman yang kompeten untuk mendapatkan feedback

9. Revisi berdasarkan feedback

10. Menulis sinopsis, proposal, dan mengirimkan naskah

11. Libur, belajar, atau merencanakan proyek novel baru

 

Selamat Tahun Baru, semoga tahun 2014 segala hal yang lebih baik bisa kita peroleh.

Salam,

 

R.Mailindra