Tips Membangun Dunia Cerita yang Meyakinkan

Posted by in Tips Menulis Cerpen dan Novel

Ketika membaca sebuah novel, pembaca ingin bisa masuk ke dalam dunia rekaan penulis dan menikmati petualangan di sana. Persis seperti saat mereka menonton film. Ini adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai penulis.

Selain tokoh dan jalan cerita yang meyakinkan, hal lain yang bisa menghipnotis pembaca adalah dunia atau seting cerita yang meyakinkan. Dan seting cerita hanya akan meyakinkan jika pembaca mengenalinya. Itu bukan berarti bahwa cerita yang berseting kota Paris tahun 1980 misalnya, harus pernah didatangi pembaca agar bisa yakin. Tidak. Keyakinan pembaca bisa timbul  jika ia mengenali hal-hal yang digambarkan dalam cerita. Bangunan yang menjadi ciri khas suatu tempat misalnya, sering dipakai untuk membujuk pikiran pembaca. Namun gambaran obyek fisik semata tidaklah cukup. Yang tak kalah penting adalah gambaran suasana melalui pancaindra. Misalnya, bagaimana keriuhan tempat itu? Panas atau dinginkah di sana? dan lain sebagainya.

Tak heran jika banyak penulis yang mendatangi tempat yang menjadi latar ceritanya untuk merekam pengalaman indrawi (sekaligus mood). Hal itu penulis lakukan untuk membuat seting terasa hidup. Sayangnya tak semua orang punya memori yang kuat. Jadi usaha mulia itu akan  segera sia-sia kalau sudah datang jauh-jauh lalu lupa karena ingatan yang payah. Untunglah sekarang ini alat-alat perekam sudah sangat mudah didapat dan murah. Ponsel misalnya, sudah banyak yang dilengkapi dengan kamera untuk memotret maupun merekam video.

Nah, kalau kau berada di suatu tempat baru atau mungkin merasakan suasana baru di sebuah tempat, rekamlah dengan kameramu. Rekam juga suasana itu dalam pikiranmu. Lalu simpanlah baik-baik gambar dan video tersebut. Mereka adalah investasimu. Suatu saat gambar-gambar itu akan berguna untuk membangun ceritamu.

Menurutku, paling tidak ada dua  hal yang harus muncul untuk membuat seting menjadi meyakinkan:

    1. Obyek fisik yang dikenali pembaca.
    2. Detail suasana melalui panca indra.

Untuk menunjukkan hal yang kujelaskan di atas, berikut ini aku tunjukkan gambar-gambar buruk yang kurekam menggunakan ponsel. Foto-foto ini aku pakai sebagai bahan baku untuk membangun seting proyek novelku.

a. Setting Cerita di Halte

Halte Sarinah, setting novel spammer

Halte Sarinah, setting novel spammer

Gambar ini aku ambil di Minggu pagi saat jalan-jalan di halte Sarinah Jakarta. Halte itu masih sepi, jadi obyek fisik yang ada tampak jelas. Namun, di hari kerja tempat ini ramai sekali. Nah, kupikir halte ini sangat cocok untuk proyek novelku yang berjudul Spammer. Apa jadinya jika seorang yang sedang dikejar-kejar berada di halte itu?

Bermodalkan foto itu, aku menggambarkan seting berikut:

Jalan Thamrin di pagi hari tampak meriah. Pedagang koran, rokok, dan semua juragan yang bergelar kaki lima telah berparade menjajakan dagangannya. Di sekitar halte Sarinah para kenek oprengan, metro mini, dan bus kota tak pandang bulu merayu dan meneriaki calon penumpang.

Aku turun di depan halte Sarinah itu. Saat melepas helm aku terbatuk. Sebuah metromini yang sudah berkarat menggerung di depanku sambil mengepulkan asap hitam berbau menyengat.

“Terima kasih, Jang,” kataku sambil menyodorkan helm kepada orang yang tadi memboncengku.

“Hati-hati di jalan. Salam buat mojang Bandung!” kata Ujang sambil mengedipkan mata.

Aku menyengir. Ujang memang tidak tahu apa-apa. Dan aku juga tak berniat untuk menceritakan alasanku ke Bandung. Aku hanya ingat tetangga kosku itu pergi kerja jam enam pagi dan selalu membawa dua buah helm karena harus menjemput pacarnya yang kos di daerah Setiabudi. Dan itu berarti ada tumpangan gratis dan aman.

Ketika Ujang telah menjauh, aku mengeluarkan topi bisbolku lalu bergabung dengan orang-orang di halte. Kubuka mata lebar-lebar. Seorang nenek berpakaian kumal sedang duduk di sebelah halte sambil mengangkat cangkir plastik bermerek restoran cepat saji terkenal kepada seorang perempuan muda berpakaian putih berbibir merah menyala; seorang bapak berbaju kotak-kotak mengangkat tangan lalu berlari ke arah bis kota yang sudah dijejali penumpang hingga ke pintu. “Kosong, kosong!” kata kondekturnya. Seorang pengendara motor menyalakan klaksonnya lalu memaki taksi kuning yang tiba-tiba mengerem.

Aku mencoba mengingat-ingat dan mencari wajah orang-orang semalam. Tak ada.

Jauh di kananku terdapat sebuah jembatan penyeberangan. Di bawahnya—berdiri membelah jalan Thamrin—ada sebentuk bangunan persegi panjang. Sebagian dindingnya dipasangi kaca. Tampak juga sebuah tangga menghubungkan bangunan itu dengan jembatan penyeberangan. Lalu kulihat sebuah bis berwarna kuning-merah dengan tulisan Transjakarta berhenti. Beberapa orang turun.

Melihat itu jantungku berdegub kencang. Aku menurunkan lidah topiku sambil terus mengamati para penumpang yang turun itu. Tak ada yang kukenali

“Pagi begini, para begundal pasti masih molor,” pikirku.

Lihatlah, bahkan gambar buruk pun bisa jadi modal bagus untuk menulis seting. Jika kau perhatikan deskripsiku di atas, hampir semua obyek fisik pada gambar aku pakai. Yang lebih penting lagi, dengan gambar itu imajinasiku jadi berkembang. Aku bisa membayangkan keramaian di sana, suara, bau, dan lain sebagainya.

b. Memanfaatkan Kafe

Cafe sebagai seting novel Spammer

kafe sebagai seting novel Spammer

Gambar di atas kuambil saat ngopi di teras Bandung Indah Plasa. Sambil ngopi aku jepret kanan-kiri. Suasananya asik waktu itu. Dan sekarang, gambar itu ingin kupakai juga pada proyek Novel Spammer. Berikut ini deskirpsi seting yang kubuat berdasarkan gambar di atas.

Menyusuri bagian kiri jalan menuju Bandung Indah Plasa, aku melirik ke kiri dan ke kanan. Mobil yang melintas jauh lebih sedikit daripada Thamrin tadi pagi. Tak tampak asap hitam dari metromini berkarat. Semoga para preman yang mengejarku juga tak akan pernah muncul di sini.

Angin dingin menerpa. kurapatkan jaketku. Mendung tampak mengancam. Dalam suasana kelabu seperti ini, cahaya lampu tanda panah di dekat jalan masuk mal tampak seperti sinar mercu suar. Semoga itu petunjuk yang benar, pikirku sebelum berbelok.

Pelataran mal ini tampak kusut. Seorang lelaki memakai seragam merah dan bercelemek hitam sedang mengatur kursi dan meja di depan sebuah kafe. Aroma kopi dan donat menguar dari kafe di kiriku itu. Aku melirik. Jendela kaca kafe itu tampak bening. Warna kuning dinding kafe menusuk mataku. Menempel pada kaca kafe itu sebuah tulisan. Free hotspot. Itu yang kucari. Setelah melirik ke kiri dan ke kanan, kuputuskan untuk memasuki kafe itu.

Kau lihat, memiliki sebuah foto dan rekaman mental pernah berada di suatu tempat adalah sebuah aset. Nah, mulai sekarang rekamlah gambar-gambar di sekitarmu. Suatu saat mereka akan berguna.

Bagaimana menurutmu? Apa kau punya pengalaman serupa denganku? Atau mungkin punya tips lain untuk membuat latar cerita yang hidup? Silakan tulis di kolom komentar.

Salam menulis,

 

Ronny Mailindra

http://mailindra.cerbung.com

P.S: Ada beberapa tips lain untuk membuat cerita menjadi menarik yang aku buat. Kau bisa melihatnya di sini.