Teknik Menulis Novel ala Stephen King

Posted by in Tips Menulis Cerpen dan Novel

3 Komponen Cerpen dan Novel Menurut Stephen King

Sumber : http://mailindra.cerbung.com

 

 

 

 

 

Oleh: Ronny Mailindra (twitter: @mailindra)

Menulis cerpen dan novel tak berbeda dari memasak daging, melukis, atau pun bermain musik. Ia bisa sangat mudah, bisa pula sangat rumit. Semua tergantung keinginan orang yang meramunya.

Daging misalnya, bisa dimasak sangat sederhana dengan cara membakar atau menggorengnya. Namun ia bisa juga menjadi sangat rumit.

Demikian pula dengan cerpen dan novel. Kau bisa membuat ceritanya sederhana ataupun rumit. Seperti halnya mengolah daging, ada teknik-teknik dasar yang wajib dikuasai untuk mendapatkan masakan yang lezat. Kau pasti tahu bahwa teknik menulis bertebaran di internet. Sayangnya kalau kau ikuti semuanya, kepalamu bisa meledak sangking banyaknya hal yang harus kau pelajari. Beberapa orang malah memilih mengabaikan segala aturan-aturan menulis itu. Yang penting tulis aja, begitu pendapat mereka.

Aku termasuk yang beruntung karena saat pertama kali belajar menulis cerpen dan novel, tidak dijejali teknik-teknik rumit. Kebetulan aku bertemu buku karya Stephen King yang berjudul ‘On Writing’. Sebenarnya buku itu tidak bisa dibilang buku panduan menulis. Di sana Pak King cuma ngalor-ngidul menceritakan hidupnya, bagaimana ia menjadi penulis, dan bagaimana cara ia menulis cerpen dan novel. Namun, dari buku itu betapa sederhananya teknik menulis ala Stephen King.

Menurut Stephen King, cuma ada 3 komponen dari novel, yaitu: narasi, deskripsi, dan dialog.

Ya kau tak salah lihat. Cuma ada 3!

Mungkin kau terkejut dan bertanya, kok tidak ada tema, plot, karakter, sudut pandang (Point of View), gaya menulis (style), dan ratusan komponen lainnya?

Sabar, kita bahas dahulu satu persatu komponen yang dimaksud oleh Stephen King. Nanti kau akan lihat bahwa menulis cerpen dan novel memang tidak jauh berbeda dari memasak daging. Kaulah yang menentukan jumlah komponen yang mau dimasukkan. Dan karena cuma ada 3 komponen yang membentuk sebuah cerpen dan novel, bukan tiga puluh apalagi tiga ratus, kau akan lebih termotivasi untuk menulis.

1. Narasi

Narasi, seperti yang tertulis di buku On Writing, adalah komponen yang menggerakkan cerita dari titik A ke titik B dan seterusnya hingga mencapai titik Z.

Ya, sebuah cerita harus bergerak. Ia bisa berupa perjalanan seseorang dari satu tempat ke tempat lain, atau perjalanan seseorang dari satu keadaan ke keadaan lain.

Berikut ini adalah contoh sederhana sebuah narasi:

Bunga bangun pagi, lalu mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah.

Lihat, begitu gampang membuat cerita. Dengan satu kalimat di atas kita sudah menceritakan kegiatan tokoh bernama Bunga sejak ia bangun pagi hingga pergi ke sekolah.

Ya, oke, aku tahu, kalimat itu memang tampak seperti kerangka. Cuma terdiri dari tulang-belulang. Karena itulah kau harus menambahkan dua kompenen lainnya.

2. Deskripsi

Deskripsi, masih menurut Stephen King, adalah bagian yang menimbulkan realitas di benak pembaca.

Nah, dengan menggunakan deskripsi, kita bisa menggambarkan dunia yang ada di dalam cerpen dan novel sehingga pembaca bisa melihat dan merasakannya.

Kau pasti bertanya, bagaimana caranya menimbulkan realitas?

Jawabannya sama dengan jawaban dari pertanyaan, bagaimana kau merasakan keadaan di sekelilingmu?

Tentu saja melalui panca indra dan perasaan. Kita merasakan keadaan sekeliling kita karena kita melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya. Perasaan kita juga akan memberitahu bahwa seseorang atau sesuatu akan membuat kita senang ataupun sedih.

Nah, seperti itulah cara membuat realitas dalam cerita. Gambarkan situasi dalam cerita melalui panca indra dan perasaan tokoh atau pencerita.

Sebagai contoh kita lengkapi kerangka cerita Bunga ini:

Bunga bangun pagi, lalu mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah.

Misalnya kita bayangkan waktu bangun pagi Bunga mendengar suara kokok ayam, udara masih terasa dingin, dan matahari belum tampak. Kita juga bayangkan Bunga kesal waktu bangun pagi.

Setelah memutuskan hal-hal yang ingin kita masukkan dalam cerita, kita isi kerangka narasi menjadi sebagai berikut:

Si Jalu, ayam milik Pak Bonar, memang menyebalkan. Suara kokok ayam itu di pagi buta begini sangat nyaring dan sama sekali tak merdu. Bunga membuka mata dan mendengus kesal mendengar kokok ayam tetangganya itu. Suara si Jalu memotong mimpinya, meski sekarang Bunga sudah tak ingat lagi apakah mimpinya itu indah atau tidak. Yang tersisa hanya kesal karena kokok ayam sialan itu.
Kabut di mata Bunga mulai menipis. Bunga menarik selimutnya. Udara masih terasa dingin. Ia melirik ke arah jendela. Tak ada sinar matahari yang menembus ventilasi. Pasti masih gelap di luar sana.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ya, aku tahu, deskripsi di atas masih sangat buruk. Aku cuma ingin menunjukkan, bahwa untuk menimbulkan realitas di benak pembaca, kau harus menuliskan apa yang diamati oleh tokoh ataupun pencerita tentang dunia di dalam cerita. Kau bisa melanjutkan cerita di atas kalau kau mau.

3. Dialog

Dialog adalah komponen cerpen dan novel yang membuat tokoh-tokoh dalam cerita menjadi hidup melalui ucapan mereka.

Kalau melalui deskripsi pembaca bisa melihat bentuk fisik tokoh dan bagaimana mereka bertingkah, maka dialog memperjelas melalui ucapan mereka.

Seperti di dunia nyata, sering seseorang terlihat menarik, menyebalkan, pintar, bodoh, santun, atau arogan, hanya melalui kata-kata yang diucapkan. Hal seperti itu juga terjadi di dalam cerpen dan novel.

Ada satu rahasia yang mau kubagikan. Kalau kau mampu menunjukkan kepribadian tokoh melalui dialog, lakukan itu melalui dialog, jangan melalui deskripsi. Gambaran kepribadian yang disampaikan melalui dialog lebih kuat dan berbekas di benak pembaca.

Ini contohnya:

Melalui deskripsi:

Tigor orang yang kasar dan tak berpendidikan. Mulutnya kotor. Setiap ucapannya mengandung makian. Seperti hari ini. Sepuluh detik setelah memesan kopi, ia langsung memaki mbok pemilik warung yang menurutnya terlalu lama menyeduh kopi pesanannya.

 

Melalui Dialog:

Tigor masuk ke dalam warung itu dan memesan kopi. Perempuan berkebaya yang menerima pesanan Tigor menelan ludah lalu bergegas ke dapur.

Sepuluh detik kemudian suara keras terdengar. Tigor menggebrak meja.
“Anjing! Mbok, mana kopinya!” teriak Tigor.

 

Kesimpulan

Menulis seperti memasak, hasil tergantung keahlian meracik

Sumber : http://mailindra.cerbung.com

Seperti yang kukatakan di awal tulisan. Menulis cerpen dan novel tak jauh berbeda dengan memasak daging. Tiga komponen di atas tentu masih sangat sederhana. Tapi, melalui mereka kau akan lebih mudah mengasahnya.

 

Sekarang, jika kau membaca teknik menulis di internet, kau akan tahu teknik tersebut akan kau gunakan untuk mengasah komponen yang mana.

Sebuah steik menjadi enak karena teknik pengolahannya yang rumit ditambah dengan berbagai bumbu dan saus. Ceritamu pun demikian. Untuk membuatnya rumit namun tetap enak dikunyah, kau harus menambahkan banyak bumbu dan mengolahnya dengan teknik khusus.

Berikut ini beberapa saran untuk memoles ketiga komponen di atas.

1. Narasi.
Kalau kau suka cara kerja yang terstruktur, kau bisa mempelajari cara membuat plot dan outline.
Kalau kau lebih memilih bercerita mengikuti insting, kau bisa mempelajari cara membuat adegan (scene). Cari teknik-teknik cara membuat struktur scene. Para pendukung teknik ini percaya bahwa cerita dapat dibuat hanya dari dua blok, yaitu scene dan sequence.

Asah juga cara membuat twist untuk membuat ceritamu tidak datar dan tidak mudah ditebak.
Lalu pelajari cara membuat flashback kalau kau membutuhkannya.

Intinya, pelajari cara menggerakkan cerita, baik itu maju, mundur, atau bergerak ke samping.

Satu saranku, kau tak perlu terlalu semangat untuk menguasai semuanya. Pelajari saja sambil jalan. Seperti belajar naik sepeda, yang penting bisa seimbang dan mengayuh dahulu. Teknik jumping dan freestyle lainnya kau pelajari jika sudah mengusai dasar mengendalikan sepeda.

2. Deskripsi
Deskripsi yang baik bisa membuat pembaca masuk ke dalam cerita, membuat pembaca mampu melihat dan merasakan apa yang dilihat dan rasakan oleh para tokoh.

Deskripsi melalui pacaindra dan emosi adalah dasar. Jika ingin memoles kemampuan ini kau bisa baca tulisan yang membahas tentang cara membuat seting. Salah satunya pernah aku tulis di sini.
Baca juga cara untuk menggambarkan karakter.  Rajin-rajinlah mengamati lingkungan sekitar. Bagaimana tetangga berbicara, tukang sayur merayu, dan lain sebagainya.

3. Dialog
Dialog yang baik bisa mencerminkan karakter tokoh. Jadi untuk bisa menulis dialog yang baik harus mengerti betul sifat tokoh yang sedang berbicara. Kau bisa mengasah keterampilan membuat dialog dengan memperhatikan lingkungan sekitarmu. Perhatikan cara orang berbicara. Bisa juga dengan membaca teknik-teknik membangun karakter, entah itu protagonis, antagonis, atau karakter sampingan.
Terakhir sebelum menutup tulisan ini, aku coba tunjukkan potongan dari adegan novel Spammer yang sedang aku buat. Narasinya singkat saja, yaitu:

Aven Dogoan, seorang direktur, mendengar pintu ruang kerjanya diketuk, lalu beberapa orang masuk, dan mereka akan menggeledah kantor Aven.

Setelah ditambahkan deskripsi, dialog, dan beberapa bumbu lain seperti kalimat pembuka yang menarik, jadilah adegan seperti di bawah ini:

Marabahaya datang tepat waktu. Lewat pintu ruang kerja itu suaranya menghambur, membuat ciut seisi ruangan.

Aven Dogoan yang sedang duduk gelisah nyaris terguling mendengarnya. Direktur gendut berumur 45 tahun itu melirik Rolex-nya.

“Shit!” pikirnya.

Sekaranglah saatnya. Pintu kayu coklat itu gerbang pertahanan terakhirnya. Jika sampai terbuka, ia harus berhadapan langsung dengan si marabahaya.

Papinya pernah bilang berbisnis itu bergulat dengan resiko. Semakin besar bisnis, semakin besar resikonya. Hari ini perkataan itu kembali mewujud.

Aven belum sempat berkata sepatah pun ketika pintu itu terbuka dan dari baliknya muncul lima orang berompi krem. Meski tak punya fobia, warna rompi para tamu itu membuat debaran di dadanya mengila.

Aven mengerjap. Seorang pria bertubuh tegap melangkah mantap mendekat. Pria itu berambut pendek rapi. Bibirnya tersenyum namun sorot mata sipitnya menyebarkan hawa malam berangin di gurun Gobi.

“Selamat siang, Pak Aven,“ kata lelaki itu. Ia lalu membetulkan lipatan amplop di tangannya.

Aven menelan ludah. Tangannya seperti membeku. Tepat di depan mejanya, lelaki itu mengulurkan tangan.

“Saya Priatna. KPK.”

Aven menjabat tangan Priatna. Priatna lalu menyodorkan amplop. “Kantor ini akan diperiksa. Surat perintahnya, Pak. Silakan.”

Aven menatap amplop itu seolah sedang disodori semangkuk racun. Setelah ragu tiga detik, ia pun menerimanya.

“Maaf, kami akan langsung mulai.”

Aven membaca isi amplop itu. Setelah selesai ia mendongak. Priatna masih di tempatnya. Suara gaduh

terdengar. Aven melihat sekelilingnya. Ia seperti tak mengenali kantornya.

Di luar ruangan, melalui pintu yang terbuka dan dua jendela kaca, para pegawainya berdiri dan melongok. Seorang anak buah Priatna sedang memeriksa lemari arsip di kanan ruangan dan seorang lagi berbicara dengan sekretarisnya yang hari ini memakai baju kuning. Sekretarisnya sedang tersenyum-senyum kepada petugas itu sambil berulang kali menyisir rambut dengan tangannya.

Gerak-gerik mereka membuat Aven menyesal. Ia ingat cerita teman-temannya. Aparat yang satu itu memang keparat. Mereka selalu tergesa-gesa dan tak bisa dibantah. Sayang sekali ia belum sempat belajar cara menghadapi mereka.

Sampai di sini dulu. Jika ada komentar dan saran silakan tulis di kolom komentar.
Selamat mencoba dan semoga tulisan ini bermanfaat.
Salam,

 

Ronny Mailindra
http://mailindra.cerbung.com