Sarekat Penulis Kuping Hitam

Posted by in Random, Seputar Menulis

Menulis novel adalah pekerjaan para penyendiri. Stephen King dalam buku On Writing bahkan bilang bahwa menulis novel tak beda dengan mengarungi samudra menggunakan bak mandi. Mungkin karena itulah ketika aku menemukan geng menulis yang satu ini, rasanya seperti pemabuk menemukan lapo tuak.

Pertemuanku dengan kelompok ini berawal di tahun 2009, saat aku baru mulai belajar menulis cerita dan merasa kemampuanku tak bisa meningkat meski sudah hampir satu tahun aku mempelajarinya–tentu saja secara otodidak. Di sebuah forum menulis ada pengumuman bahwa Dewan Kesenian Jakarta sedang membuka pendaftaran kelas penulisan novel. Mungkin memang jodoh, aku pun diterima di sana dan dimulailah perkenalanku dengan orang-orang ajaib.

dkj_bengkel2009 Sumber: www.dkj.or.id

Kursus penulisan itu–mereka menamakannya Bengkel Penulisan Novel DKJ dan para murid menamakan dirinya para montir–berlangsung selama 6 bulan. Bengkel itu memang sangat tidak mirip dengan lapo tuak. Baik guru maupun murid yang hadir tidaklah mabuk tuak (entah kalau zat yang lain). Namun, kumpul-kumpul yang kami lakoni agak-agak memabukkan. Ia menyebabkan kecanduan. Bahkan setelah jam kursus selesai, baik guru maupun murid masih saja melanjutkan acara kumpul-kumpul itu. Mungkin para guru kecanduan meracau dan para murid kecanduan dibohongi.

waktu_kursusjpg waktukelas2

Guru dan Murid yang ‘sakau’. (Gambar dok. Nia Nurdiansyah)

Peserta kursus datang dari berbagai latar belakang. Masih muda-muda–mungkin di kelas aku lah yang paling tua dan itu sempat membuatku berpikir kok baru belajar menulis setelah tua begini. Sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti mengapa gerombolan ini bisa punya kecocokan. Mungkin lain waktu perlu kuadakan riset tersendiri tentang hal ini.

waktubelajar4jpg waktubelajar3 waktubelajar5

Suasana Lapo Tuak Bengkel Novel DKJ 2009

(Gambar dok. Nia Nurdiansyah)

Tak terasa enam bulan berlalu dan bengkel itu pun berakhir, namun kegembiraan pertemanan justru baru dimulai. Pak Yusi A. Pareanom melontarkan ide untuk membuat karya bersama untuk diterbitkan. Beliau bersama rivalnya sahabatnya, yaitu Pak A.S Laksana akan membimbing kami di hutan rimba proyek penulisan itu. Dari sanalah lahir sebuah novel keroyokan yang berjudul Lenka. Dan dari sana pulalah lahir nama Sarekat Penulis Kuping Hitam. Tentang proses lahirnya novel Lenka tersebut, Pak Yusi menuliskannya dengan sangat ciamik pada lampiran novel Lenka. Softcopynya bisa di lihat di sini.

Aku ingat, saat proyek penulisan Lenka, kami sempat berkumpul beberapa kali. Suatu kali, Pak Yusi bakan sempat mengundang temannya untuk memperkenalkan Jurnalisme Narasi. Dr. Janet Steele, teman Pak Yusi ini, adalah seorang profesor dari George Washington University. Lehih banyak tentang hal ini mungkin akan aku ceritakan di lain kesempatan.

bukbermalaca buker2

Merancang ‘Pembunuhan’ Lenka (Gambar dok. Nia Nurdiansyah)

  kelas_narasijpg Janet Memberikan Kuliah Jurnalisme yang Sastrawi

(Gambar dok.Nia Nurdiansyah)

Dari foto-foto di atas mungkin bisa terbayang betapa asiknya geng ini. Namun sebenarnya hal-hal yang tertulis di milis kelompok ini jauh lebih heboh lagi. Internet membuat kami yang terpencar-pencar bisa ngobrol sedemikian gilanya. Sayang sekali hal tersebut tidak bisa dipotret dengan kamera.

Pada bulan Oktober 2010, novel Lenka pun lahir. Pak Yusi, guru kami, merangkap editor serta petinggi penerbit, berbaik hati membuatkan acara peluncuran. Acara tersebut berbarengan dengan Biennale Sastra Salihara. Seperti masih kurang heboh, beliau mengundang Ayu Utami dan Prof. Maneke Budiman sebagai pembedah novel. Acara diskusi yang dimoderatori oleh Sastrawan Sitok Srengenge itu sukses membuat anggota Sarekat Penulis Kuping Hitam ‘dag-dig-dug’. Tak terkecuali aku. Bayangkan, karya kami dibantai dikupas penulis dan kritikus sastra, apa ngga bikin badan meleleh?

undangan  Sumber www.salihara.org

Lenka-Ayu Utami-Manneke Budiman (Medium) bedah buku dan diskusi lenka (Medium)

Lenka sedang dibedah (Gambar dok. Nia Nurdiansyah)

 

the writer & the editor (Medium)Sarekat Penulis Kuping Hitam bersama para Guru

(Gambar dok.Nia Nurdiansyah)

  berita Sumber: www.vhrmedia.com

Oh ya, tentang nama Sarekat Penulis Kuping Hitam, sewaktu pertama kali mendengarnya aku sendiri sempat terhenyak. Amboi, alangkah berbau jaman perjuangan nama ini. Namun setelah mendengarkan penjelasan bahwa nama itu terinspirasi dari sebuah grup lawak–ditambah penjelasan  filosofis seperti kuping menyiratkan tindakan mendengar dan hitam melambangkan kesaktian; diikuti keterangan bahwa nama tersebut diberikan guru kami karena menganggap kami anak-anak yang lucu, cerdas, dan bakal terkenal  –aku ikut bergembira. Ajaibnya tak ada yang protes, paling tidak tidak secara terbuka. Mungkin semuanya mengamini hal tersebut, mungkin juga karena tidak ada ide yang lebih baik, entahlah. Yang pasti sampai sekarang kami masih memelihara nama tersebut.

Tiga tahun kemudian, pada malam takbiran di bulan Agustus 2013, grup whatsapp geng ini tiba-tiba menjadi ramai. Seperti biasa pembicaraan remeh-temeh dan ngalor-ngidul sukses membuatku terbahak-bahak. Mungkin karena sudah lama tak berkumpul, pada pembicaraan malam itu terlontar ide untuk kembali pamer cerpen. Pembicaraan berlanjut dengan  ide untuk membuat web bersama.

Keberuntungan sedang menyinari geng ini. Ide itu pun terealisasi dalam hitungan hari. Kini  kami punya situs yang beralamat di www.kupinghitam.com untuk memajang karya-karya kami.

webspkh

Melalui situs ini, para anggota Sarekat Penulis Kuping Hitam pun berniat untuk merayakan sastra. Ini juga salah satu cara kami untuk saling menyemangati agar terus menulis. Siapa tahu hal-hal ajaib bisa terjadi lewat situs ini.

***

Bandung, 12 September 2013

P.S:

Beberapa anggota Sarekat Penulis Kuping Hitam sudah menerbitkan buku, contohnya:

Semoga dimasa depan lebih banyak lagi anggota SPKH yang menerbitkan buku.