Menulis Cerita, Sebuah Kegiatan Yang Tidak Alami

Posted by in Random, Seputar Menulis

Oleh: R.Mailindra (twitter: @mailindra)

menulis, tindakan tidak alami
Sumber gambar: Wikipedia

Everything in boxing is backwards.
Segala hal dalam tinju adalah kebalikan. Kalimat itu muncul di film Million Dollar Baby, sebuah film drama olahraga yang diangkat dari kumpulan cerpen karya F.X Toole. Di film itu kita disodori fakta bahwa saat bertanding petinju melakukan saran ajaib itu. Bertindak kebalikan.

Jika misalnya petinju ingin bergerak ke kiri, ia tidak melangkah ke kiri tetapi justru menekan jempol kaki kanan, demikian pula jika ingin bergerak ke kanan, petinju akan menekan jempol kiri, dan yang lebih ajaib, alih-alih lari dari rasa sakit karena diserang—seperti yang seharusnya dilakukan oleh kebanyakan orang—seorang petinju justru masuk dan mendekati biang rasa sakitnya, yaitu lawannya.

Film dan buku itu jelas berasal dari penulis yang faham seluk beluk dunia tinju. Banyak hal yang tampil terasa begitu nyata. Ternyata F.X Toole adalah nama pena dari Jerry Boyd, seorang mantan pelatih tinju kawakan. Ia  sudah bertahun-tahun menjadi pelatih tinju sebelum menuangkan pengalaman itu ke buku Million Dollar Baby.

Saran untuk melakukan hal kebalikan, seperti yang diberikan kepada para petinju, jelas petuah aneh. Hal itu mengingatkanku akan saran untuk menulis cerita fiksi bagus. Menurutku mereka agak-agak mirip miringnya.

Kau tahu, seperti kebanyakan penulis pemula, aku pun mengalami kesulitan memulai tulisan. Bisa berjam-jam  bengong menatap layar kosong dan kursor yang berkedap-kedip sementara kepala mencari-cari kata atau kalimat pembuka yang tepat. Itu hal yang menjengkelkan. Namun, jika ada ide yang tiba-tiba muncul, yang datang entah darimana, aku seperti orang yang kebelet. Buka komputer dan kalimat menyembur lancar. Begitu mudah dan melegakan.

Mungkin itu sebabnya banyak penulis pemula malas menulis jika tak ada ide yang muncul. Bayangan harus berjam-jam memelototi layar kosong sungguh membuat ciut. Anehnya, kalau kau baca pengalaman  para penulis profesional, mereka justru menyarankan untuk menulis meski tidak sedang ingin menulis. Mereka punya waktu menulis terjadwal. Mereka akan menulis meski tidak sedang mood untuk menulis.

Awalnya kupikir itu saran aneh. Sebuah nasehat untuk melakukan tindakan tidak alami. Namun setelah mencobanya sendiri, aku bersukur pernah menemukannya. Kau tahu, aku tak mungkin selalu menunggu dewi inspirasi untuk datang, tersenyum, dan dengan tongkat ajaibnya berseru ‘Abrakadabra’. Sang dewi bisa saja datang kepadaku sekali setahun saat aku rapat di kantor atau sedang berada di sebuah tempat yang tidak memungkinkanku untuk menulis. Maaf ya Dewi cantik, daku tak mungkin mengandalkanmu.

Setelah mengalami sendiri betapa sulitnya menulis ketika tidak ada kalimat pembuka yang bagus namun merasakan betapa mudahnya kata-kata keluar ketika ide dan kalimat pembuka sudah tertulis di layar, aku jadi berpikir sepertinya nasehat para professional itu merupakan bagian dari hukum alam. Newton dalam hukum geraknya mengatakan: Sebuah objek yang diam akan tetap diam kecuali ada gaya yang membuatnya bergerak. Sebuah objek yang bergerak akan terus bergerak kecuali ada gaya yang menghentikannya.

Nasehat berikutnya yang pernah kudapat adalah: berhentilah menulis selagi masih ada yang ingin ditulis (nasehat ini kudapat dalam konteks menulis novel atau tulisan yang panjang). Nah, nasehat ini bukan saja tidak alami, tapi gila. Penjelasan saran tersebut adalah: dengan masih adanya hal yang ingin ditulis, akan membuat niat untuk melanjutkan tulisan keesokan harinya menjadi lebih kuat. Hal itu akan membuang sampai tuntas rasa takut mengadapi layar kosong dengan kursor yang berkedap-kedip genit mengejek. Kalau kau perhatikan, saran ini juga bagian dari hukum newton: benda bergerak akan terus bergerak!

Setelah sekian lama mempelajari keterampilan menulis fiksi, aku jadi sadar betapa tidak alaminya keterampilan ini. Coba perhatikan buku-buku cerita yang bagus. Mereka menjadi menarik karena berisi kesalahan yang dilakukan para tokoh, konflik gila, atau keanehan tingkah-laku para tokoh. Para pembaca tergelitik dan penasaran dengan kehidupan tidak alami di cerita itu.

Nasehat lain yang pernah aku dapat adalah: untuk membuat cerita yang bagus, jangan pernah mengelak dari masalah. Penulis yang baik selalu mencari masalah untuk para tokoh ceritanya. Semakin buruk masalah semakin bagus cerita. Jika misalnya tokoh utama  sedang bergelantungan di pinggir tebing dengan luka parah di tangannya, jatuhkan batu ke kepalanya atau lebih bagus lagi kirimkan angin topan kepadanya. Usaha tokoh itu untuk keluar dari masalah akan membuat pembaca terus mengikuti cerita.

Lihatlah betapa absurd dan tidak alaminya saran-saran menulis di atas. Di kehidupan sehari-hari kita belajar untuk menghindari masalah. Kita bekerja keras, belajar dengan keras, dan berusaha melakukan segala hal dengan sempurna untuk menghindari masalah. Tetapi, untuk menjadi penulis cerita fiksi yang bagus, yang mampu menghasilkan cerpen ataupun novel menarik, kita disarankan untuk mencari masalah. Gila ngga?

Semua hal tersebut membuatku jadi berpikir, mengapa orang-orang suka membaca nasib buruk yang dialami para tokoh dalam cerita? Aku mendapat beragam jawaban dari pertanyaan itu. Beberapa penulis mengatakan hal tersebut dikarenakan pembaca ingin diingatkan betapa beruntungnya mereka dengan melihat ke bawah, kepada orang-orang yang nasibnya lebih buruk dari mereka. Penulis yang lain mengatakan bahwa pembaca ingin mengetahui bagaimana manusia bertahan dari masalah. Namun aku berpikir keanehan dan ketidakalamian cerita fiksi mungkin saja mewakili sesuatu yang selalu kita coba hindari.

Maksudku begini. Secara tidak sadar, ketika kita tumbuh, kita diajarkan untuk bertindak tidak alami. Jika sedang bersedih kita dinasehati untuk tidak menangis, minimal tidak menunjukkan kesedihan; ketika sedang marah kita harus mengendalikan diri, minimal tidak menunjukkannya. Hal serupa berlaku untuk emosi yang lain seperti jatuh cinta, kesal, keberatan, dan lain-lain. Pada akhirnya aku jadi berpikir, bisa jadi kehidupan normal dan alami yang kita lakoni tidaklah senormal dan sealami yang kita pikirkan. Bisa jadi kehidupan tidak alami di cerita fiksi adalah kehidupan normal yang sebenarnya.

Suatu ketika guru menulisku pernah berkata: fiksi itu lebih nyata dari kehidupan nyata. Di kehidupan nyata sesuatu yang tidak logis bisa saja terjadi, tetapi dalam fiksi, segala hal harus logis jika ceritamu ingin dipercaya (kupikir ia menyadur kalimat milik Hemmingway). Ketika mendengar nasehat itu, satu hal yang terpikir olehku. Orang ini sudah sinting. Itu nasehat sinting. Dan sampai sekarang aku masih berpikir itu nasehat sinting. Hanya saja saat ini aku ikut-ikutan melakukannya dan menyebarkannya.

 

Bagaimana menurut kawan sekalian. Apakah itu saran sinting? Silakan dikomentari. Aku benar-benar ingin tahu.

Salam,
R.Mailindra
Bandung, 11 Agustus 2013