Menulis itu Sulit?

Posted by in Motivasi Menulis, Random

menulis itu gampang

Gambar pinjam dari sini

Hal tak terhindari ketika bergaul dan membaca tulisan di kompasiana.com adalah terjangkit penyakit kampungan, yaitu gatal. Dan gatal yang satu ini baru bisa terobati jika dilampiaskan dalam bentuk kata-kata (meski tidak selalu, terkadang malah tambah parah). Rasa gatalku kali ini datang setelah membaca tulisan dan komentar pada tulisan berjudul ‘Bohong Besar Jika Menulis itu Gampang’ dan Einstein Bikin Cerpen?. Keduanya memberikan argumen bahwa menulis itu sulit.

Sebenarnya dua tahun lalu aku pernah merenungkan klaim tentang hal tersebut, bisa dilihat di sini. Namun rasa gatal ternyata bisa membuat aku merenungkan kembali apa yang pernah direnungkan di masa lalu.

Jadi apakah menulis itu sulit? Arswendo bilang menulis itu gampang, loh. Dan Arswendo itu penulis besar.

Kalau diteliti dari kalimat tanya tersebut, sebenarnya jawabannya cuma dua: Ya atau Tidak. Anehnya pikiranku malah menjawab Ya-dan-Tidak. Aku jadi bertanya-tanya, kok begitu jawabannya? Plintat-plintut. Apa aku takut keceplung pusaran hater dan lover  seperti tema PKS, Jokowi, dan Fathin? Entahlah. Hal itu mungkin menarik, namun kita bahas lain kali saja. Sekarang, racauan tulisan ini harus memberi argumen jawaban nyeleneh tadi.

Memikirkan apakah menulis itu gampang aku jadi bertanya-tanya, apakah berbicara itu (sekadar ngobrol-ngidul) gampang? Apakah berdiri di kedua kaki lalu berjalan itu gampang? Kalau sampai kujawab kedua pertanyaan itu SULIT, tentu aku akan dilempar jumroh berjamaan di sini.

Kebetulan aku masih punya balita dan iparku punya bayi berusia kurang dari setahun. Aku perhatikan ponakanku itu berulang kali bangkit dan terjatuh dalam usahanya untuk bisa merangkak. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa tidak ada yang bilang sama bocah itu, “Nak, sudah lah, jangan dipaksain. Kau mungkin tidak berbakat!”

Anakku sendiri sedang belajar berbicara. Lafalnya belum sempurna. Sekarang ia sedang belajar mengucapkan kata WARUNG, yang selalu saja terpeleset menjadi RA-UNG, serta KELELAWAR menjadi KELE-WAWAR. Meski tersenyum, ajaibnya semua orang dewasa tidak ada yang mencegah bocah-bocah itu untuk terus berlatih. Hal tersebut sudah berjalan beberapa bulan.

Aku jadi berpikir, asyik betul jika calon penulis bisa bersikap seperti bayi-bayi tersebut, tidak memikirkan apakah keahlian yang ingin dia kuasai itu sulit atau gampang, tetapi penting atau tidak penting. Kupikir  kalau kita sudah ngebet ingin mengusai sesuatu, kita akan mencari cara terbaik untuk mempelajarinya, alih-alih memikirkan kesulitannya. Dan aku yakin ini berlaku di segala bidang, bukan hanya dalam bidang tulis-menulis.

Tentu saja urusannya jadi berbeda jika aku berharap dengan berlatih terus menerus anakku akan menjadi orator sehebat Presiden Sukarno, misalnya. Untuk sampai ketingkat jenius tentu tidak hanya perlu latihan, tapi juga bakat. Tapi kalau cuma bisa berpidato dengan baik, rasanya sangat mungkin untuk diraih.

Bagaimana menurut rekan sekalian. Apakah racauan ini terlalu naif? Apakah teman sekalian punya pengalaman tentang sulitnya mempelajari keahlian menulis? Atau mungkin pencerahan cara terbaik dan tercepat untuk menguasai teknik menulis? Silakan, aku ingin mendengarnya.

Salam,

 

R.Mailindra