Cerpen Suspense: Si Gendut Yang Licin

Posted by in Cerpen

cerpen_si_gendut

Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga dan terdiam seolah sedang mendengar khotbah maha penting. Matanya nyalang. Ia melirik ke kiri, ke arah lelaki tambun yang berdiri di depan konter resepsionis hotel—lima belas meter di samping kirinya.
Sambil terus tersenyum, sang resepsionis—seorang gadis berusia dua puluhan—mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Beberapa saat kemudian gadis itu berjalan ke belakang lalu menghilang. Saat kembali, ia membawa sebuah amplop.

Pria yang sedang mendengarkan ponsel itu ingin sekali mendekati mereka lalu mencuri dengar pembicaraan. Kalau mungkin sekalian melihat isi amplop tersebut. Namun ia tak mungkin melakukannya. Bisa kacau semuanya. Ia telah bersumpah kali ini harus berhasil. Sepertinya keputusannya kali ini tepat. Ia ingat dua minggu lalu sempat terkecoh. Dua minggu lalu bapak gendut itu pergi ke hotel lain dan ia hanya mengamati mobilnya saja. Setelah dua jam menunggu dan si gendut tidak kunjung muncul, ia pun masuk mencari tahu namun mendapati fakta ajaib: si gendut tidak pernah masuk ke kamar ataupun meninggalkan hotel. Ke mana hilangnya pria segendut itu?

Keledai pun tak masuk lubang yang sama dua kali. Ia tak ingin disamakan dengan keledai apalagi kalah pintar dari keledai. Demi arwah Sherlock Holmes, ia adalah detektif profesional. Kali ini ia akan menempel si gendut. Tidak terlalu dekat tapi mustahil untuk lenyap.

Awalnya dia pikir ini pekerjaan surveillance ringan yang bisa dikerjakan dua atau tiga hari. Sebuah perkiraan yang biasa ia pakai untuk mengamati kasus perselingkuhan. Seorang wanita berusia empat puluhan mencurigai suaminya dan menyewa mereka untuk menyelidiki. Kasus ringan. Biasanya begitu. Kunyuk. Siapa sangka suami wanita itu benar-benar licin.

Dalam sebuah kasus perselingkuhan, target mungkin mengandalkan hotel sebagai tempat bertemu. Namun mereka jarang memeriksa atau membuat langkah antisipasi untuk mengelabui para penguntit. Itu mungkin karena bedebah di selangkangan mereka sudah mengeras hingga otak mereka tak sempat memikirkan apa pun selain lubang untuk landing. Tapi si gendut ini beda. Ia mau berepot-repot membuat langkah antisipasi. Apa dia terlalu banyak nonton film spy?

Ah, si gendut bergerak. Ia segera bangkit lalu mengikuti.
Si gendut berjalan menuju area parkir di lantai dasar lalu berbelok ke kiri dan mendekati sebuah mobil kijang berwarna hitam.

Detektif itu mempercepat langkah. Udara terasa lebih pengap. Bau asap kendaraan tercium. Ternyata banyak juga mobil yang parkir di sini. Sebagian besar mobil keluaran terakhir.
Detektif itu terus mengikuti. Menjaga jarak. Di samping pintu depan mobil kijang berwarna hitam mengkilap itu, si gendut mengeluarkan kunci dari amplop lalu membuka pintu.

Detektif itu mempercepat langkah. Si gendut mulai memasuki mobil. Saat melintas di depan mobil itu, sang detektif berhenti, lalu mengeluarkan ponselnya. Tanpa melirik si gendut, ia mendekatkan ponselnya ke telinga dan mengarahkan kamera ponselnya ke kijang itu.

Detektif itu menekan sebuah tombol, lalu mengoceh seolah sedang menerima telepon. Sesaat kemudian, ia melanjutkan langkah sambil melihat gambar pada ponsel. Mobil kijang bergerak. Detektif itu menekan beberapa tombol untuk menelepon.

“Bintang, target bergerak. Kijang hitam, pelat B 5- …,” katanya. ”Kau tempel, aku susul.”
Setelah memutuskan sambungan, ia kembali menekan beberapa tombol.
”Hai Mika, kau kosong? Sip! Kau jemput aku ya, hotel ….”

Dua jam kemudian detektif itu telah duduk di dalam mobil, di samping temannya yang bernama Bintang. Mereka mengamati sebuah rumah bertingkat tiga bergaya minimalis di seberang jalan. Rumah itu berwarna krem dan coklat tua dengan pagar tembok setinggi dua meter di depannya.
”Bah! Bandot itu benar-benar paranoid. Cuma mau ’gituan’ saja dia buat berbelit-belit begini. Pikirnya dia itu James Bond apa?” kata detektif itu.
”Mungkin dia takut istrinya bakal nguntit, Bang.”
”Apa? Nguntit kata kau? Bah! Kalau begini ceritanya, sampai ganti mobil di dalam hotel segala, perempuan itu boleh mimpi kalau bisa nguntit sendiri. Polisi saja mungkin perlu berhari-hari buat tahu di sini gundiknya tinggal. Ah, sudahlah, potret dan cari tahu siapa yang tinggal di rumah itu. Kita harus buat laporan bagus. Kalau tidak, bisa hancur nama kita. Masa urusan begini perlu tiga minggu? Apa kata dunia?”
***