Sang Kritikus: Sangkuriang (Bagian 2)

Posted by in Cerpen

[BAGIAN 1 BISA DIBACA DI SINI >>>]

Sesaat kemudian kulihat batu itu pecah berkeping. Pecahan batu beterbangan menutupi pandanganku. Ketika debu-debu telah hilang, tampaklah sesosok pemuda. Ia berdiri dengan kujang di tangan kanannya. Tubuhnya tegap dan di kepalanya melilit kain. Wajahnya mirip bintang sinetron Korea. Sungguh tidak cocok muka seapik itu dengan tubuhnya yang demikian kekar. Ampun, menggelikan sekali.

“Hei, makhluk tak tahu diri,” teriaknya. “Beraninya kau menghinaku. Siapa yang kau bilang calon istrimu?”

Aku bangkit, meludah. Tadinya ingin juga kugosok hidungku ala Bruce Lee, tapi kubatalkan demi melihat kuku-kuku sialan ini.

“Ha..ha..ha..,” aku tertawa sekeras-kerasnya. Kuusahakan juga semenyeramkan mungkin namun tindakan itu dengan cepat kusesali. Ampun, apa aku terlalu banyak nonton sinetron? Aku jadi seperti bandit-bandit di tayangan tak bermutu itu.

“Kupingmu pasti belum tuli anak ingusan, kau sudah dengar. Cepat selesaikan danau dan perahunya sebelum kau kubuat jadi … perkedel?”

Eh, kenapa perkedel? Memang biasanya begitu, kan? Ah, kata terakhir itu memang susah sekali. Aku juga tak tahu kenapa perkedel yang keluar.

“Perkedel?” Sangkuriang mengerenyitkan dahi.

Aku menggosok hidung dengan punggung tanganku lalu bersin-bersin. Bulu-bulu sontoloyo. Ampun, beginilah kalau buat cerita tanpa riset. Jaman begini apa sudah ada perkedel?

Bagaimanapun the show must go on. Harus buat improvisasi kalau begitu.

“Ah, cecunguk macam kau mana tahu barang begituan. Majulah kau, wahai … pembokong?”

Sebenarnya aku juga bingung mau bicara apa. Tapi aku ingat bagian menarik dari sebuah dongeng justru adegan laganya—berantem. Jadi sekalian saja kupotong dan langsung ke adegan itu.

Sangkuriang memaki lalu menyerbu. Dua tusukannya berhasil kuhindari. Aku melompat. Jurus apa yang mau aku keluarkan? Tendangan tanpa bayangan seperti punya Jet Li? Ah, jangan. Tiruan murahan.

Tunggu dulu. Harus hemat. Bukankah setiap adegan harus punya maksud? Lalu, apa pula maksud laga ini?

Salah! Tidak semuanya. Ada juga yang cuma untuk bersenang-senang. Dan, adegan ini bisa kupakai untuk berpikir.

Jadi apa rencananya?

Sambil berjumpalitan menghindari serbuan, aku menyapu pandangan, mencari ide. Aku pasti bisa. Oh, dewi inspirasi, datanglah!

Sesungguhnya aku paling benci dengan kebetulan-kebetulan dalam sebuah cerita. Kalau sampai kutemukan, kujamin penulisnya akan menyesal pernah terlahir dan menulis cerita itu. Herannya kali ini aku malah menyukurinya. Saat melihatnya, aku langsung mengenalinya.

Itu dia, tiket keluarku!

Segera saja kupercepat gerakan. Kulentingkan tubuhku, bersalto dua kali, menjejakkan kaki ke bahu seekor jin bertubuh kerbau, lalu melenting lagi sebelum mendarat lima langkah dari perahu yang belum selesai dikerjakan. Rencanaku: akan kuhancurkan perahu ini. Dengan begitu gunung Tangkuban Perahu tak akan masuk cerita.

Aku berlari sekencang mungkin dan dengan segenap kekuatan aku arahkan tendangan ke perahu—seperti pemain bola mengeksekusi pinalti.

Sesaat lagi kujamin perahu itu akan pecah berkeping-keping. Namun, sulit dipercaya, sontoloyo juga, tendanganku meleset karena entah bagaimana Sangkuriang sudah ada di sana dan menghantamku dari samping.

Aku oleng, tapi sebelum terjatuh, aku berhasil memutar badan dan menyampok kakinya.

Rasakan!

Namun, hasilnya sungguh mencengangkan: kaki Sangkuriang menendang perahu.

Sangkuriang berteriak kaget.

Aku juga—tentu saja lebih keras.

Entah siapa yang paling terkejut atau paling menyesali kebetulan itu, yang pasti semuanya sudah terlambat. Batu sudah terlanjur jadi arca dan perahu itu sudah melesat ke utara. Mengikuti logika dongeng, nantinya ia pasti akan menjadi gunung—gunung Tangkuban Perahu.

Terkutuklah kau wahai kebetulan. Terkutuklah kebetulan yang tak masuk akal ini. Terkutuklah …ya sudah, semuanya sudah berantakan, jadi sekalian saja kulumat Si Sangkuriang ini.

Dengan segenap kekuatan putus asa, aku melompat dan menyerbu. Sangkuriang, yang tak kalah kalapnya, berkomat-kamit merapal ajiannya. Tubuhnya bersinar kekuning-kuningan seperti mentari pagi. Aku tak perduli dengan atraksi itu. Aku terus merangsek. Kedua tangan kukepalkan. Entah jurus apa ini, tapi seharusnya hantamanku lebih dahsyat dari godam.

Sesaat lagi kedua tanganku akan menghantam kepala pemuda sialan itu. Jika kena, dipastikan kepalanya remuk seperti kerupuk diduduki gajah. Herannya, ia tidak mengelak. Ia malah maju sambil menusukkan kujangnya.

Aku tercekat. Terlambat, tak mungkin kuhindari kenekatan itu. Dua tusukan langsung menghujam dadaku. Aku meraung dan refleks kutendangkan kaki. Tendanganku menghantam telak perutnya dan Sangkuriang pun terlempar.

Tusukan itu membuat dadaku nyeri. Dingin berganti hangat menjalariku. Aku tak tahu ke mana Sangkuriang terpental. Rasanya terpelanting ke selatan sambil berteriak ‘ibu’—seperti balita.

Tapi apa peduliku? Oh, kenapa ini sakit sekali? Apakah aku akan mati? Perempuan, maksudku penulis sialan itu, pernah menjawab pertanyaanku di cerita sebelumnya: “apakah aku bisa mati di tempat ini?”

Ia tertawa lalu dengan jumawa berkata: “hanya zombie yang bisa hidup tanpa jiwa.”

Bohong. Dia pasti menipuku, seperti jebakan ini. Tapi, tentu saja aku tak mau gegabah. Bagaimana kalau benar?

Kini kurasakan itu. Oh, sepertinya dia tak berdusta. Dadaku berdenyut, kepalaku pening. Aku seperti sedang diputar-putar. Tuhan, ampuni aku jika harus menghadapmu sekarang.

[BERSAMBUNG]