Cara Membuat Cerita Menarik – Trik Membuat Suspense (Bagian 2)

Posted by in Tips Menulis Cerpen dan Novel

Ini adalah bagian kedua dari trik membuat suspense untuk membuat cerita menarik.  Bagian pertamanya bisa di lihat di sini. Di sana kita membahas penggunaan waktu untuk menciptakan suspense.

Trik yang akan kita bahas pada bagian kedua ini adalah RESIKO / TARUHAN BESAR.

Cara membuat cerita menarik dengan menggunakan taruhan atau resiko besar

Semakin besar resiko semakin tegang cerita jadinya.

Gambar pinjam dari sini

2. Resiko / Taruhan Besar

Dahulu, tidak terlalu lama, ada adegan di komik Kungfu Boy yang menggambarkan sangat bagus soal taruhan besar inii. Ceritanya Chinmi, si Kungfu Boy, disuruh gurunya untuk melompati sungai dangkal. Lebarnya kurang dari dua meter. Jagoan kita berlari, melompat, bersalto, dan mendarat dengan satu kaki di seberang sungai. “Gampang,” katanya sambil tersenyum.

Gurunya mengangguk lalu mengajak si Kungfu Boy ke sebuah tebing yang sangat dalam. Di puncak tebing, Chinmi kembali disuruh untuk melompat hingga ke seberang tebing. Lebar kedua tebing lebih kurang sama dengan lebar sungai yang dengan gampang Chinmi lompati. Jagoan kita mengambil ancang-ancang, berlari, namun tepat di ujung tebing, ia berhenti. Chimni berkeringat, menelan ludah, dan tak berani melompat. Apa yang terjadi? Ternyata jagoan ini ciut nyalinya. Ia sadar jika sampai gagal ia bisa mati.  TARUHANNYA TERLALU BESAR!

Begitulah. Untuk membangun ketegangan pada tokoh (yang pada akhirnya akan meresahkan pembaca), kita bisa memasukkan resiko atau taruhan besar yang harus dibayar atau dialami oleh sang tokoh jika gagal melakukan suatu tindakan atau aksi. Semakin besar resikonya, semakin tengang adegan itu.

Namun demikian, taruhan tersebut tidak mesti mempengaruhi bumi, negara, atau presiden. Resiko tersebut bisa saja cuma anak, istri, teman, orangtua, anjing, atau hal-hal lain. Intinya, resiko tersebut harus bisa membuat hidup sang tokoh hancur.

Berikut ini langkah untuk membuat suspense dengan memanfaatkan faktor resiko:

Buat tokoh menjadi disukai sehingga pembaca simpati kepadanya. Tentang hal ini tidak akan dibahas di tulisan kali ini. Mungkin di lain waktu,

  1. Tunjukkan adegan yang menggambarkan resiko yang bakal dihadapi oleh Sang Tokoh. Misalnya, jika resikonya adalah dibunuh, tulis adegan yang menggambarkan tokoh antagonis membunuh. Setelah itu tunjukkan bahwa antagonis tersebut mengancam tokoh utama.

Sebagai contoh, saya akan membeberkan penggunaan tips ini pada novel Spammer yang saya tulis:

    1. Aku buat adegan pengeroyokan kepada tokoh utama dan ancaman kepada tokoh utama. Tokoh utama mengalami sendiri sakitnya dan ngerinya ancaman tersebut sehingga setelah ia lolos dari percobaan pembunuhan tersebut, sang tokoh utama memutuskan untuk melarikan diri.
    2. Setelah itu, barulah saya tulis adegan melarikan diri sang tokoh utama. Selama adegan itu saya buat sang tokoh utama selalu mengingat resiko yang harus ia hadapi jika gagal. Berikut ini adegannya:

Sambil mengunyah kentang goreng, aku mengedarkan pandangan. Warna kuning ada di mana-mana. Dua kursi di kananku, duduk seorang lelaki. Lelaki itu kini sedang menggit burger-nya, dan saus tomat meleleh di sudut bibir lelaki itu.

Satu kursi di depan lelaki itu, seorang perempuan berseragam restoran sedang mengelap meja yang tertumpahi cairan berwarna merah. Warna merah berbusa tumpahan itu membuatku teringat kejadian semalam dan perampokan di warnet Roy. Kupikir, orang-orang semalam mungkin preman bayaran. Mereka mungkin saja masih mencari. Apakah mereka ada di sini?

Aku sekali lagi menyapu pandangan. Warna kuning ada di mana-mana. WARNING, DANGER. Kini aku yakin akan selalu was-was jika masih di Jakarta.

Pukul tujuh tepat mesin van itu menyala. Mobil melaju menuju gerbang keluar lalu berbelok ke kiri mengikuti arus jalan Wahid Hasyim. Kira-kira beberapa belas meter di depan berdiri lampu merah yang akan memaksa arus lalu lintas berbelok lagi ke kiri mengikuti arus jalan Thamrin.

Aku menyandarkan kepala. Kursi itu terasa empuk; udara terasa sejuk, tetapi aku merasa gelisah. Beberapa saat kemudian, kurasakan mobil melambat lalu berhenti. Aku menegakkan badan, menggeser kepala, lalu menatap kaca depan mobil.
Hanya ada empat mobil di depan. Dari lampu merah, mobil tumpanganku berada pada urutan ketiga. Kucoba memandang lebih jauh—mengamati suasana di depan lampu merah.
Di kejauhan tampak segerombolan pria menyeberang. Aku mengernyit. Entah mengapa mereka tidak memakai jembatan penyeberangan. Padahal lebih aman. Dan mengapa pula mereka sibuk melirik ke kiri dan ke kanan?

Mendadak kurasakan otot-ototku menegang. Dengung pendingin ruangan terdengar menusuk gendang telinga. Kubuka mata lebih lebar.

Seorang lelaki berjaket kulit hitam tampak seperti memberi perintah: menunjuk ke kiri dan ke kanan. Gerombolan itu lalu berpencar. Dua orang yang tersisa berdiri tepat di bawah lampu lalu lintas. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu salah seorang menyusuri mobil-mobil yang sedang menunggu lampu merah.
Lelaki itu sepertinya tidak punya malu. Ia menempelkan mukanya di kaca jendela mobil yang ia telusuri. Si Penempel Muka itu terlihat berambut panjang. Rambutnya ia selipkan ke belakang telinga sehingga antingnya berkerlip terkena sinar mentari. Mata kanan lelaki itu tampak gelap dan bengkak, seperti habis terjatuh atau … kena pukul.

Tiba-tiba aku merasa jantungku seperti melompat ke tenggorokan. Kueremas ujung tempat duduk. Mati aku!
Seperti tayangan ulang acara gulat SmackDown, aku ingat pemuda berkaos putih, gondrong, dan beranting yang terkapar semalam setelah aku menyikut mata kanan orang itu.

Waktu merayap bagai koala rematik. Aku merasa menunggu lampu berubah hijau seperti mengantri tiket kereta api lebaran.

Si Gondrong selesai menyusuri baris pertama. Kini Si Gondrong berpindah ke barisan kedua.
AC mobil seperti mati. Aku berkeringat. Kalau sampai pria itu memergokiku, aku akan terperangkap.

….

Bagaimana? Tertarik mencoba membuat cerita yang ada adegan menegangkannya? Atau kau punya tips lain untuk membuat suspense, terutama yang melibatkan faktor resiko? Atau punya pengalaman menonton dan membaca cerita yang meneggangkan hingga masih membekas sampai sekarang? Silakan tulis di kolom komentar.
Salam Menulis.

 

R.Mailindra

P.S :