Merzen

Posted by in Cerpen

Ketika bangun pada pukul tujuh pagi, hal pertama yang Tommy lakukan adalah memeriksa bokongnya. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Ia seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk itu serta merasakan sebuah … ekor.

Ekor?

Tommy segera terduduk di tempat tidurnya. Mata terbuka penuh. Refleks ia melihat ke belakang saat merasakan kejanggalan. Tangannya kanannya seperti sedang memegang seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter di balik celana dalamnya.

Di mimpinya semalam, ia mempunyai ekor yang panjang—sampai kira-kira sepanjang kaki—tapi sekarang, setelah bangun, mengapa ia masih mempunyainya? Dan mengapa pula hanya dua jengkal?

“Memang masih pendek, dan akan tumbuh maksimal dalam tiga ratus ribu tiga ratus enam puluh deringo.”

“Tepat sekali,” pikir Tommy.

Tommy terlonjak. Ia mengenalinya. Itu suara makhluk yang selalu mengikutinya semalam, tapi mengapa ia masih bisa mendengarkannya?

Tommy memutar badannya, melirik ke samping kiri, dan langsung terlonjak. Astaga! Makhluk itu berdiri di sana—tepat di ujung tempat tidurnya.

***

“Sebaiknya Tuanku segera mandi dan sarapan. Ini akan jadi hari yang berat.”

Tommy menelan ludah. Susah sekali karena tenggorokannya kering dan ia merasa badannya begitu lengket seolah baru selesai maraton beberapa puluh kilometer. Ketika keterkejutannya telah berhasil ia kendalikan, pemuda bertubuh atletis itu menatap takjub makhluk yang sama sekali tidak cocok dijadikan aksesoris kamarny karena warnanya terlalu cerah—keemasan. Makhluk itu menatapnya dengan khidmat lalu mengangguk memberi menghormat.

Di matanya, wajah aksesoris hidup itu sangat akrab. Ia merasa wajah makhluk itu agak mirip dengannya. Sayangnya makhluk aneh itu tak tampak seperti manusia. Ia lebih mirip gorila berbulu emas yang memakai semacam baju karet. Si gorila mengingatkan Tommy akan film Star Wars. Apakah ia salah satu penghuni planet Wookiee?

“Getho?”

“Hamba, Tuanku.”

Tommy menggelengkan kepala dan menyumpahi ingatannya. Ini bahkan lebih aneh lagi, mengapa ia bisa tahu nama makhluk itu? Apakah ia masih bermimpi?

“Tuanku sudah terbangun dan kembali ke dunia selama delapan ribu deringo yang jika dikonversikan ke dalam satuan waktu Bumi adalah dua menit empat puluh detik.”

“Kau ini robot?” Tanya Tommy.

“Robot paling canggih di Bumi ini masih berusaha untuk bisa berjalan, menari, menendang bola, dan mencari jalan, Tuanku. Mereka bahkan lebih bodoh dari bayi simpanse. Sedangkan saya …”

Tommy mengangkat tangannya.

“Getho, namamu Getho kan? Kepalaku pusing. Coba katakan, kalau benar aku sudah terbangun, mengapa aku masih bisa mengingat semuanya dan yang lebih parah lagi, kenapa kau masih mengikutiku?”

“Tuanku sudah tahu segalanya.”

“Aku mau dengar dari mulutmu karena aku sedang tidak bisa mempercayai pikiran dan penglihatanku.”

“Tuanku harus percaya ….”

“Katakan saja!”

“Sebaiknya Tuanku mandi dan sarapan dahulu. Saya akan ceritakan kembali di dapur nanti.”
Ini Sabtu yang cerah. Dari dapurnya Tommy bisa melihat langit musim semi berwarna biru bersih tanpa awan sedikit pun dan ruangan itu sudah dikuasai aroma sedap kopi Jawa serta roti bakar yang menggoda bujang berusia dua puluh delapan tahun itu untuk melahap sarapan di atas meja sampai tuntas.

Tommy mengoleskan mentega di rotinya dan memasang raut wajah orang yang tersesat di hutan Amazon. Ia menatap minta pertolongan kepada Getho yang duduk di seberangnya. Cahaya mentari yang masuk dari jendela di belakang Getho membuat bulu-bulu makhluk itu berpendar-pendar.

“Kita ada di Bumi, tepatnya Hannover, Jerman, tanggal 12 Mei tahun 2012. Sekarang musim semi dan semua hukum alam, mulai dari gravitasi hingga sebab-akibat masih tetap berlaku. Hanya saja Tuanku sekarang membawa serta kekuatan Alam Merzen.”

Tommy menggigit rotinya. Setiap selesai dua gigitan, ia menyesap kopinya. Plain, tanpa gula. Rasanya pahit dengan bayangan manis di ujungnya. Ia pun menggeser-geser pantatnya. Sekarang ia tak bisa lagi duduk nyaman. Ekor sialan ini benar-benar mengganggu.

“Getho,” kata Tommy sambil mengoles roti keduanya, ”Kau lebih pintar dari ….”

“Ralat, Tuanku. Jauh lebih pintar,” potong Getho.

Oke, jauh lebih pintar dari komputer tercanggih dan bahkan bisa membaca pikiranku,” Tommy mendengus. “Aku yakin kau membawa serta kekuatan dari alam, apa namanya?”

“Merzen.”

“Ya, Merzen. Jadi kenapa tidak kau saja yang melakukan tugas itu dan berhenti mengikutiku?”

“Hamba hanya bayangan Tuanku.”

Tommy berhenti mengoles. “Maksudmu cuma aku yang bisa melihatmu?”

Getho mengangguk. Dahi Tommy berkerut.

“Jadi, kalau saat ini orang lain melihatku, aku akan tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang sedang berdiskusi dengan roti panggangnya?”

Getho mengangguk penuh simpati.

“Ampun, tobat!” Tommy menepuk jidatnya.

“Tuanku, hamba hanya bayangan Tuanku. Hamba adalah Tuanku, dan Hamba hanya dapat Tuanku lihat dan dengarkan selama nexus Tuanku ada.”

“Nexus?”

“Di sini disebut ekor atau buntut. Tapi itu tidak tepat benar karena ekor tidak memberi kekuatan sedangkan nexus menyimpan kekuatan Tuanku sejak sebelum empat ribu empat ratus empat puluh empat reinkarnasi.”

“Hei, aku tak perduli. Aku cuma bingung, jika ekor, atau u-us…”

“Nexus, Tuanku.”

“Ya, whatever lah, ini tumbuh sampai kakiku dalam dua jam mendatang….”

“Dua jam, lima menit, tiga puluh sembilan detik.”

“Hei, jangan memotong kalau aku bicara ….”

“Tepatnya mengoreksi, Tuanku.”

“Ampun! Kau ini cerewet betul. Maksudku, kalau ekor ini tumbuh sampai ujung kakiku hari ini, bagaimana aku menyembunyikannya waktu kerja hari Senin nanti?”

Tommy menatap serius makhluk itu. Getho seolah memberinya tatapan seorang dokter kepada pasien yang sedang sekarat. Yang tidak Tommy tahu, Getho sedang takjub. Bagaimana bisa Tuannya tidak sadar hal besar yang sedang menanti, malah memikirkan hal remeh yang belum pasti. Sinar mata Getho meredup ketika ia kembali bersuara.

“Tak akan ada hari Senin kalau Tuanku tidak menyelesaikannya saat mentari terbenam.”

[BERSAMBUNG]