Haru Berbuah Buku

Posted by in Random, Seputar Menulis

Novel LenkaKau tahu, bahwa keharuan juga bisa berbuah buku, tepatnya novel. Itulah yang terjadi pada buku keduaku, sebuah novel yang berjudul Lenka.

Novel Lenka ini kutulis bersama teman-teman Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta angkatan 2008 dan 2009 dan disunting oleh dua orang guru kami, yaitu Yusi A. Pareanom dan A.S Laksana.

Berkat novel ini, kami, para penulis Lenka memperoleh sebuah nama, yaitu Sarekat Penulis Kuping Hitam. Kalau kau ingin tahu tentang nama ini, kau bisa longok halaman ini.

Bukan cuma nama kelompok yang unik, proses pembuatan novel ini pun tak kalah ajaib. Bayangkan, 17 orang penulis yang punya latar belakang dan gaya menulis berbeda mencoba menuliskan satu buah novel utuh.

Bbiar tidak penasaran langsung saja baca catatan di bawah ini.  Catatan ini dibuat oleh Yusi A Pareanom–guruku sekaligus editor novel Lenka.

Catatan Proyek Lenka – Yusi Avianto Pareanom

Proyek Lenka

Sebuah buku bisa lahir karena rasa haru. Lenka adalah salah satunya. Tapi, sebelum sampai ke sana, izinkan saya melantur dulu.

Bagi saya, Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta yang digelar pada 2008 dan 2009 adalah berkah karena kegiatan ini mempertemukan orang-orang yang beruntung. Dua pengajarnya, A.S. Laksana (Sulak) dan saya, sangat gemar membual. Kami sudah terjangkit bakat ini saat pertama kali bertemu pada 1981 di kota kelahiran kami, Semarang. Saat itu kami masih duduk di bangku SMP. Kebiasaan ini kami lanjutkan di SMA ketika kami juga belajar di sekolah yang sama. Seperti lazimnya orang Semarang yang lain, kami tumbuh atau tepatnya dikutuk menjadi tukang cela, tukang ngeyel, dan tukang keluh profesional (kuliah di Jogjakarta sedikit melunakkan bakat-bakat kami itu). Dengan portofolio semacam ini, jelas kami merasa beruntung saat Zen Hae, Nukila Amal, dan Ayu Utami dari Komite Sastra DKJ menawari kami mengasuh Bengkel. Sungguh menggiurkan, diberi kesempatan menipu orang-orang baru selama tiga bulan. Dasar jodoh, murid-murid yang kami dapatkan selama dua periode ternyata sangat senang kami gurui dan cela karyanya.

Ada dua belas kali pertemuan untuk setiap periode Bengkel yang digelar di MP Book Point di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Induk semang pertemuan adalah Rosdianah Angka. Setiap Sabtu, kelas dimulai pukul dua siang dan berakhir pukul empat sore. Itu jadwal resminya. Setiap selesai kelas, pertemuan selalu berlanjut sampai petang bahkan malam hari, biasanya di teras belakang MP Book Point dengan ngopi dan menggasak camilan-camilan yang bentuk, tekstur, dan rasanya ajaib—utamanya pada 2009, kadang kami pindah ke kafe lain. Jelas, pengajarnya belum puas berkicau sementara muridnya kecanduan dikibuli.

Ketika kelas 2009 berakhir pada Desember tahun itu, beberapa peserta secara terbuka menyatakan kesedihan mereka. Mungkin mereka kebanyakan nonton fim India atau telenovela. Sialnya, kami berdua ketularan. Agar ada alasan pertemuan terus berlanjut, saya menawarkan kepada angkatan 2009 untuk membuat karya bersama. Ini murni kecelakaan dan awal kepuyengan saya—saya akan menjelaskan lebih lanjut di bawah. Semestinya, saya meniru saja orang-orang desa Asterix yang tak memerlukan alasan saat ingin menggelar kenduri.

Apa pun, tawaran sudah kadung digulirkan. Apalagi saya punya janji kepada Komite Sastra, bahwa penerbitan saya, Banana, akan menerbitkan karya terbaik peserta pelatihan. Bila kemudian tawaran berubah menjadi penerbitan karya bersama, itu karena semua peserta setara kecakapannya. Sekalipun awalnya tawaran ini disodorkan di milis Bengkel 2009, saya dan Sulak juga mengajak anak-anak angkatan 2008 ikut bergabung dalam proyek kegembiraan bersama ini.

Di milis Bengkel, pada 27 Desember 2009, terilhami oleh beberapa peristiwa bunuh diri di mal-mal Jakarta, saya menulis begini: Pada sebuah acara penggalangan dana yang meriah, seorang perempuan muda bergaun biru wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?

Saya masih menulis beberapa kalimat pancingan lagi yang intinya meminta para montir—demikian para peserta menyebut diri mereka, saya dan Sulak tak pernah menyapa mereka seperti itu, kami memanggil mereka Sarekat Penulis Kuping Hitam, lebih lanjut soal ini di bawah—merumuskan sendiri siapa Lenka dan mengapa peristiwa naas itu bisa terjadi. Saya mempersilakan mereka mengajukan ide yang ingin mereka tulis. Boleh mengikuti pancingan, boleh juga bikin lakon carangan sepanjang ada benang merahnya.

Apakah ide awal tersebut akan menjadi kumpulan cerpen atau novel, saya menyerahkannya kepada peserta Bengkel. Apakah nantinya akan plek seperti pancingan atau menyimpang seliar mungkin, saya tak punya bayangan pada waktu itu. Saya mengambil sikap meniru sebuah bait puisi petuah dari seorang perempuan yang pernah saya taksir semasa SMA—ia sering sekali menulis puisi semacam itu di milis alumni SMA kami: biarkanlah semuanya mengalir. Tapi, saya dan Sulak yakin proses dan hasilnya bakal seru. Yang kami minta adalah anak-anak Bengkel menghadirkan kejutan dan berani meninggalkan zona nyaman mereka.

Tawaran itu langsung disambar. Pertama-tama soal keikutsertaan. Sekalipun saya memberi tenggat pendaftaran, yang telat tahu kabar ini juga ingin ikut. Lalu Sulak mengompori soal honor. Nyaris semuanya langsung mempraktekkan jurus sapi bersimpuh dan bilang bahwa diajak menulis bersama saja sudah senang. Dalam hati saya merutuk, sialan, mereka pintar memancing haru, dan itu alamat bandar bakal rugi.

Tepat pada 1 Januari 2010, Yuki Anggia Putri Ritonga menjadi orang pertama yang menggelindingkan bola. Ia menulis kehidupan kuliah Lenka dan pertemuannya dengan seorang fotografer—Andina menyambarnya dengan menyebut-nyebut soal aliran fotografi pembebasan. Lalu Miftah Rahman menulis tentang perjanjian dengan setan yang dilakukan ayah Lenka, seorang konduktor orkestra. Apendi, sesuai petingkahnya yang serba misterius dan konspiratif, bahkan sampai saat ini, menyodorkan keterlibatan organisasi rahasia yang berada di balik kematian Lenka. Wahyu Heriyadi, jauh-jauh dari Palu, menyumbang cerita mistis tentang gedung yang menjadi lokasi kematian Lenka. Sementara itu, Nia Nurdiansyah memberi tinjauan psikologi panjang lebar tentang orang-orang yang bunuh diri.

Bagaikan gerombolan piranha mendapatkan tetelan babi, anggota Bengkel yang lain menyambar dan memberi kritik. Saling kritik—atau saling bantai—memang menjadi asupan harian kami. Dilarang sakit hati adalah pelajaran hari pertama di Bengkel. Dengan kritik, ide kurang bagus bisa terasah, dan ide yang sudah bagus akan tambah mengkilap. Usulan-usulan baru pun meluncur deras. Sulak menyebut mereka kaum yang kesurupan Lenka.

Setelah beberapa bola menggelinding dan ditendang beramai-ramai, saya mengulang lagi pertanyaan apakah Proyek Lenka, demikian kegembiraan dan eksperimen bersama ini disebut, akan digarap bersama-sama sebagai sebuah novel atau setiap yang terlibat ingin membuat tafsir sendiri-sendiri atas ide awal. Semuanya sepakat memilih yang pertama.

Saya mengajak mereka berkumpul lagi untuk membahas outline dan karakter-karakter yang ingin dimunculkan. Kami bertemu pada awal Januari 2010, dan tempat pertemuan yang dipilih anak-anak Bengkel sungguh tak imajinatif. Dari 1.234 kafe di Jakarta, mereka memilih MP Book Point. Alasannya, takut kesasar kalau ke tempat lain. Saya mengancam tak akan meneruskan Proyek Lenka bila tempat pertemuan berikutnya tak berubah.

Pertemuan hari itu juga menandai perjumpaan pertama anak-anak angkatan 2008 dan 2009. Perbedaan yang mencolok antara dua angkatan ini adalah anak-anak 2008, tepatnya Wiwin Erikawati, membawa sekardus kue yang enak-enak sementara anak-anak 2009 datang dengan tangan kosong. Mungkin angkatan 2009 kangen dengan camilan MP Book Point seperti combro yang harus dicelupkan ke kopi panas karena saking kerasnya atau bolu yang seukuran telapak tangan orang dewasa yang baru saja tersengat lebah—besar sekali.

Pertemuan itu menyepakati banyak hal. Utamanya tentang apa dan siapa Lenka—usianya terpangkas menjadi 19 tahun dalam rapat ini, misalnya—motif tindakan-tindakannya, karakter-karakter pendukung, serta yang tak kalah penting adalah nada penulisan. Setiap orang boleh bereksperimen dan membawa gaya mereka masing-masing, tapi nada mesti selaras. Untuk mendapatkan keselarasan itu, saya meminta mereka membaca buku, menonton film, dan mendengarkan lagu yang saya pikir bisa membantu. Dalam waktu singkat, usulan daftar lagu dan film bertambah sementara daftar bacaan tidak.

Berdasarkan hasil rapat, saya kemudian membuat outline dan kemudian membagi bola, siapa menggarap bab berapa. Pembagian ini selain mengacu kepada minat dan usulan para penulis juga semacam tantangan kepada mereka. Jadi, sedikit banyak agak sepihak, untungnya pengambilan keputusan ala demokrasi terpimpin ini diamini anak-anak Bengkel. Sebetulnya, rencana awalnya saya dan Sulak akan ikut menulis satu bab. Tapi, akhirnya kami sepakat semuanya digarap Barisan Penulis Kuping Hitam.

Saya lalu mendorong yang terlibat dalam Proyek Lenka bereksperimen lebih lanjut. Saya meminta mereka membuat akun Facebook atas nama tokoh-tokoh dalam Lenka dan menjalankan peran itu secara bersungguh-sungguh. Hitung-hitung latihan method writing. Beberapa menjalankan dengan takzim, beberapa tak sanggup menahan geli. Yang paling parah untuk yang terakhir ini adalah Laire Siwi Mentari.

Lalu, mulailah proses yang paling menarik. Satu demi satu pengeroyok Lenka memacak bab yang mereka tulis di milis. R. Mailindra menyebut Bengkel adalah padepokan silat sehingga jika dapat sedikit tendangan atau pukulan itu wajar belaka. Artinya, kritik pedas, dan mungkin bertubi-tubi, itu mesti diterima kalau mau tambah ilmu. Ia benar, karena jika ada yang mengirimkan naskah tapi sepi tanggapan yang bersangkutan justru merasa nelangsa. Yuki yang paling rajin berperan sebagai polisi bahasa. Saya dan Sulak biasanya memberi tanggapan atas tanggapan, utamanya yang luput ditanggapi para penanggap (saya meminjam gaya bahasa Wahyu di sini).

Sulak menyebut aksinya mengkritik sebagai mengamuk. Dan, ia mengamuk dengan brutal. Yang paling sering ia lakukan adalah meminta anak-anak Bengkel memperagakan kalimat-kalimat janggal yang mereka buat. Beberapa anak Bengkel tergerak meniru, dan komentar yang muncul atas kiriman naskah semakin tajam. Kadang ada yang sedemikian tajam sehingga yang kena kritik tergores hati dan harga dirinya, lalu menyerang balik dan mempertanyakan kualitas si pengkritik. Andina menyebut gesekan semacam ini percikan bunga api. Mendengar kata bunga api itu Sulak buru-buru membawa jeriken bensin oplosan dan saya menyusul di belakangnya dengan kipas besar. Ganjilnya, hasutan kami agar perang makin ramai justru membuat anak-anak Bengkel yang bertikai saling meminta dan memberi maaf, seperti Lebaran saja.

Sebetulnya, saya dan Sulak bisa saja memainkan peran juru damai seperti Ketua RT di sinetron-sinetron Indonesia atau Babinsa di kampung-kampung. Tapi, alangkah membosankannya. Dinamika dalam sebuah grup biasanya menjadikan karya yang muncul dari kelompok itu ciamik. The Beatles jelang bubarnya menghasilkan karya-karya terbaik justru ketika ketegangan menjelujur di antara keempat anggotanya. Sebaliknya, karya Queen jelang Freddie Mercury meninggal—ketika semua anggotanya rukun—jauh di bawah album-album mereka sebelumnya. Saya sama sekali tak ingin menyamakan Sarekat Penulis Kuping Hitam dengan dua grup musik hebat itu, tapi saya ingin bilang ke mereka bahwa rivalitas itu penting karena semuanya ingin membuktikan diri sebagai yang terbaik. Rivalitas tak perlu ditakuti karena ia bukan permusuhan.

Setelah hampir semua bab ditulis, kami berkumpul lagi membahas penulisan bersama ini. Kali ini dalam jumlah besar. Pengeroyok Lenka dari dua angkatan yang sebelumnya hanya bercakap-cakap melalui milis bisa berkenalan langsung, dan makan-makan tentunya. Kali ini, mungkin malu saya sindiri terus, angkatan 2009 ikut membawa kue-kue, dan selanjutnya saling tukar hadiah atau buah tangan menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Pertemuan semacam ini terjadi beberapa kali. Katamsi Ginano, kawan Sulak dan saya, ikut meramaikan beberapa pertemuan dan melontarkan hasutan di sana-sini agar tulisan anak-anak Bengkel makin sedap. Setiap setelah pertemuan, saya dan Sulak meminta anak-anak Bengkel merevisi tulisan mereka.

Pada Juni 2010, draf pertama Lenka rampung. Saya dan Sulak bersepakat bahwa saya akan menjadi penyunting pertama dan baru kemudian ia merapikan lebih lanjut. Lagi-lagi, ini keputusan yang keliru. Mestinya saya mengumpankan Sulak lebih dahulu. Draf pertama, sekalipun tulisan per babnya sudah lebih baik ketimbang setoran-setoran awal, bercerita tentang Lenka yang berbeda-beda. Kadang, kepribadiannya sangat bertolak belakang dari satu bab ke bab lainnya. Untuk sebuah omnibus, hal ini tak menjadi masalah. Untuk sebuah novel yang tujuh belas penulisnya bertindak sebagai satu orang, ini persoalan. Persoalan saya, tepatnya.

Untuk naskah-naskah yang kembangannya terlalu jauh dari outline, saya meminta para penulisnya menulis ulang. Tapi, persoalan tak berhenti sampai di sini. Nada penulisan yang sejak awal disepakati ternyata dilanggar beramai-ramai. Penyelarasan bab-bab yang bercerita tentang Lenka inilah yang membuat penyuntingan tahap pertama memakan waktu—untuk bab-bab yang bercerita tentang karakter pendukung penyuntingannya lebih enteng. Sialnya, anak-anak Bengkel dengan semena-semena mendakwa saya mengidap fobia menyunting Lenka. Sapi betul.

Saat menyunting, saya mengubah pembukaan beberapa bab, menambahkan kalimat-kalimat penyambung, dan juga memangkas bagian-bagian yang membikin pembacaan seret atau tak sesuai dengan nada penulisan. Ketika saya pacak icip-icip penyuntingan tahap pertama di milis, anak-anak Bengkel bereaksi. Salah seorang penulis yang naskahnya saya permak langsung protes. “Kok metafora yang saya pakai hilang semua?” Saya menjawab bahwa metaforanya lemah, dan masih untung titik dan komanya tetap saya pakai. Ia nangis bombay, tapi kemudian hari mengaku bahwa penyuntingan menjadikan naskahnya lebih bagus. Tentu saja.

Ketika naskah sudah disetor semua pertemuan bulanan tidak berhenti, menjadi-jadi malah. Kami bertemu untuk berbual-bual sembari makan dan ngopi bareng. Pada kesempatan-kesempatan semacam ini, biasanya mereka tak lupa mendesak saya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang sekian lama mengganggu mereka: kepanjangan A.S. pada nama Sulak. Awalnya saya menjawab Ahmad Sulaiman, dan mereka percaya. Lain kali saya bilang Alexie Sherman. Anak-anak Bengkel yang makin penasaran akhirnya mengajukan kombinasi mereka sendiri: Antonio Severus, Ajengan Sayid, Amadeus Salieri dan apa saja yang cocok dengan inisial A.S. Yuki pernah suatu kali datang dengan muka serius dan bilang kepada semua orang bahwa ia akhirnya tahu kepanjangan A.S. yang sebenarnya: Alit Seto, dua nama tokoh yang sering Sulak pakai untuk cerpen-cerpennya. Saya ketawa, tidak membenarkan atau menyalahkan, hanya berpikir yang seperti itu saja kok jadi obsesi berat. Si sasaran, Sulak, ketawa-ketawa senang.

Namun, tidak semua pertemuan diisi kuis remeh-temeh semacam itu. Sesekali, kami mengisinya dengan acara yang lebih serius seperti pengenalan Jurnalisme Sastrawi yang dilakukan kawan saya, Janet Steele dari George Washington University, atau diskusi penulisan yang lain.

Setelah penyuntingan tahap pertama selesai, saya mengopernya ke Sulak. Dengan alasan tak mau mengganggu penyuntingan yang sudah saya lakukan, ia menyunting dengan cara yang orisinil sekaligus ruwet. Ia menyunting dari belakang. Saya tak tahu apakah metodanya ini bisa dipraktekkan orang lain. Pastinya, penyuntingan gaya atret ini memakan waktu lama sehingga anak-anak Bengkel berteriak lagi dan berencana membuat gerakan FB agar Sulak segera menyelesaikan penyuntingannya. Mungkin, karena khawatir bakal tambah populer, ia akhirnya beralih ke penyuntingan yang lumrah-lumrah saja. Dalam penyuntingan tahap kedua ini, Sulak juga mengubah beberapa pembukaan dan memperketat bagian-bagian longgar yang luput dari penyuntingan tahap pertama karena saya kadung kenyang mengunyah Lenka.

Setelah Sulak selesai, saya memeriksanya sekali lagi, dan hasilnya adalah buku yang sekarang ada di tangan pembaca. Kalau ada yang menghibur dari Lenka, itu adalah hasil kerja bersama, utamanya 17 orang yang bersedia memberi ruang kepada gagasan teman-temannya agar tulisan mereka semakin kaya. Setiap bab dalam Lenka digarap oleh seorang atau dua orang penulis, tapi gagasan yang ada di dalamnya adalah sumbangan semua yang terlibat. Adapun, kalau Lenka tak berhasil mencapai kualitas yang diharapkan, atau malah membuat pembaca gusar, itu benar-benar karena keteledoran saya dan Sulak sebagai penyunting.

Senyampang Lenka disunting, beberapa anak Bengkel sudah berhasil menerbitkan karya mereka, baik berupa cerpen maupun novel. Di luar penulisan, ada yang berhasil lulus kuliah, ada yang memutuskan berhenti kuliah, ada yang pindah pekerjaan, ada yang menikah, ada yang punya bayi lagi, dan ada pula yang kehilangan anggota keluarga. Perjalanan panjang Lenka sarat dengan cerita sampingan yang kelak mungkin menarik untuk ditulis tersendiri.

Tentang nama Sarekat Penulis Kuping Hitam, ada sedikit cerita. Sekian puluh tahun yang lalu ada Barisan Pelawak Kuping Hitam yang anggotanya antara lain Basiyo, Jony Gudel, dan Atmonadi. Mereka lucu dan pintar sekali. Kami berdua sangat kagum kepada mereka. Kami menganggap anak-anak Bengkel pintar dan lucu sehingga pengadopsian nama itu kok rasanya enak. Kuping juga mengisyaratkan tindakan menyimak sementara warna hitam adalah lambang kesaktian. Tentu saja, penamaan ini semena-mena. Tapi, apa boleh buat, ini konsekuensi tak terhindarkan belajar kepada sepasang pendusta seperti kami. Lagi pula, kapan pun mereka bisa menyempal dari barisan dan mendirikan panji mereka sendiri. Dan, itu akan menjadi hari yang membahagiakan bagi kami berdua.

Yusi Avianto Pareanom