Pemberi Peringatan


Ia meman­dan­gku sendu.
“Papa mama ngga mau den­gerin,” ucap­nya.
Aku men­gang­guk. Telah kuli­hat sendiri usa­hanya: mulai mem­inta, merengek, sam­pai mogok bicara. Namun orang­tu­anya tak bergem­ing. Mereka selalu mem­bu­juk, “Jan­gan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.”
Mungkin mereka men­gira Wulan kan­gen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beber­apa minggu pin­dah ke sini.
“Nanti malam pur­nama,” peringatku.
“Tak ada yang per­caya.”
Aku mende­sah. Wulan benar, tidak ada yang mem­per­cayai kami—anak-anak. Orang dewasa pasti menyangka ini khayalan.

Ten­gah malam­nya kuden­gar gemerisik. Tiga orang pria mema­suki rumah ini. Lalu, kuden­gar teri­akan dan rin­ti­han. Darah men­galir di lan­tai; usus ter­bu­rai dan Wulan telah terku­lai.
Aku menangis. Aku dan kelu­ar­gaku pun per­nah men­galaminya.
Para kani­bal itu selalu datang saat pur­nama ketu­juh. Dan kelu­arga Wulan, kelu­arga keem­pat yang telah kuberi peringatan.

****
Catatan:
Cerita ini diikutkan pada lomba FF dari Blog­fam. Info lengkap­nya dapat dil­i­hat disini: http://blogfam.com/wordpress/kabar-kabari/lomba-menulis-ultah-blogfam-ke-7

3 Comments

  • Dini Afiandri wrote:

    Bang, ini udah bagus.
    Aku barangkali bukan seo­rang ibu tapi aku tahu apa rasanya kelu­arga ter­ban­tai.
    Salam saja untuk anakmu. Dari kapan tahu sudah kusadari itu, bahwa setiap tetes darah yang menetes harus dihar­gai juga, layaknya orang mere­gang nyawa di era Syailendra.

    Semoga harimu cerah ceria,
    Dini. A

  • mailindra wrote:

    He..he..
    Ter­ima kasih, Din.

  • Desire Purify Loki wrote:

    Sama-sama, pemi­lik marga terk­eren sedunia. :)

Leave a Reply

Your email is never shared.Required fields are marked *