Agar tidak kelelap dalam kebosanan (serta jadi punya bahan untuk posting), aku ganti tampilan blog ini.

Ganti Tampilan Blog

Sepetinya karena bosan meli­hat tampi­lan gambar–sebagian besar meru­pakan iklan–yang wara-wiri memenuhi ruang interne,t aku jadi merasa blog ini tampil mem­bosankan. Mungkin juga karena sete­lah dipelo­toti lama, isi blog ini tidak juga bertam­bah, dan itu mem­buat kebosanan tiba-tiba meluap sam­pai ke kepala. Agar tidak kele­lap dalam kebosanan (serta jadi punya bahan untuk post­ing), aku ganti tampi­lan blog ini.

Dan ini­lah yang akul lakukan,
. Hal per­tama yang aku singkirkan dari blog ini adalah gambar-gambar di sisi kiri. Meski memang dimak­sud­kan untuk mengik­lankan bukuku, entah men­gapa aku kurang sreg.

Kedua, aku men­cari theme word­press yang mem­beri fokus kepada tulisan atau teks. Bukankah blog ini berjudul lab menulis? Jadi sudah sewa­jarnya kali­mat dan kata-kata punya tem­pat yang lebih ter­hor­mat.
Apa komen­tar kalian?


[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Salju Terakhir

Maaf kawan, cerita ini diha­pus untuk diter­bitkan dalam ben­tuk buku. Infor­masi ten­tang bukunya segera menyusul, ya. Ter­ima kasih.


Ngamen Gratis

Tukang nga­men bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Kadang tanpa aba-aba mereka lang­sung melan­tunkan lagu. Tapi tak jarang juga mereka men­gawali per­tun­jukan­nya den­gan seribu basa-basi. Kau tidak bisa mence­gah mereka. Tapi entah kau menikmati atau tidak sajian mereka, kau punya kendali untuk memu­tuskan akan ‘mem­ba­yar’ atau tidak. Kalau kau kebe­tu­lan naik bis di Jakarta,


Memanfaatkan Kesalahpahaman

Kelu­cuan bisa datang dari kesalah­pa­haman. Jika berun­tung kita bisa tertawa karena kesalah­pa­haman, entah terse­bab salah den­gar atau salah mengerti. Karena dia akrab dan seper­tinya per­nah dirasakan semua orang, kesalah­pa­haman bisa dijadikan salah satu teknik dalam cerita untuk men­go­cok perut pem­baca atau penon­ton. Saya menga­mati salah satu pola menarik dari teknik ini adalah meman­faatkan kesalah­pa­haman tokoh


Haru Berbuah Buku

Jadi, haru juga bisa menelurkan novel. Ini­lah yang ter­jadi den­gan buku ked­u­aku, novel Lenka, yang kutulis den­gan penuh haru (ini maksa, biar gaya) bersama teman-teman Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesen­ian Jakarta angkatan 2008 dan 2009. Versi pen­gala­manku mungkin akan kutilis kapan-kapan, namun untuk saat ini bolehlah kawan sekalian mem­baca catatan di bawah ini. Catatan ini


Menulis Itu Gampang?

Menulis itu gam­pang! Setiap kali aku mem­baca tulisan di face­book ataupun blog yang men­jan­jikan bahwa menulis itu gam­pang selalu saja jadi tak tahan untuk komen­tar, bohong! Bohong itu kalau ada yang bilang menulis itu gam­pang. Menulis yang aku mak­sud tentu saja mem­buat cerita fiksi, entah itu cer­pen ataupun novel. Jadi, apakah menu­rutku menulis fiksi itu


Pemberi Peringatan

Ia meman­dan­gku sendu. “Papa mama ngga mau den­gerin,” ucap­nya. Aku men­gang­guk. Telah kuli­hat sendiri usa­hanya: mulai mem­inta, merengek, sam­pai mogok bicara. Namun orang­tu­anya tak bergem­ing. Mereka selalu mem­bu­juk, “Jan­gan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.” Mungkin mereka men­gira Wulan kan­gen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beber­apa minggu pin­dah ke sini. “Nanti malam pur­nama,” peringatku. “Tak


Nulis di mana pun

Cang­gih! Begitu komen­tarku per­tama kali men­cobanya. Masih belum begitu nya­man sih. key­board vir­tual ini masih buat aku kagok. tapi ntar juga ter­biasa. Word­Press for android sen­jata baruku. Harus­nya sekarang ngga ada alasan lagi buat ngga nge­blog. Yah semoga aja. Oh ya, 2 hari lalu dapat info ada lomba nulis flash fic­tion dari komu­ni­tas blog­fam. Mak­si­mal


Bersama Lebih Seru

Judul tulisan ini ter­den­gar seperti iklan, ya. Tapi swer, ini bukan iklan. Tidak juga suatu bujukan apalagi hasu­tan. Kalau ngga per­caya sih, ngga apa-apa. Aku ngga maksa. Kau bisa mem­ban­tah­nya nanti, sete­lah mem­baca keselu­ruhan tulisan ini. Sumpah, aku tak keber­atan. Entahlah den­ganmu, tapi aku memang merasa kalau menger­jakan sesu­atu beramai-ramai terasa lebih seru. Ya, aku


Kekuatan Komunitas

Penulis man­a­pun pasti ingin karyanya dibaca banyak orang. Aku yakin seyakin yakin­nya, seba­gian besar malah nge­bet agar karyanya bisa dibukukan. Namun jalan ke sana tidak­lah gam­pang. Sam­pai sekarang, belum satu pun nov­elku yang berhasil diter­bitkan. Peno­lakan sudah banyak, tapi belum sam­pai sepu­luh kali (katanya sih harus coba pal­ing tidak sam­pai dito­lak 150 kali, duhhh). Mengikuti polaku