Buku Kedua

LENKA

Buku Pertama

Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010

Ngamen Gratis

Tukang ngamen bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Kadang tanpa aba-aba mereka langsung melantunkan lagu. Tapi tak jarang juga mereka mengawali pertunjukannya dengan seribu basa-basi. Kau tidak bisa mencegah mereka. Tapi entah kau menikmati atau tidak sajian mereka, kau punya kendali untuk memutuskan akan ‘membayar’ atau tidak.

Kalau kau kebetulan naik bis di Jakarta, ada saja pedagang kaki lima yang tiba-tiba naik lalu meletakkan satu atau dua barang dagangannya ke pangkuanmu sebelum kemudian ‘berkhotbah’ dan merayumu untuk membeli. Entah kau suka dengan barang itu atau tidak, kau pun punya kendali sepenuhnya atas transaksi dengan mereka. Kau bisa mengintip, mencium, dan meraba bagian mana pun dari barang yang ditawarkan tersebut namun akhirnya memutuskan untuk tidak membeli.
Continue reading Ngamen Gratis

Memanfaatkan Kesalahpahaman

Kelucuan bisa datang dari kesalahpahaman. Jika beruntung kita bisa tertawa karena kesalahpahaman, entah tersebab salah dengar atau salah mengerti. Karena dia akrab dan sepertinya pernah dirasakan semua orang, kesalahpahaman bisa dijadikan salah satu teknik dalam cerita untuk mengocok perut pembaca atau penonton.

Saya mengamati salah satu pola menarik dari teknik ini adalah memanfaatkan kesalahpahaman tokoh atau karakter dalam cerita. Idenya sederhana saja: kalau tokoh dalam cerita bisa terkecoh, maka besar kemungkinan pemirsa pun akan mengalami hal yang sama. Dengan ‘gocekan’ yang lihai –tentu saja dengan tidak meremehkan kemampuan logika pembaca atau penonton—disusul ‘tendangan’ pada posisi dan waktu yang tepat, teknik ini bisa menggetarkan syaraf tertawa.

Berikut ini cerita yang saya ingat berhasil mengecohku:
Continue reading Memanfaatkan Kesalahpahaman

Haru Berbuah Buku

Novel LenkaJadi, haru juga bisa menelurkan novel. Inilah yang terjadi dengan buku keduaku, novel Lenka, yang kutulis dengan penuh haru (ini maksa, biar gaya) bersama teman-teman Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta angkatan 2008 dan 2009. Versi pengalamanku mungkin akan kutilis kapan-kapan, namun untuk saat ini bolehlah kawan sekalian membaca catatan di bawah ini. Catatan ini dibuat oleh Yusi A Pareanom–guruku sekaligus editor novel Lenka.
Continue reading Haru Berbuah Buku

Menulis Itu Gampang?


Menulis itu gampang!
Setiap kali aku membaca tulisan di facebook ataupun blog yang menjanjikan bahwa menulis itu gampang selalu saja jadi tak tahan untuk komentar, bohong!
Bohong itu kalau ada yang bilang menulis itu gampang. Menulis yang aku maksud tentu saja membuat cerita fiksi, entah itu cerpen ataupun novel.

Jadi, apakah menurutku menulis fiksi itu sulit?
Memikirkan pertanyaan itu ternyata lebih mencerahkan daripada memikirkan jawabannya.
Itu terjadi karena kejadian seminggu ini. Seminggu ini aku belajar tentang investasi saham dan juga bermain rubik. Untuk investasi tentu saja targetku berani berinvestasi dan untung. Untuk rubik aku ingin bisa memecahkan persoalan rubik hingga 20 detik.
Segera saja aku dibanjiri dengan segala teori. Dan setelah seminggu, baru rubik yang aku bisa. Itupun dengan catatan waktu yang cukup lama–lima menit ke atas.

Aku ingat-ingat lagi tentang segala pengetahuan yang pernah aku pelajari. Belajar naik sepeda, renang, membuat program komputer, belajar bahasa Jerman. Ternyata semuanya tidak gampang. Apakah sulit? Ya, pada saat belajar tentu saja aku akan mengatakan hal itu sulit. Susah, puyeng, tapi juga mengasikkan. Hanya karena keinginan besarlah aku terus bertahan dan menolak menyerah sampai mereka bisa aku kuasai. Kupikir hal ini juga terjadi pada orang lain.

Kesimpulannya, belajar menulis itu tidak lebih sulit dari mempelajari skill lain. Tentu saja pada saat mempelajarinya kadang tergoda untuk menyerah. Seperti saat mempelajari sebuah bahasa. Semuanya tergantung seberapa besar niat untuk menaklukkan tantangan itu.

Menulis pun seperti ini. Tergantung seberapa besar tekad untuk menaklukkan. Jadi, apakah menulis sebuah novel pantas untuk ditaklukkan?

Note: image diambil dari http://yourenglishlessons.files.wordpress.com/2009/12/essay-writing.jpg

Pemberi Peringatan


Ia memandangku sendu.
“Papa mama ngga mau dengerin,” ucapnya.
Aku mengangguk. Telah kulihat sendiri usahanya: mulai meminta, merengek, sampai mogok bicara. Namun orangtuanya tak bergeming. Mereka selalu membujuk, “Jangan takut, Sayang. Nanti kau juga betah.”
Mungkin mereka mengira Wulan kangen teman-temannya. Wajar, mereka memang baru beberapa minggu pindah ke sini.
“Nanti malam purnama,” peringatku.
“Tak ada yang percaya.”
Aku mendesah. Wulan benar, tidak ada yang mempercayai kami—anak-anak. Orang dewasa pasti menyangka ini khayalan.

Tengah malamnya kudengar gemerisik. Tiga orang pria memasuki rumah ini. Lalu, kudengar teriakan dan rintihan. Darah mengalir di lantai; usus terburai dan Wulan telah terkulai.
Aku menangis. Aku dan keluargaku pun pernah mengalaminya.
Para kanibal itu selalu datang saat purnama ketujuh. Dan keluarga Wulan, keluarga keempat yang telah kuberi peringatan.

****
Catatan:
Cerita ini diikutkan pada lomba FF dari Blogfam. Info lengkapnya dapat dilihat disini: http://blogfam.com/wordpress/kabar-kabari/lomba-menulis-ultah-blogfam-ke-7

Nulis di mana pun

Canggih! Begitu komentarku pertama kali mencobanya. Masih belum begitu nyaman sih. keyboard virtual ini masih buat aku kagok. tapi ntar juga terbiasa.

WordPress for android senjata baruku. Harusnya sekarang ngga ada alasan lagi buat ngga ngeblog. Yah semoga aja.

Oh ya, 2 hari lalu dapat info ada lomba nulis flash fiction dari komunitas blogfam. Maksimal 126 kata dan temanya horor atau misteri. Rencananya pengen ikutan. Idenya udah ada tapi baru bisa dipajang ntar tanggal 5 Desember 2010.
So, stay tune di sini.

Bersama Lebih Seru

Judul tulisan ini terdengar seperti iklan, ya.
Tapi swer, ini bukan iklan. Tidak juga suatu bujukan apalagi hasutan. Kalau ngga percaya sih, ngga apa-apa. Aku ngga maksa. Kau bisa membantahnya nanti, setelah membaca keseluruhan tulisan ini. Sumpah, aku tak keberatan.

Entahlah denganmu, tapi aku memang merasa kalau mengerjakan sesuatu beramai-ramai terasa lebih seru. Ya, aku tahu, tak semua hal bisa dikerjakan bersama-sama. Seperti buang air besar. Sebaiknya tak kau lakukan bersama konco-koncomu. Eh, tapi kalau dicoba mungkin seru juga.

Menulis, maksudku menulis sebuah buku, normalnya dikerjakan sendiri. Penulis akan menyendiri, merenung, bermimpi dan menuangkannya dalam tulisan. Setelah jadi, barulah karya tersebut dipamerkan ke beberapa orang untuk dimintai pendapatnya. Setelah puas, si penulis tadi akan kembali menyendiri dan memoles karyanya.

Beberapa waktu lalu aku dapat kesempatan untuk menggarap novel bareng beberapa teman. Plot ceritanya sudah ada. Masing-masing penulis sudah dapat bagian bab yang harus digarap. Berhubung ini karya kolaborasi maka ada beberapa karakter yang harus ditulis oleh beberapa orang. Dan, berhubung kami punya latar belakang yang berbeda, pekerjaan sehari-hari yang berbeda, juga gaya menulis yang berbeda, maka terjadilah hal yang ajaib. Karakter/tokoh dalam cerita jadi tidak konsisten kepribadiannya. Kadang terlihat bodoh, tapi di bagian lain tokoh tersebut tampak bijaksana. Kadang terlihat anggun namun oleh penulis lain digambarkan centil. Dan seterusnya. Ketika saling mengoreksi, kau bisa tebak yang terjadi. Perdebatan seru!

Untunglah semuanya berakhir baik karena kami punya orang yang dituakan. Guru yang pengetahuannya melebihi yang lain. Singkat kata, untung saja kami diberi kebebasan terpimpin. Bebas, tapi kalau sudah mentok harus ada yang ketok palu biar semua nurut. Kalau masih belum nurut sepertinya harus ketok kepala.

Setelah melewati semua itu, dengan segala perbedaan, kami jadi lebih saling menghargai. Aku misalnya, suka menulis dengan gaya bahasa yang lugas. Tapi sekarang jadi ingin juga belajar gaya menulis yang berbunga-bunga–puitis.
Bersama, beragam, emang lebih seru!

Kekuatan Komunitas

komunitas
Penulis manapun pasti ingin karyanya dibaca banyak orang. Aku yakin seyakin yakinnya, sebagian besar malah ngebet agar karyanya bisa dibukukan. Namun jalan ke sana tidaklah gampang.

Sampai sekarang, belum satu pun novelku yang berhasil diterbitkan. Penolakan sudah banyak, tapi belum sampai sepuluh kali (katanya sih harus coba paling tidak sampai ditolak 150 kali, duhhh).

Mengikuti polaku berkarir sebagai software developer, aku pun bergabung di beberapa komunitas. Jangan tanya komunitas apa, tentu saja menulis. Harus pasang kuping dan sigap mengambil kesempatan yang mungkin muncul. Dan benar, alhamdulillah, insyaAllah tahun ini 2 karyaku akan diterbitkan.

Yang pertama, sebuah novel kolaborasi dengan teman-teman dari Bengkel Novel DKJ. Ngga tanggung-tanggung novel ini digarap belasan orang. Aku dapat bagian menggarap 4 bab. Ceritanya sangat seru dan proses menggarapkan tak kalah serunya.
Kedua, kumpulan cerpen fantasi hasil lomba Fantasi Fiesta 2010. Ada 20 cerpen karya 20 penulis di sana. Cerpenku ikutan nyelip di antologi tersebut.

Ternyata slogan ‘bersama kita pasti bisa’ manjur untukku. Komunitas menulis jadi pintu buat karyaku diterima penerbit.

Latihan: Menulis Karakter

Dua minggu yang lalu kebagian tugas untuk menulis karakter. Tugas ini adalah bentuk latihan untuk menggambarkan sebuah tokoh. Aku dapat jatah untuk menggambarkan nasib tragis seorang pengrajin perak. Susah juga ternyata. Berikut hasil yang berhasil aku buat.
Continue reading Latihan: Menulis Karakter

Latihan: From Abstract To Concrete 1

bruceleeBelajar menulis fiksi, seperti halnya mempelajari skill yang lain, seharusnya memerlukan latihan rutin.
Hasil yang bagus didapat dari latihan yang keras. Semakin bagus hasilnya, pasti semakin keras latihan yang telah dilakukan pemiliknya.
Tidak percaya? lihat saja latihan para atlet.

Dalam mengasah kemampuannya, para atlit melakukan sejumlah latihan dasar bertahap.
Misalnya beladiri: ada latihan pukulan, tendangan dan seterusnya.
Lalu tenis lapangan: ada latihan forehand, backhand, poly, service, dan seterusnya.
Mereka lakukan itu semuanya sebelum masuk ke tahap latihan tanding.

Belajar menulis seharusnya juga demikian, ada dasar-dasar yang harus dilatih.
Dalam satu sesi pelajaran di Bengkel Penulisan DKJ 2009, mentor kami memperkenalkan kami dengan latihan mengkonkretkan konsep abstrak.
Menurutnya, konsep abstrak seperti cinta, benci, dendam, marah, iri, dengki, jika dimasukkan dalam deskripsi cerita akan membuat cerita menjadi samar dan menjemukan. Lebih jauh, penulis yang membuatnya bisa di golongkan penulis yang malas.
Fiksi, menurutnya adalah bersifat konkret. Fiksi tidak menceritakan tentang cinta, tapi menceritakan tentang tindakan-tindakan orang jatuh cinta, putus cinta, dan lain-lainnya.

Continue reading Latihan: From Abstract To Concrete 1